
"Saya bilang, saya ngga butuh tumpangan dari bapak!"
"Saya tidak peduli, Masuk."
"Saya ngga mau! Maksa banget sih!"
Bisma keluar dari mobilnya. Menarik Arin yang tidak mau masuk ke dalam mobilnya.
"Saya ngga mau!" Arin kembali menarik paksa tangannya.
"Lagian bapak kenapa sih! Saya ngga setuju dengan perjodohan ini. Bapak juga ngga setujukan? Jadi ya udah. Tolong bantu saya batalin ini dengan cara apapun--"
"Saya tidak bisa menolak Arin," potong Bisma dengan tatapan serius.
"Ini tentang ayah saya."
"Tapi kan bapak bisa sama yang lain. Nikah sama pacar bapak kek," protesnya.
"Saya juga maunya gitu. Tapi orang tua saya memaksa untuk menikahi kamu. Lagian kamu masih kecil, Masa depan kamu masih panjang. Saya tidak mau menganggunya."
"Jadi saya harus gimana pak?"
"Terima perjodohan ini dan mulai untuk hidup terbiasa dengan saya."
Arin terdiam menatap Bisma tidak percaya, perjodohan ini terjadi karena dia yang tidak mau membantah. Bukan karena paksaan orangtuanya.
"Bapak egois!" Arin berlari meninggalkan Bisma.
"Maafkan saya Arin."
***
Aku berlari entah kemana. Muak, saat ini aku merasa muak dengan semuanya. Orang tuaku memaksa pernikahan ini, tapi orang tua pak Bisma tidak memaksanya. Aku rasa orang tua beliau lebih mementingkan bagaimana aku kedepannya, tapi orang tuaku seperti mengobralkan aku untuk orang yang telah berjasa dengan keluargaku. Pak Bisma, kalau beliau bisa saja menolak dengan keras, perjodohan ini sudah bisa berhenti sejak awal. Tapi ia seakan membebankan semuanya kepadaku, ia tidak mau menolak dengan alasan Ayahnya. Tapi om Bryan, ayah beliau tidak keberatan jika aku menolak.
Flashback on.
Selepas pulang dari Butik Arin hanya terdiam, bahkan sesekali Mamanya mengajak bicara ia hanya diam, terdiam dengan semua pikiran yang memenuhi isi kepalanya. Keluarganya ingin bicara setelah makan malam. Arin benar benar tidak siap jika apa yang ia pikirkan akan menjadi kenyataan.
Tok..Tok..Tok
Mama mengetuk pintu kamar Arin memanggil nama empunya kamar tersebut. "Sayang ayo keluar, kita makan malam dulu."
Beberapa menit setelah Mamanya memanggil Arin keluar dengan wajah yang tidak bisa ditebak, perasaannya seperti kecewa, kaget dan bingung. Itu membuat Mamanya sedih, ia belum mengetahui apa yang terjadi saja sudah seperti ini, bagaimana jika ia akan tau semuanya selepas makan malam nanti.
Arin pergi mendahului Mamanya yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya. Ketika sampai di ruang makan, Arin melihat Papanya yang tersenyum senang. "Ayo sini nak duduk disamping papa," Arin duduk disamping Papanya, masih dengan keadaan diam dan enggan berbicara.
Makan malam selesai, Papa dan Mama langsung mengajak Arin untuk duduk di Ruang keluarga.
Hening, Ruang tersebut benar-benar hening. Sampai akhirnya Papa Arin memecahkan keheningan dan mulai untuk bicara.
"Arin," panggil Papanya sambil menatap Arin lembut.
Tidak ada balasan, Arin hanya melihat Papanya tanpa menjawab beliau. Mama yang duduk disamping Arin berusaha untuk menggenggam tangan anak semata wayangnya mengelusnya agar Arin bisa Rileks dengan keadaan.
