Nikah Muda

Nikah Muda
Kontraksi


__ADS_3

Seminggu sudah Aditya berada di Bali. Rasa rindu pun semakin menggunung. Yang hanya bisa mereka lakukan untuk mengurangi rasa rindu, yaitu lewat telpon juga Vidio call. Seperti saat ini, Bella dan Aditya tengah menghabiskan malam minggunya lewat Vidio call.


"By, kapan pulang?"


"Aku juga belum tahu?, mudah-mudahan secepatnya pembukaan cabang barunya selesai."


"Aku sudah kangen banget,By...."


"Sama, aku juga kangen kamu sayang."


Begitulah obrolan mereka setiap harinya, saling mengungkapkan kerinduan yang menyesakkan dada. Selesai telpon dengan Aditya, Bella selalu menangisi Aditya yang tak kunjung pulang.


***


Bella terbangun saat merasakan ada tangan kekar yang melingkar di pinggangnya, Bella membalikan badannya dan terkejut melihat siapa pemilik tangan kekar tersebut dan ternyata itu Aditya.


"Hubby!, kapan datangnya?" tanya Bella.


"Tadi, jam empat pagi."


"Ih... kenapa semalam nggak bilang,." Rajuk Bella mencebikan bibirnya.


Aditya langsung mencium bibir ranum Bella, bibir yang selalu membuatnya candu.


" Inikan kejutan untukmu, sayang." Seraya mencubit pipi chubby Bella dengan gemas.


Bella langsung memeluk Aditya, rasa rindu yang selama ini di tahanannya hilang entah kemana. Berganti dengan kehangatan yang Aditya berikan.


Bella mendongakkan kepalanya, menatap wajah Aditya lalu tangan Bella mengelus rahang tegas Aditya. "Aku benar-benar nggak bisa jauh dari kamu, By."


Aditya meraih tangan Bella yang sedang mengelus pipinya, lalu membawanya ke bibirnya untuk di cium.


"Aku juga, sayang. Bahkan aku nggak bisa tidur dengan nyenyak karena gulingku tak ada di sampingku," ucap Aditya.


"Tapi, mulai sekarang kita harus terbiasa. Karena usaha Papa akan aku yang urus."


Bella mengangguk lemah, Bella kembali memeluk Aditya.


"Sayang!, si leher angsa merindukan kandangnya." Rayu Aditya.


"Bukalah kandangnya," sahut Bella yang kini sudang terlentang.


Aditya langsung mencium bibir Bella, dan bersiap berpeluh bersama Bella. Aditya terus mencumbui tubuh Bella memberi rangsangan agar Bella semakin bergelora dalam ber*cinta.


Selesai sesi ber*cinta mereka, Bella bangun dan tiba-tiba ada yang merembes dari bawah perut Bella.


"By!" pekik Bella.


"Kenapa?," sahut Aditya yang berada di atas ranjang.


"Aku ngompol, tapi ini ada sedikit darahnya, " seru Bella sembari melihat cairan yang keluar dari bawa perutnya.


Aditya segera bangun dan melihat secara langsung cairan itu keluar. Aditya yakin kalau cairan itu bukan pipisnya Bella, melainkan air ketuban.

__ADS_1


"Apa perut kamu sakit?" tanya Aditya dengan mimik serius.


Bella menggeleng, tapi seketika wajah Bella berubah meringis. Merasakan perutnya sakit.


"By, perutku sakit."


Aditya panik karena melihat wajah Bella yang meringis, Aditya melangkah cepat ke arah pintu dan akan membukanya.


"By..." teriak Bella menghentikan gerakan tangan Aditya yang akan menekan handle pintu.


"Kenapa sayang!, apa perutnya semakin sakit?" ucap Aditya semakin cemas.


"Sudah hilang sakitnya, dan kamu mau keluar dalam keadaan seperti itu," tukas Bella memandangi keseluruhan tubuh Aditya.


Aditya memandangi tubuhnya sendiri yang tak mengenakan sehelai benangpun dan menyengir kuda. " Aku lupa, Yang. Saking paniknya aku. Ayo kita bersihkan tubuh kita bersama, setelah itu kita harus ke rumah sakit."


Selesai dengan membersihkan diri, Bella tengah terduduk memegangi perutnya yang kembali sakit. "Perutnya sakit lagi?" tanya Aditya dan Bella mengangguk sambil meringis.


"Aku panggil Bunda dulu."


Segera Aditya melangkah cepat mencari Bunda di bawah. " Bun...." teriak Aditya di ujung tangga.


"Ada apa sih, Dit!. Pagi-pagi sudah teriak-teriak." Sungut Bunda.


