Nikah Muda

Nikah Muda
ATC. Season 2. Ep 28


__ADS_3

Ansel terdiam sejenak saat mendengar kalimat balasan dari istrinya. Benar apa yang dikatakan Marsya, dia memang bodoh tapi dia pandai menjaga diri. "Dan aku sangat bahagia bisa menikahimu. Menikah dengan wanita yang menghargai dirinya sendiri" batin Ansel.


"Sya, setelah makan ikut aku ke kamar, ada yang mau aku bicarakan denganmu" kata Ansel tanpa menatap Marsya.


"Apa itu penting?" tanya Marsya.


"Kamu akan tahu penting dan tidaknya saat kamu sudah mendengarnya" balas Ansel.


Jawaban Ansel membuat Marsya penasaran. Dengan segera, ia menghabiskan makanannya. Saat keduanya selesai makan, Ansel mengangkat piring kotor lalu membawanya ke westafel cuci piring.


"Biar aku yang mencuci piring, sekarang kamu ke kamar lalu mandi" titah Marsya. Ansel mengangguk paham dan melangkah menuju kamar.


"Marsya!!" teriak Ansel dari kamar.


Marsya berlari masuk ke dalam. "Kamu kenapa?" tanya Marsya saat berada di dalam kamar.


"Sya, aku mau mandi air hangat" rengek Ansel di dalam kamar mandi.


"Lalu apa urusannya denganku!!" balas Marsya geram.


"Sya, aku tidak minta hak yang lain. Aku hanya minta kamu perduli padaku, salah satunya menyiapkan air hangat untuk aku mandi" jelas Ansel.


Marsya menghela napas panjang, ia sadar dengan statusnya. "Tunggu sebentar" kata Marsya. Marsya berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, terlihat Ansel sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar mandi.


"Enak sekali hidupnya" gumam Marsya pelan lalu menyiapkan air hangat.


"Ansel, air hangatnya sudah siap!" panggil Marsya.


Ansel beranjak dari sofa berjalan menghampiri istrinya. "Sya, bantu aku mandi" pintah Ansel dengan manja, ia mengerucutkan bibir menatap istrinya.


Setiap kali melihat Ansel bermanja, Marsya selalu tertawa. Dan kali ini, Marsya kembali tertawa melihat raut wajah Ansel yang menggemaskan. "Cepat berendam, nanti aku bantu kamu mandi" titah Marsya.


Ansel tersenyum lebar lalu masuk ke dalam bathtub. "Sya, terima kasih" kata Ansel dengan mata terpejam.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Marsya sembari mengkramas rambut suaminya.


"Terima kasih untuk segalanya" balas Ansel.


Setelah selesai mengkramas rambut suaminya, Marsya memilih keluar dari dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, tinggalah Ansel yang sedang membasuh tubuhnya di bawah pancuran sower. Tak membutuhkan waktu lama, Ansel keluar dari dalam.


"Sya, sekarang kamu mandi" titah Ansel.


Marsya beranjak dari tempat tidur. Dengan sifat jahil yang tidak pernah hilang, Marsya menarik handuk suaminya lalu lari ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Marsya!!" pekik Ansel dengan geram.


"Hahahahaha" tawa Marsya pecah. Ia membayangkan bagaimana raut wajah Ansel saat marah.


------


Marsya dan Ansel sedang duduk di balkon rumah yang berada di kamar mereka. "Sya, maafkan aku. Selama kita menikah, aku belum pernah membelikan kamu pakaian atau barang lainnya. Dan sekarang, aku belum memberimu apa-apa" ujar Ansel.


Marsya yang saat itu sedang membaca buku, kembali menutup bukunya lalu menatap lekat wajah suaminya. "Aku tidak membutuhkan pakaian yang mahal, cukup kamu melengkapi persediaan dapur maka tugasmu sebagai suami sudah terlaksana" balas Marsya.


Ansel beranjak dari duduknya. Ia masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Ansel kembali keluar menghampiri istrinya.


"Sya, ini uang yang aku punya" kata Ansel sambil menyerahkan semua uang yang ia punya. Bahkan, kartu ATM pun ia serahkan pada Marsya.


"Loh, kenapa kamu memberikannya padaku?" tanya Marsya dengan bingung.


"Karena kamu istriku maka kamulah yang mengatur semua keuangan kita" balas Ansel.


Marsya tersenyum. Tanpa sadar, ia berhambur memeluk suaminya. Pelukan itu tak berlangsung lama saat Marsya menyadari sikapnya, dengan segera, Marsya menjauhkan dirinya dari suaminya.


"Kamu tidak perlu malu. Kamu berhak atas diriku" ujar Ansel menggoda.