"Umur kamu sekarang sudah berapa nak?" Tanya Papa lembut. Masih sama tidak ada jawaban. Papa tersenyum lembut dan kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Anak Papa sudah besar, sudah dewasa sekarang,"
"Sekarang kamu sudah bisa menentukan pilihan kamu, kamu sudah bisa menentukan yang mana jalan terbaik untukmu dan yang mana jalan terburuk untukmu, tapi.. Papa dan Mama lebih menginginkan pilihan yang terbaik untukmu Nak, kami--"
"Bolehkah kami menjodohkan kamu dengan sosok yang menjadi pilihan kami nak?" Sambung Mamanya dan mengelus rambut panjang Arin dengan lembut.
Arin menatap Mamanya bingung, apa yang Arin duga duga terjadi. Ia benar benar akan dijodohkan seperti jaman Siti Nurbaya, apa yang membuat Mama dan Papanya memilih jalan ini, Arin memang sudah dewasa tapi bisakah ia tidak dijodohkan, ia ingin hidupnya bahagia bersama orang yang dipilih, bukan orang yang menjadi pilihan orang tuanya, ya walaupun dulu Arin sempat mengidam-idamkan perjodohan seperti cerita yang sering ia baca di novel novelnya. Tapi kini suasananya benar benar tidak ia idamkan. Bagaimana jika ia dijodohkan dengan orang yang memiliki penyakit? Atau Teman ayahnya? Atau Bahkan om om yang sudah tua dan belum menikah seperti dicerita, membayangkannya saja sudah membuat Arin bergedik ngeri.
'hoho ayolaah ini udah bukan jamannya dibodoh-bodohi' pikir Arin.
__ADS_1
"Memang benar ini terlalu dini untuk kamu, tapi tidak ada salahnya bukan? Dalam agama sudah diperbolehkan walau dalam hukum belum bisa di terima. Tapi Papa mau kamu menolong sosok yang meminta permintaan ini sayang,"
"Kamu ingat Om Brian?" Tanya Mama. Arin hanya menjawab dengan anggukan kecil.
"Sekarang beliau sedang sakit Sayang, beliau mengalami kanker otak stadium 4, Om Brian ingin melihat anak semata wayangnya menikah sebelum ia pergi dan beliau memilih kamu sebagai menantunya, Mama dan Papa tidak bisa menolak. Om Brian adalah orang yang sangat sangat berjasa dalam keluarga kita, keluarga mereka yang begitu baik sehingga Mama dan Papa tidak bisa melupakan jasa mereka."
Arin tahu keluarga Om Brian adalah keluarga yang sangat dermawan dan Baik. Arin juga tidak bisa melupakan segala kebaikan Om Brian pada dirinya.
"Kamu tidak boleh menolak Arin. Ingat pilihan kamu tidak boleh mengikuti keegoisan hati mu, ini demi kebaikan kita semua," ucap mama dengan nada yang begitu lembut.
Arin semakin dibuat bingung. Apa yang harus Arin pilih, memilih kebahagiaan dan menolak permintaan terakhir seseorang? Atau justru memilih menerima dan menjalankan semuanya dengan ikhlas?
Flashback off.
Baiklah, sudah cukup untuk mengingat semuanya. Saat ini aku tidak ingin kembali, aku ingin menginap sementara di rumah Anya.
Mama
Arin mau nginep dirumah Anya untuk malam ini ya Ma.
Selesai mengirimkan pesan. Aku langsung mematikan ponsel miliku. Agar orangtuaku tidak banyak bertanya dan berakhir membuat moodku kembali hancur.
Sudah cukup gelap, sepertinya akan hujan. Aku memperhatikan keadaan sekitar, tidak ada kendaraan umum. Aku juga malas untuk kembali menghidupkan ponselku.
"Jalan aja deh," gumamku.
Aku berjalan di trotoar jalan. Bersenandung kecil untuk membalikan moodku. Butuh waktu limas belas menit untuk berjalan kaki ke rumah Anya.