"Bella Bun, Bella perutnya sudah kerasa sakit," cetus Aditya sembari menarik tangan Bunda Ratna.


" Bella sudah kontraksi?"


Dengan langkah cepat Bunda dan Aditya masuk ke kamar, Bella yang tengah berjalan bolak-balik terhenti karena Bunda dan Aditya sudah tiba di kamar.


"Bella, apa benar perutmu sudah kontraksi?"


"Iya, bahkan tadi air ketubannya sudah pecah."


"Ayo kita segera ke rumah sakit."


Aditya mengambil tas yang memang sudah di persiapkan jauh-jauh hari, dan membantu memapah Bella. Tangan Bella mencengkram kuat pergelangan Aditya saat rasa sakit itu muncul lagi.


"By..." lirih Bella.


"Iya sayang."


Aditya merengkuh tubuh Bella, memberi kekuatan agar Bella tetap kuat menahan rasa sakit yang kadang sakit dan menghilang.


"Ayo, sakitnya sudah hilang." Ajak Bella.


***


Tiba di rumah sakit, Bella langsung di bawa ke ruangan khusus dan di periksa untuk mengetahui sudah pembukaan berapa. Bella kembali meringis dan sekarang sakitnya lebih dari yang sebelumnya, Bella meremas tangan Aditya bila rasa sakit itu hadir lagi. Aditya hanya bisa menahan rasa sakit di tangannya karena remasan Bella sangatlah kuat.


" Sudah, pembukaan berapa Dok?" tanya Bunda.


"Sudah pembukaan lima," sahut Dokter.

__ADS_1


Dokter pun pamit dan pemesan jika kontraksinya sudah sering harus segera menghubunginya. Bella tidur miring menghadap ke kiri, agar proses bukaan cepat maju.


"Bun..." lirih Bella sambil meringis juga menitikkan air matanya.


"Iya, Nak. Kenapa?"


"Maafin Bella ya, Bun. Ternyata seperti ini rasanya akan melahirkan. Maafin Bella yang sering melawan dan juga sering nyakitin Bunda," ucap Bella seraya menangis.


"Iya, Nak." Bunda juga ikut meneteskan air matanya.


Bella meraih tangan Bunda dan mencium tangan Bunda. Bella kembali meringis dan rasa sakit di perutnya semakin sering.


"Bunda....kok sakitnya semakin sering." Bella meringis juga merintih bahkan keringat sebesar biji jagung terus bercucuran.


"Dit, panggil dokternya!".


Aditya segera memanggil Dokter, untuk memberi tahu keadaan Bella. Dokter, bidan dan suster berjalan cepat ke ruangan Bella berada. Bella kembali di cek untuk mengetahui pembukaannya.


"Sudah pembukaan sembilan. Ayo kita pindahin pasien ke ruang bersalin."


Bella naik ke kursi roda dan di dorong oleh suster. Aditya dan Bunda mengikutinya dari belakang. Tiba di ruang bersalin, Bella di pindahkan ke atas brankar sambil terus meringis.


"By....sakit," bisik Bella tengah kesakitanya.


"Kamu harus kuat, ingat sebentar lagi kita akan berjumpa dengan malaikat kecil kita," ucap Aditya lalu mencium kening Bella.


"Kamu harus kuat, aku akan selalu ada di samping kamu, sayang." Sambung Aditya.


"Siap ya Bu, pembukaannya sudah sempurna dan dengarkan instruksi dari saya," ucap Dokter.


Kini Bella mulai mengejan dan terus mengejan dengan sekuat yang dia mampu.


"Ayo sayang, kamu pasti bisa." Aditya terus memberi dukungan bahkan Aditya tidak peduli tangannya menjadi korban cengkraman Bella.


"Ayo, Bu. Terus dorong, kepalanya sudah mulai keluar."


Bella terengah-engah dan kembali mengejan dengar kuat.


"Eeeehhhh...." Bella mengejan dan Aditya pun ikut mengejan, seolah ikut membantu mendorong bayinya.


"Ayo, Bu, sedikit lagi." Desak Dokter.


Bella terus mengejan panjang dan tidak lama terdengar suara lengkingan bayi.


Oek...Oek...Oek


Bella terkulai lemas di atas kasur, sedangkan Aditya langsung bersujud setelah mendengar suara bayinya. Aditya tersenyum haru lalu mencium seluruh wajah Bella.


"Terima kasih, sayang. Kamu hebat," gumam Aditya di depan wajah Bella.


"By!!"


Bella kembali merasakan kontraksi dan Bella kembali mengejan, kali ini hanya dua kali Bella mengejan. Dan terdengar kembali tangisan bayi yang kedua.

__ADS_1


__ADS_2