"Jangan menggodaku!" ketus Marsya.


Ansel dan Marsya kembali mengerjakan tugas mereka. Tak membutuhkan waktu lama, Ansel selesai mengerjakan soal yang dberikan oleh guru mereka. Sedangkan Marsya, ia masih berkelut dengan soal yang ada di buku cetak yang ia pegang.


"Sya, apa kamu butuh bantuanku?" tanya Ansel dengan lembut.


Marsya meneteskan air mata. "Aku sudah berusaha tapi lagi lagi aku gagal" ujar Marsya sesegukan.


Ansel menyeka air mata istrinya. "Jangan menangis, ada aku yang siap membantumu" kata Ansel.


"Sekarang kamu baca soalnya" kata Ansel.


Marsya membuka buku cetaknya. Ia membaca soal dengan lancar. Namun, saat ia hendak menjelaskan, lidahnya seakan kaku. "Ansel, aku tidak bisa menjelaskannya" ujar Marsya menunduk.


Ansel mendekap kedua pipi istrinya. Sedangkan Marsya, ia mendongak menatap manik mata suaminya. "Jangan menyerah" kata Ansel. Ansel mengambil buku cetak miliknya.


"Sekarang kamu baca kembali soal nomor satu. Aku akan menjelaskan maksud dari soal tersebut" jelas Ansel.


Marsya kembali membaca soal nomor satu. Setelah selesai membaca, matanya tetap fokus pada soal nomor satu. Marsya mulai mendengarkan penjelasan dari suaminya. Saat Marsya merasa paham, ia mulai menjawab pertanyaan nomor satu dan jawabannya benar.


"Jawabanku benar!!" sorak Marsya dengan girang.

__ADS_1


"Sekarang kamu baca soal nomor dua lalu menjawabnya" titah Ansel lagi.


Marsya memejamkan mata, ia menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dengan usaha dan ketekunan, Marsya berhasil memaknai soal nomor dua tanpa bantuan suaminya. Nomor dua telah selesai, tak membutuhkan waktu lama, nomor tiga, empat dan lima pun selesai ia kerjakan.


"Ansel... aku berhasil!!" teriak Marsya dengan girang.


"Coba kamu baca jawabanku" pintah Marsya sembari menyerahkan buku cetak serta buku tugasnya.


Ansel tersenyum, ia mengambil buku tugas istrinya. Senyum terus terukir di wajahnya saat ia membaca jawaban istrinya. "Sangat sempurna" gumam Ansel.


"Benarkah! Semua jawabanku benar?" tanya Marsya memastikan.


Ansel mengangguk. "Jawabanmu benar" balas Ansel lalu mengelus kepala istrinya.


"Sya, ayo sini" Ansel meminta istrinya untuk duduk lebih dekat dengannya.


Marsya berpindah tempat duduk, ia duduk di samping suaminya. "Aku malu!" ujar Marsya dengan jujur lalu menutup matanya.


Ansel terkekeh. "Buka matamu" pintah Ansel.


"Tidak mau!" ketus Marsya.


"Sya, aku ingin bermanja" kata Ansel.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Marsya. Rasa malunya menghilang entah ke mana saat kata manja keluar dari mulut suaminya.


"Aku akan memberitahumu nanti. Ayo tidur," ajak Ansel. Ia menuntun istrinya ke kamar.


"Ansel, aku bisa sendiri!!" pekik Marsya saat Ansel menggendong Marsya.


"Jika kamu tidak ingin jatuh maka jangan memberontak" ujar Ansel tersenyum kecil. Dengan terpaksa Marsya menurut, membiarkan Ansel menggendongnya hingga ke kamar.


Ansel merebahkan Marsya di atas tempat tidur. "Tunggu aku di sini, aku mau ke kamar mandi sebentar" ujar Ansel lalu berjalan menuju kamar mandi. Tak membutuhkan waktu lama, Ansel keluar dari dalam dengan rambut basa yang acak acakan.


"Sya, tolong keringkan rambutku" pintah Ansel.


"Tadi sudah kramas, sekarang kramas lagi" gumam Marsya lirih. Marsya beranjak dari tempat tidur menghampiri suaminya yang tengah duduk di depan cermin.


"Apa Dady sering melakukan ini?" tanya Marsya menatap Ansel lewat cermin.


"Saat kami kecil, Dady selalu melakukan ini. Saat kami mulai tumbuh besar, Allini yang mengambil alih semua pekerjaan rumah" jelas Ansel.


"Sya, apa kamu menyesal menikah denganku?" tanya Ansel. Ia menatap Marsya lewat cermin.

__ADS_1


__ADS_2