"Anya! Anya!" panggilku sesampainya didepan rumahnya.
Tidak ada suatan.
"AANYA!" teriakku yang mengguncang pagarnya kuat.
Tiba-tiba sosok gadis kucel keluar dengan Apron sebagai pembalut badannya.
"Ngapain lu kesini?" tanya Anya yang membukakan pagar.
"Mau numpang makan."
"Ngga nerima gelandangan."
"Bunda!" panggilku yang melihat Bunda Anya menghampiri kami.
"Loh ada Arin. Anya bukain pintunya. Ngga boleb gitu," tegur Bunda Anya.
"Iya-iya."
Anya membuka pagar memberi akses jalan untukku. "Makasih," ucapku berlalu menghampiri Bunda Anya.
***
"Lo lagi ada masalah?"
Aku sudah meminta izin untuk menginap di rumah Anya. Syukurlah Tante Linda -Bunda Anya- mengizinkannya.
"Ya gitu," jawabku yang tengah asik menonton film.
"Arin."
"Hm?"
"Gue- pengen ngajakin pak Bisma jalan. Kira-kira dia mau ngga ya?"
"Uhuk..uhukk.." aku tersedak Saliva ku sendiri mendengar apa yang barusan dibilang Anya.
__ADS_1
"Lo gapapa? Kok bisa keselek? Kan ngga makan apa-apa."
"Eng-engga. Tadi gimana-gimana maksudnya?"
"Itu---"
Aku menatap Anya yang tersipu-sipu malu. Wajahnya memerah, ia mengalihkan pandangannya dan memainkan jarinya.
"Gue rasa, udah saatnya stop buat main-main sama perasaan. Gue mau serius, dan gue pengen deketin pak Bisma,"
Ternyata Anya benar-benar akan serius dengan perasaannya. Aku mengira itu hanya kebiasaannya yang langsung mengagumi siapapun pria yang memiliki wajah tampan.
"Lo bakal bantuin gue kan Rin? Ya kan?" tanyanya yang menggoyang-goyangkan lenganku.
"Soal itu---"
Aku mengalihkan pandanganku, menatap ke arah lain. Mataku tidak bisa menatap mata berbinar Anya.
"Maaf, gu--gue ga bisa Nya. Soal itu-- karena gue,"
"Kenapa?"
"It-itu Gue sama pak Bisma bakal nikah," ucapku menutup mata dan menunduk.
"Ma-maksud lo apa rin?"
"Gue sama pak Bisma bakal nikah Nya! Bakal nikah!"
"Arin..." lirih Anya.
Anya berdiri, berjalan dan berhenti di ambang Pintu. "Gua pikir, lu sahabat yang baik. Ternyata lu ngga jauh dari seorang penghianat Rin,"
"Anya, gue ngga maksud. In-ini ini semua ka--"
"Ngga ada yang perlu dijelasin lagi Rin," Anya berlalu meninggalkan aku yang terdiam.
"ANYA!!!"
"Rin, Arin!" Panggil Anya yang membuyarkan lamunanku.
"Ha? Apa?"
Bodohnya, kenapa aku bisa berfikir terlalu jauh.
"Lo dengerkan yang gue bilang tadi?"
"Ya-yang mana?" tanyaku gugup.
"Soal tugas yang dikasih bu Layla,"
"Eh-- it--itu."
Anya menatapku bingung, "bukan itu maksud gue."
"Hm? Terus?"
"Jadi lo ngga dengerin gua dari tadi Rin?"
"De-dengerin kok,"
"Kalo iya apa?"
"Itu--" aku mengalihkan pandanganku untuk menghindari tatapan menuntutnya.
"Gue mau deketin pak Bisma. Lo bantuin ya?"
__ADS_1
"Ok-oke gue bakal bantuin."
Anya langsung memelukku, "Yeay. Makasih Arin."