
Bella terbangun karena mendengar suara riuh, pandangan Bella tertuju kepada kedua buah hatinya yang kini tengah di gendong oleh kedua neneknya. Senyuman kedua nenek baru itu begitu bahagia, melihat cucunya yang begitu lucu dan menggemaskan.
" Sayang!," panggil Aditya lembut.
"By..."
"Kenapa?"
"Aku mau lihat kedua bayi kita."
"Kamu mau lihat, sayang."
Bella mengangguk, lalu Aditya mengambil bayinya yang berada di gendongan Mama Dina. Bayi pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki.
Aditya menyerahkan bayi pertamanya kepada Bella. Bella tersenyum merekah melihat bayinya tengah tersenyum dan menggeliat di pangkuannya.
" Dia sangat tampan kan, sayang?" tanya Aditya yang ikut memandangi bayi laki-lakinya. Lalu Bunda mendekat, Aditya mengambil bayi yang tengah di gendong oleh Bella. Bunda menyerahkan bayi keduanya yang berjenis kelamin perempuan. Bella menerima bayi keduanya dengan rasa haru, Senyum Bella terus mengembang melihat putrinya yang sangat menggemaskan lalu Bella menciumi pipi bayi perempuannya itu. Tidak lama bayi yang di gendong oleh Aditya mulai merengek dan menangis, membuat kembaranya juga ikut menangis dalam gendongan Bella.
" Bun..." Panik Bella melihat kedua bayinya menangis saling bersamaan, bahkan tangisannya saling bersahutan.
Bunda tersenyum, berusaha menenangkan Bella agar tak panik.
"Kamu susui si cantik ini, kalau Baby boy biar Bunda kasih susu formula," ucap Bunda lembut.
Dengan sedikit canggung, Bella mengeluarkan salah satu gunung kembarnya dan mendekatkan ke mulut Bayinya. Bayi cantik itu langsung menyesap ASI dengan sangat kuat, sedangkan bayi tampannya harus sabar menunggu karena harus di buat terlebih dahulu.
Selesai membuat susu formula, Bunda menyerahkan kepada Aditya. Baby boy yang memang sudah tidak sabar langsung menyedot susu formula dengan kuat.
" Oh iya, nama bayi kalian siapa namanya?" tanya Mama Dina sembari memandangi kedua cucunya.
"Biar Adit saja yang kasih tahu," sahut Bella.
"Kalau yang jagoan namanya Dafansyah Saputra dan yang cantik ini Difania Saputri," jawab Aditya.
Kini kedua bayi kembar itu terlelap karena kenyang, Aditya memindahkan Baby Dafa ke dalam boks bayi, begitupun Baby Difa. Bella dan Aditya saling memandangi kedua bayinya yang tengah tertidur di boks bayi. Aditya menautkan jemarinya ke jemari Bella dan mencium tangan Bella.
"Terima kasih, sayang. Sudah mau berjuang melahirkan kedua anakku. Aku semakin mencintaimu." tutur Aditya dengan pandangan teduh.
"Itu sudah jadi kewajibanku sebagai seorang istri, dan Hubby tak perlu berterima kasih. Rasanya sangat menyenangkan menjadi Ibu baru dan pastinya rumah tangga kita semakin lengkap dengan kehadiran Baby Twins."
"Tetap saja, aku harus mengucapkannya. Aku janji akan menjaga kalian bertiga dan aku juga akan berusaha membahagiakan kalian bertiga. Karena mulai sekarang bukan hanya kamu nafasku tapi juga kedua anak kita." Aditya lalu mencium kening Bella dengan Sayang, Bella memejamkan matanya meresapi setiap ciuman sayang Aditya kepadanya.
__ADS_1
"Mana cucuku..." ujar Papa Surya yang baru tiba di ruang rawat Bella, saat mendengar kabar Bella sudah melahirkan Papa Surya langsung terbang ke Jakarta. Tadinya Papa Surya akan pulang ke Jakarta setelah bertemu dengan rekan kerjanya yang ada di Bali dan Aditya memilih pulang lebih dulu karena pembukaan cabang baru sudah selesai.
"Tuh, lagi tidur di dalam boksnya," sahut Mama Dina sambil menunjuk menggunakan dagunya.
Papa Surya langsung berjalan mendekati boks bayi, Papa Surya mengangkat Baby Difa yang tengah tertidur itu.
Papa Surya terus memandangi cucunya dan menciumi seluruh wajah Baby Difa, sehingga membuat Baby Difa menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya.
"Dia bangun, Ma!" seru Papa Surya melihat cucunya terbangun. Senyum Papa Surya semakin mengembang dan merasa gemas melihat cucu perempuannya.
"Lihat, Ma. Dia tersenyum kepada Papa." Papa Surya benar-benar sangat bahagia.
