
Malam hari, Terlihat Taxi berhenti di depan kediaman Angga. Selang beberapa detik, Marsya keluar dari mobil. Matanya terlihat sebam dan dia terlihat sangat kacau. Dengan tubuh yang tak bersemangat, Marsya membuka pintu utama. Lalu masuk dan duduk di ruang keluarga. Menyandarkan tubuhnya di sofa, memejamkan mata dan mulai menangis tersedu seduh.
"Sya, kamu kenapa?" tanya Ansel yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar.
Marsya tak mau membuka matanya. Menurutnya, apa yang baru saja ia dengar hanyalah ilusi semata. Setahu Marsya, Ansel sudah pergi ke Amerika.
"Sya, kenapa kamu menangis?" tanya Ansel lagi. Ansel bingung melihat istrinya tak bersemangat hidup.
"Apa Momy meniru suara Ansel" gumam Marsya sesegukan tanpa membuka matanya. "Momy, jangan takuti aku. Aku takut pada hantu. Aku mohon, tolong jangan takuti aku. Aku tidak bermaksud membuat Ansel sedih, aku hanya bimbang dengan perasaanku" ujarnya sesenggukan.
Ansel tersenyum mendengarnya. Ia berencana untuk mengerjai istrinya. Dengan langkah pelan, Ansel berjalan menekan sakral lampu.
"Ibu... Ayah... aku takut!! Momy, aku mohon, tolong jangan takuti aku" pinta Marsya. Ia memeluk kedua lututnya dengan tubuh yang terlihat gemetar.
Ansel merasa kasihan melihat istrinya yang kini ketakutan. Saat ia hendak melangkah menghampiri istrinya, ia melihat cahaya putih berdiri tak jauh dari Marsya. Tiba tiba terdengar suara wanita, yang tak lain adalah Kaira.
"Marsya, Momy datang untuk menyapamu. Apa kamu takut? Jangan takut Sayang. Maafkan Momy yang datang di waktu yang tidak tepat. Momy ingin mengucapkan terima kasih untuk kasih Sayang yang kamu berikan pada putra Momy. Jaga dia dengan baik, Nak. Momy titip Ansel padamu sayang"
Cahaya putih perlahan memudar. Ansel dan Marsya merinding mendengar suara itu. Dengan segera Ansel menghidupkan saklar lampu kemudian menghampiri istrinya yang mulai berkeringat dingin.
"Marsya" Ansel memegang kedua pipi Marsya yang begitu pucat. "Sya, maafkan aku" ungkap Ansel lalu memeluk istrinya. Marsya tak bergeming. Ia terlihat seperti mayat hidup. Ini kali pertama ia mendengar suara orang yang sudah meninggal.
"Marsya, buka matamu Sya" pinta Ansel. Ia menepun nepuk kedua pipi istrinya.
Marsya membuka matanya pelan, seketika air matanya kembali menetes. "Ansel" gumam Marsya tak percaya. "Kaukah ini?" tanyanya memastikan.
"Iya Sya, ini aku" balas Ansel sembari menyeka air mata istrinya.
"Jangan pergi" pinta Marsya. Matanya mulai terlihat cipit akibat kebayakan menangis.
"Pergi? Pergi ke mana?" tanya Ansel tak paham.
"Jangan pergi ke Amerika. Dan jangan ceraikan aku" pinta Marsya terisak.
__ADS_1
Ansel tersenyum lalu memeluk erat istrinya. "Aku tidak akan menceraikan kamu atau pun pergi ke Amerika" ungkap Ansel seraya mengelus kepala istrinya.
"Hiks... hiks... hiks... aku mencarimu di Bandara tapi kamu tidak ada. Aku mengira kamu sudah pergi ke Amerika" ujar Marsya dengan isak tangis yang tak kunjung berhenti.
"Kamu ke Bandara?" tanya Ansel, ia memegang kedua pundak istrinya, menatap lekat manik mata sang istri.
Marsya mengangguk. "Kata Kak Deva dan Kak Vano, kamu akan pergi ke Amerika, melanjutkan study di sana. Dan pekan depannya kamu akan datang untuk mengurus surat perceraian kita" jelas Marsya.
