Nikah Muda

Nikah Muda
TUJUH


__ADS_3

Terlalu cepat. Pernikahan itu dipercepat dan akan dilaksanakan besok. Aku belum melakukan ujian kenaikan kelas. Tapi kesepakatan ini berubah karena Om Bryan yang lagi-lagi masuk Rumah sakit dan harus di rawat.


Aku termenung di balkon kamar, menatap langit malam yang begitu terang. Terdiam sambil meresapi kenikmatan angin malam yang begitu menyejukkan.


Malam ini adalah malam terakhir, aku menjadi seorang gadis lajang dan Besok aku akan menyandang gelar sebagai istri dari guru matematika itu.


Terlalu asik bergelut dengan pikiran, tanpa sadar ternyata Mama sudah ada disamping mengelus rambutku. Beliau mengelusnya dengan lembut seolah-olah menyampaikan bahwa ia tidak bisa melepaskan ku.


Aku memeluk beliau dan menyenderkan kepalaku di pundaknya. "Ma," panggilku.


Mama hanya menatap seolah mempersilahkan aku untuk melanjutkan kalimatku.


"Malam ini biarin Arin tidur disamping Mama ya," pintaku. Beliau hanya mengangguk sambil tersenyum lembut.


***


Sudah menunjukkan pukul tiga pagi, tapi mata ini dan pikiran ini tidak berminat untuk relaksasi. Aku masih terjaga dan termenung dalam dekapan hangat Mama. Dekapan hangat seorang ibu yang tidak bisa sepenuhnya ikhlas melepas anak satu-satunya.


Saat mengatakan pernikahan ini aku dilaksanakan besok, Mama tidak terlalu banyak bicara. Beliau hanya terdiam, dan sesekali merespon lawan bicara dengan isyarat.


"Kamu kenapa belum tidur nak?" tanya Mama.


"Arin bingung Ma," balasku yang memeluk erat Mama.


"Bingung kenapa sayang? Tidak ada yang perlu kamu bingung dan khawatir kan. Hidup berjalan sesuai arus, jangan berusaha untuk memberontak atau kamu hanya akan kelelahan dan tenggelam dalam penyesalan," nasehat Mama.

__ADS_1


Aku tidak mengerti sepenuhnya dengan ucapan Mama. Yang tertangkap hanya bagian yang memiliki arti, bahwa aku harus hidup sesuai dengan apa yang terjadi.


"Tapi kenapa mama sama papa maksa Arin?"


Mama tersenyum lembut, mengusap rambut suraiku. "Dulu, kita adalah orang yang jauh dari kata berkecukupan. Begitu juga dengan keluarga om Bryan. Papa pernah kecelakaan dan membutuhkan biaya operasi yang cukup mahal. Tapi, Om Bryan yang dengan baik menjual tanahnya untuk papa. Beliau sudah seperti keluarga bagi kita, beliau juga menginginkan kita supaya menjadi ikatan keluarga yang sebenarnya. Mama juga ngga pengen kamu nikah muda, tapi percayalah sayang. Semoga ini menjadi yang terbaik buat kamu."


Aku terdiam, menahan buliran air mata yang siap terjun dengan bebas. Tidak ada alasan untuk menolak hal ini, beliau sudah banyak membantu. Apakah aku tidak bisa juga membalas kebaikan mereka.


Mama tersenyum, "Arin. Mama yakin kamu pasti bahagia bersama Bisma."


"Tapi kalau nanti Arin ngga bahagia sama Pak Bisma?"


"Kamu pulang tinggalkan dia," canda Mama.


***


"Arin bangun sayang," panggil Nita mengguncang pelan tubuh Putrinya.


Arin tak bergeming walau badannya sedikit diguncang oleh Sang Mama. ia masih setia terhanyut dalam dunia mimpinya.


"Arin. bangun sayang. Ini udah jam setengah tujuh pagi,"


Lagi-lagi Nita tidak mendapat respon dari sang Anak. Geram dengan Arin yang tak kunjung bangun, Nita mengambil segelas air yang berada di nakas kamar.


Byuurr....

__ADS_1


Arin terlonjak kaget. "Huh..Huh.." responnya yang seperti ikan koi mangap.


Nita yang melihat anaknya hanya tertawa kecil. "Bangun, mandi. Itu bajunya sudah Mama siapkan. Nanti mama yang akan make up-in kamu."


"Ma, Nanti ga ak--"


"Tidak. akadnya hanya dihadiri oleh beberapa saksi, sekiranya hanya Keluarga Om Bryan dan keluarga Kita," Potong Nita.


Nita Side Story.


Seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan seorang anaknya, tentu memiliki cinta dan kasih sayang yang tiada habisnya. Tak terkecuali dengan seorang anak perempuan yang telah dijaga dan dirawatnya hingga menjadi seorang perempuan yang terjaga, tentu saja seorang ibu sangat menyayangi puterinya. Ia yang pernah merasakan bagaimana menjadi seorang istri dan ibu, tentu menginginkan puterinya itu kelak menjadi istri dan ibu yang baik. Hingga jelang pernikahan pun ibu akan senantiasa memberi nasihat.


Hari ini, Arin sudah sah menjadi istri dari seseorang yang menjadi pilihan kami. Walau sedikit paksaan, kami sebagai orang tua berharap banyak bahwa ini akan menjadi yang terbaik.


Sebenarnya orang tua mana yang ikhlas sepenuhnya jika sang anak sudah dipinang oleh seseorang, begitu dengan diriku. Ada sedikit yang mengganjal jika melepaskannya pergi bersama seorang pria yang kini menjadi suaminya.


Sesungguhnya perasaan ini sama dengan yang ia rasakan, karena dia akan meninggalkan rumah orang tuanya, dan keluarga. dan perempuan selalu rindu kepada keluarga dan tempat ia dilahirkan, berkembang, besar dan menimba ilmu pengetahuan.


Akan tetapi sebagai seorang isteri ia harus kembali kepada kehidupan baru. Dia harus membangun hidupnya bersama laki-laki yang menjadi suami dan perlindungannya, serta bapak dari anak-anaknya.


Arin anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa depanmu. Inilah keluargamu, dimana engkau dan suamimu bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tannga.


Sesungguhnya aku tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku.


Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku memintamu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau bahagia dengan kehidupan barumu bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2