"Yang cantik ini, siapa namanya?" tanya Papa Surya kepada Aditya.
"Yang Perempuan namanya Difania Saputri dan kalau yang laki-laki namanya Dafansyah Saputra," sahut Aditya bangga.
"Nama yang bagus. Hai Difa...perkenalkan ini grandpa," ujar Papa Surya dengan mata yang berbinar.
Lalu pandangan Papa Surya teralihkan ke Baby Dafa yang berada di dalam boks bayi, Papa Surya akan meletakkan kembali Baby Difa.
"Pa, siniin Baby Difa-nya," pinta Bella sembari mengangkat kedua tangannya.
Papa Surya lalu memberikan Baby Difa ke Bella, setelah itu Papa Surya mengangkat Baby Dafa.
"Bella..." seru Sinta di balik pintu. Sinta masuk dan melangkah cepat mendekati Bella lalu memeluk Bella.
"Selamat ya... akhirnya Sekarang kamu bisa merasakan jadi seorang Ibu muda," ujar Sinta seraya tersenyum.
"Iya, kak. Bella sangat bahagia bisa jadi seorang Ibu." Balas Bella.
"Eh, ini bayinya?" tanya Sinta.
"Iyalah, masa bayi kalian," cetus Aditya.
"Wah...yang ini perempuan ya?"
"Iya, Kak."
"Namanya?
"Yang ini Baby Difa dan yang di gendong Papa Baby Dafa," sambung Bella.
__ADS_1
"Ah...jadi pengen." Sinta menggoyangkan bahunya karena gemas melihat Baby Difa yang anteng dalam gendongan Bella.
" Setiap malam kita juga buat..." celetuk Fahri yang tengah berdiri di samping Papa Surya sembari mengelus pipi Baby Dafa.
"Harus lebih giat lagi ," timpal Papa Surya.
"Giat, Pa. Nggak pernah putus," sambung Fahri.
***
Bella sudah di izinkan pulang oleh dokter, saat sudah tiba di rumahnya. Bella di sambut oleh kerabat dekat Bella dan Aditya, bahkan si Mbah dan Abah juga ikut menyambut Bella, Aditya dan yang paling di nanti adalah si kembar Baby Dafa dan Baby Difa.
Si Mbah dan Abah berbinar melihat kedua cicitnya berada di pangkuan Bella dan Aditya. Bahkan si Mbah sampai menitikkan air matanya, sekarang cucunya sudah memberikan sepasang cicit untuknya.
Ditengah kebahagiaan yang semua orang rasakan, tiba-tiba Sinta pingsan membuat Semuanya panik. Fahri langsung mengangkat tubuh Sinta ke kamar dan merebahkan tubuh Sinta di kasur.
" Sayang, bangun..." ujar Fahri sembari mendekatkan minyak angin ke hidung Sinta.
Sinta mengerjapkan matanya, menyimpit karena bias cahaya lampu. " Kamu sakit?" tanya Fahri.
Sinta menggelengkan kepalanya, " Apa kecapean?" Fahri bertanya lagi. Dan lagi-lagi Sinta menggelengkan kepalanya.
Sinta duduk dan merogoh ke saku celananya, mengeluarkan benda kecil berbentuk pipi panjang dan memberikan kepada Fahri. Fahri menerima benda kecil itu lalu menautkan kedua alisnya memandang benda kecil itu bergantian memandang wajah Sinta.
"Ini maksudnya apa?" tanya Fahri.
Mama Dina yang penasaran langsung merebut benda itu dari tangan Fahri dan melihat benda kecil itu. Mama Dina menutup mulutnya dan seketika meneteskan air matanya.
"Sayang, kamu hamil!!" Ucap Mama Dina.
"Iya, Ma," sahut Sinta.
Fahri yang dari tadi diam saja langsung memeluk Sinta dengan rasa haru yang menyeruak ke relung hatinya. Ini adalah kado terindah yang Tuhan berikan, Fahri menciumi seluruh wajah Sinta dengan penuh cinta.
Hari ini bukan hanya milik Aditya saja yang berbahagia atas kelahiran sang buah hatinya,tapi juga untuk Fahri yang akan menjadi seorang ayah baru. Lengkap sudah kebahagiaan yang di rasakan oleh kedua keluarga ini. Apa lagi Mama Dina begitu sangat-sangat bahagia. Di dalam hidupnya ini adalah hari yang paling membahagiakan.
Tamat
____
Terima kasih yang sudah mengikuti cerita ini, walau ceritanya kurang menarik. Ambilah segi positifnya di cerita ini dan buang yang negatifnya.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel baruku yang berjudul Poor Child : AISYAH, sudah 17 Chapter dan aku tunggu ya.
Salam sayang 😘😘