"Awalnya memang begitu, tapi bukan untuk melanjutkan study. Aku ke Amerika untuk meeting dengan klien yang di sana" jelas Ansel tersenyum.
"Apa!!" Marsya yang tadinya sedih kembali menggeram kuat. "Jadi kak Deva membohongiku!" sambungnya ketus. "Lihat saja nanti, jika aku bertemu dengan mereka berdua! Aku pastikan kaki dan mulut mereka akan aku potong" kata Marsya mengepal tangannya.
"Aku berpihak pada Deva dan Vano. Berkat mereka berdua, aku bisa tahu bahwa kamu mencariku di Bandara hanya untuk memintaku tidak pergi. Dan yang lebih membahagiakan lagi, kamu datang untuk memintaku agar tidak menceraikanmu" kata Ansel tersenyum lebar.
Ansel meraih kedua tangan Marsya, matanya menatap lekat manik mata sang istri. "Sya, aku tidak perduli bagaimana perasaanmu padaku. Yang mau aku katakan adalah, terima kasih. Terima kasih karena kamu sudah mau hidup bersamaku untuk selamanya" ungkap Ansel serius.
"Aku ingin mengatakan sesuatu tapi aku malu" ujar Marsya malu-malu.
"Sya, cepat mandi. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" titah Ansel .
Marsya tersenyum, ia berlari masuk ke dalam kamar. "Yes...!! Akhirnya jalan-jalan lagi" sorak Marsya sembari membuka baju yang ia kenakan. Marsya berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, terdengar Marsya sedang menyanyikan lagu love story.
30 menit kemudian, Marsya keluar dari kamar. Ia berjalan menghampiri suaminya di sofa. "Ansel, apa kamu malu jika aku berpenampilan seperti ini?" tanya Marsya.
"Aku tidak malu tapi kamu ini perempuan. Apa kamu tidak bisa berpenampilan seperti perempuan" balas Ansel.
Marsya menghela napas kasar. "Baiklah, tunggu aku ganti baju" kata Marsya. 5 menit kemudian, Marsya kembali keluar.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Marsya lagi.
__ADS_1
"Cantik, tapi apa kamu tidak punya baju wanita yang elegan?" tanya Ansel lagi.
Marsya mendengus kesal. Ia membalikan badan lalu masuk ke dalam kamar. 6 menit kemudian, ia keluar dengan penampilan yang berbeda.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Marsya lagi dan lagi.
"Ayo" ajak Ansel. Ia menggenggam tangan istrinya. Keduanya berjalan masuk ke dalam mobil menuju tempat yang sudah Ansel siapkan. Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di tempat yang akan mereka datangi.
Ristorante A Mano
Kini, Ansel dan Marsya sedang berada di A Mano. Ansel sudah menyiapkan makan malam yang lezat untuk istrinya. Saat mereka sedang duduk, terdengar alunan music the beatles.
"Sya, ayo makan. Sejak pagi tadi aku belum makan" ungkap Ansel.
"Apa! Kamu belum makan?" Marsya membulatkan matanya.
"Iya, aku ingin makan bersama kamu" goda Ansel.
Ansel dan Marsya pun memulai makan malam bersama. Setelah selesai, Ansel membawa istrinya disebuah ruangan yang di mana di penuhi lilin yang didekorasi dengan model love.
"Ansel, ini apa?" tanya Marsya tak percaya.
"Sya, jika dulu kita menikah karena kesalahan. Maka malam ini juga, aku ingin melamarmu karena cinta. Sya, mauka kamu menjadi pendamping hidupku?" ungkap Ansel sembari menyerahkan satu cincin emas.
Marsya meneteskan air mata haru. "Aku mau" balasnya tersenyum.
Ansel berdiri memeluk istrinya. "I Love you" kata Ansel.
"I Love you to" balas Marsya.
Usai makan malam dan melamar kembali sang istri, Ansel membawa Marsya jalan-jalan di tempat lain. Ansel berjanji akan menjaga dan membahagiakan Marsya. Menjadikannya wanita satu-satunya dalam hidupnya. Begitu juga Marsya, wanita itu berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi istri yang baik untuk Ansel.
__ADS_1