
Seminggu sudah Fahri di rawat di rumah sakit,dan selama itu juga kedekatan Fahri dan Sinta semakin dekat.Seperti sekarang ini,Fahri mulai uring-uringan menunggu kedatangan Sinta.Tapi Sampai sekarang Sinta tak kunjung datang walau hanya sekedar memeriksa dirinya.
Ada rindu yang mulai menyeruak masuk ke dalam palung hatinya, berkali-kali Fahri melihat ke arah pintu dan berharap Sinta tiba-tiba masuk dan menyapanya.
Fahri menghentak nafasnya kasar secara berkali-kali,dia bingung dengan perasaannya.Apa ini tandanya dia sudah mulai move on dan melupakan perasaan cintanya kepada Bella.Jika benar,boleh dia memiliki cintanya Sinta dan menjadikan nya yang terakhir untuknya.
Tok tok tok
Fahri tersenyum saat ada yang mengetuk pintunya dan berharap yang datang adalah Sinta,tapi yang datang menjenguknya bukanlah Sinta melainkan Dewi bawahnya.
"Permisi pak,boleh masuk..."tanya Dewi yang sudah membuka pintunya setengah.
"Boleh, masuklah.."suruh Fahri dan Dewi masuk setelah mendapat izin dari Fahri.
Dewi mengedarkan pandangannya dan ternyata Fahri sendirian.
"kok,sendiri Pak?"tanya Dewi sembari meletakan buah tangannya di atas nakas dan langsung duduk di kursi samping ranjang Fahri.
"Iya,Mama lagi ngurus administrasi."timpal Fahri sembari duduk bersandar di kepala ranjang.
"Sekarang gimana keadaannya?"tanya Dewi yang membantu meletakan bantal di belakang punggung Fahri.
"keadaanku sudah lebih baik."ungkap Fahri.
"Di kantor sepi,tidak ada pak Fahri dan nggak ada yang membuat hati saya cenat cenut."canda Dewi.
Fahri tersenyum menanggapi celotehan Dewi, sebenarnya Fahri tau kalau Dewi menyimpan perasaan suka padanya,tapi Fahri hanya menganggapnya sebatas teman tidak lebih dari itu.Memang urusan hati tidak bisa di paksakan seperti perasaan Bella terhadapnya ,yang tidak bisa di paksakan, meski sudah berbagai cara agar Bella membalas cintanya.
"Saya senang sekarang pak Fahri sudah lebih baik dan membuat hati saya lega,jujur semenjak kejadian dimana bapak menolong saya, saya merasa bersalah sebab gara-gara bapak menolong saya bapak harus di rawat di rumah sakit."terang Dewi.
"Tidak masalah,Wi dan lupakan.Ini semua murni kecelakaan dan bukan kelalaian kamu."ungkap Fahri seraya tersenyum tulus.
"Iya pak,tapi----"
"Permisi,apa saya ganggu..."seru Sinta berdiri di ambang pintu bersama suster Ana.
"Silahkan masuk,dok."pinta Fahri sembari tersenyum senang karena orang yang di nantikan datang.
__ADS_1
"Lagi ada tamu rupanya.."seru Sinta sembari mengeluarkan stetoskopnya dari saku jasnya.Sedangkan Dewi menyingkir memberi waktu untuk dokter memeriksa keadaan Fahri.
"Semuanya sudah bagus, kemungkinan bisa cepat pulang."ungkap Sinta sembari menyimpan stetoskopnya di saku jas putihnya.
Sinta tersenyum memandang Dewi,Sinta menelisik penampilan Dewi dari atas sampai bawah.Sinta merasa insecure melihat penampilan Dewi dan apa lagi Dewi memiliki body sintal.
"Kamu pacarnya Fahri?"tanya Sinta kepada Dewi tapi dengan cepat Fahri menyelanya.
"Dewi ini hanya bawahanku di kantor..."terang Fahri yang tak mau membuat salah faham di antara dirinya dan Sinta.
Seketika hati Dewi terasa di cubit,saat Fahri menganggapnya hanya sekedar bawahnya.Hati Dewi gamang melihat pandangan Fahri tak teralihkan dari wajah sang dokter.
"Kalau gitu saya permisi dulu,pak.Kebetulan saya ada urusan lagi."dusta Dewi sembari tersenyum getir.
"Oh..iya.Terima kasih sudah menjenguk saya,Wi.."tukas Fahri tersenyum simpul.
"Iya, pak.Semoga lekas sembuh dan bisa kembali ke bekerja di kantor."sambung Dewi sembari melangkah menjauh dari hadapan Fahri dan Sinta.
Tidak ada alasan buat Dewi berlama-lama berada di sana,sedangkan orang yang dia cintai tak membalas cintanya.
"Dok,saya keluar terlebih dulu.."tukas suster Ana.
seperginya Ana,Sinta juga akan pergi juga tapi di cegat oleh Fahri.
"Aku keluar dulu,masih ada beberapa pasien yang belum saya periksa."seloroh Sinta.
"Tunggu.."cegat Fahri seraya menahan pergelangan tangan Sinta.
"Iya, kenapa?"tanya Sinta.
"Kapan aku keluar dari rumah sakit?"tanya balik Fahri yang memandang wajah cantik Sinta
"Mungkin besok,karena harus ada satu pemeriksaan lagi."jelas Sinta.
"Apa ada lagi yang mau di omongin."seru Sinta.
"Ada..setelah aku keluar dari rumah sakit,apa kamu mau jalan sama aku."ungkap Fahri ragu.
__ADS_1
Sinta yang mendapat pertanyaan itu hanya diam dan bingung mau mengatakan apa?
"Emang kamu serius mau ajak aku jalan?" tanya Sinta dan di balas anggukan kepala Fahri sembari tersenyum manis kepadanya.
"Jadi gimana?bisa dan ada waktu nggak?"sambung Fahri.
"Baiklah,aku terima ajakan kamu untuk jalan dan aku tunggu kamu di rumah jika kamu sudah keluar dari rumah sakit ini."terang Sinta.
"Pasti aku akan datang menjemput kamu di rumah dan kamu juga harus dandan yang cantik."ujar Fahri yang terus memandangi Sinta.
Jleb
Hati Sinta terasa banyak kupu-kupu terbang di hatinya saat Fahri bilang harus berdandan cantik hanya untuk dirinya.
Sinta hanya mengangguk lalu gegas keluar dari ruang rawat Fahri dengan jantungnya yang bertalu-talu.Sesampainya di luar dan menutup daun pintu,Sinta langsung menyenderkan tubuhnya di tembok seraya memegang dadanya yang bertalu-talu.
Huft...
Sinta menghembuskan nafas pelan berusaha menenangkan hatinya yang teramat bahagia.Sinta kembali melanjutkan langkahnya dengan senyum terus mengembang.Hingga tiba di ruang kerjanya dan Sinta duduk di kursinya sembari tersenyum bahagia.
"Cie...ada yang sedang jatuh cinta,nih..."goda suster Ana.
"Apaan sih,pengen tau aja urusan orang..."tukas Sinta seraya melemparkan lipatan kertas ke arah Ana.
"Nggak kena..."ledek suster Ana yang terkiki-kikik melihat Sinta yang salah tingkah.
Jatuh cinta
Berjuta rasanya
Ada rasa rindu
Bila tak jumpa dengannya
Dendang suster Ana,sedangkan Sinta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum terus terpatri di wajahnya.
_____
__ADS_1
Terima kasih sudah masih mau membaca cerita receh ini dan jangan lupa beri like.
Salam sayang 😘😘