Nikah Muda

Nikah Muda
SEMBILAN


__ADS_3

"Gabut~~~" racau Arin yang mencoba jungkir balik di atas sofa.


Arin, Pengantin baru yang merasa bebas setelah melepas status lajang. Tapi merasa kesepian karena harus bermain sendiri. Ia sedari tadi hanya duduk di sofa, mengganti siaran TV berharap ada film yang dapat menghidupkan suasana sepinya.


"Ku menangis~~"


Mendengar suara itu, Arin langsung tergesa-gesa menggambil posisi nyaman untuk menyaksikan tontonan kesukaannya. Walaupun ia selalu berfikir alur cerita ini selalu berujung sama dan yang membedakan hanya tokoh dan judulnya.


"****** BANGET SIH! UDAH TAU DISELINGKUHI SOK-SOK TEGAR!"


Arin melompat-lompat geram melihat alur cerita yang yang membuatnya ingin membanting tv-nya.


"NGGA NGOTAK BANGET SIH TUH COWO!! ALAH!! PALING UJUNG-UJUNGNYA NANTI KENA KARMA!!"


"APA-APAAN NIH?! NGGA KENA WOI!! KESEREMPET DOANG MANA BISA GEGER OTAK!"


"NAH KAH ******! KARMA IS REAL!"


"GOBLOG BANGET TUH CEWE!! UDAH DIKHIANATI SAMA SAHABAT SENDIRI, TERUS DICAMPAKIN SAMA SUAMINYA. MALAH NGASIH KESEMPATAN KEDUA!!"


"BERISIK!"


Arin menoleh menatap Bisma yang berada dibelakangnya. Ia menatap Bisma sekilas dan lanjut menyaksikan tontonannya.


"PENGEN BANTING SESUATU!!"


Arin berdiri mendekati Tv-nya, Bisma yang melihat gerak-gerik tak biasa berlari menahan Arin yang ternyata mau membanting tv-nya.


"Jangan dibanting. Belum lunas ini," gerutu Bisma. Arin mengabaikan Bisma, ia malah menarik paksa tv-nya.


"Saya ngga peduli pak, pokoknya harus ada yang saya banting."


Tarik-menarik antara mereka terjadi. Arin yang belum menyerah, masih berusaha untuk mengambil alih tv-nya. Lelah karena tidak dapat mengambil tv-nya, Arin melepaskan tarikannya dan mengambil remote tv yang ada di atas meja.


"Yang itu jangan dibanting juga!"


"Siapa yang mau banting sih pak."


Arin kembali duduk, mengambil toples yang berisi cemilan dan memangkunya.


"Tv-nya di taruh lagi pak. Saya mau nonton."


Bisma meletakkan tv-nya kembali. Firasat was-was untuk melepaskan barang-barangnya disentuh Arin benar-benar mengerikan.


Bisma ikut duduk disamping Arin, "Kamu mending belajar. Sebentar lagi ujian."


"Males pak."


"Kamu udah kelas 11 Arin, sebentar lagi bakal kelas 12."


"Yang bilang saya bakal kelas 21 siapa pak?"


"Menjawab terus," jawab Bisma memukul pelan kepala Arin.


"Saya bertanya pak. Bukan menjawab."


Bisma mengabaikan apa yang barusan dikatakan Arin. Berdebat dengan siswinya ini tidak akan pernah berakhir.


"Jawab dulu pertanyaan saya tempo hari pak. Baru saya belajar," ucap Arin menoleh menatap Bisma. sang lawan bicara hanya mengangkat alisnya.


"Bapak udah punya pacar?"

__ADS_1


"Untuk apa berta--"


"Sebenarnya saya yang ngga mau jawabannya. Tap demi salah-satu teman saya, ya udah deh."


Bisma terdiam, tidak menanggapi pembicaraan Arin. Kemudian ia berdiri


"Saya tidak punya pacar."


"Tapi saya punya istri." Bisma berlalu meninggalkan Arin yang tersedak salivanya sendiri.


***


Aku berlari menuju kamar pak Bisma. Hari ini, hari pertama aku kembali ke sekolah setelah menyandang status sebagai istri guru ku sendiri.


Tok! Tok! Tok!


"Pak Bisma! Ini udah jam 7 lewat!"


Tidak ada sautan. Aku masih dengan suasana hati yang tenang. tidak apa terlambat nanti aku bisa membuat alasan atas nama Pak Bisma, itu yang aku pikirkan.


Tok! Tok! Tok!


Namun, perasaan ini berubah menjadi cemas. Aku sudah mengetuk pintu kamar pak Bisma tapi tidak ada sautan.


"Buka aja kali ya?"


Tanpa berfikir panjang lagi, aku langsung membuka pintu kamar dan langsung terbelalak dengan pemandangan yang tidak aku duga.


"APAA?!"


Kamar pak Bisma sudah kosong dan sudah rapi. Sepertinya dia meninggalkanku, tapi kenapa pak Bisma tidak membangunkan ku.


"Hhhh.. hhatur nafas dhu..lu.."


Aku tiba di sekolah pukul delapan. Mencari kendaraan umum di hari senin, cukup merepotkan terlebih lagi macet membuat waktuku habis dan berujung Berlari-lari sepanjang trotoar, belum lagi aku tersandung kakiku sendiri.


"Pak Harto!"


Aku menggoyangkan pagarnya kuat,


memukul-mukul hingga membuat kebisingan. Pak Harto langsung berlari dari kejauhan, ia membukakan pagar dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihatku.


"Sudah jam berapa ini neng Arin?"


"Maaf pak. Saya minta maaf," aku menangkup tanganku memohon kepada pak Harto.


"Kali ini tolong saya ya pak, saya mohon."


Merasa iba dengan aku yang memohon dengan mata berkaca-kaca, pak Harto pasrah dan memberikan aku akses masuk.


"Makasih pak Makasih," ucapku sebelum berlari masuk ke aula.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


Suara itu, suara pak Bisma. Aku membuka pintunya perlahan, semua tatapan menuju ke arahku. Aku berlalu dengan santainya, tidak peduli orang yang sedang berada disekitarku.


"Ayrin Syalwa Kamila."


Langkah kakiku terhenti, saat suara baritone Pak Bisma memanggil namaku. Aku menoleh, menatapnya malas. Suasana kelas hening, tidak ada yang berbicara yang ada hanya tatapan mata yang menatapku.

__ADS_1


"Sudah-"


"Jam delapan. Saya terlambat karena saya harus mencari kendaraan umum dan mengalami macet di tengah perjalanan."


Aku menjawabnya tanpa menatap matanya. Tapi aku tau jelas reaksi yang ia berikan, seperti rasa bersalah dan enggan membahasnya lagi.


"Duduklah, kali ini saya maafkan."


Aku kembali berjalan, duduk dibangku dan menatap tajam ke arah semua mata. Moodku hancur, benar-benar hancur.


"Kenapa bisa telat?"


"Entahlah," jawabku tak acuh.


"Hmm Arin?"


Aku menoleh menatap Anya yang tampak ragu-ragu. "Apa?"


"Are you okey?"


Aku hanya membalasnya dengan jari yang membentuk 'ok'. Saat ini aku tidak fokus untuk belajar, lebih baik tadi tidak usah datang dan melanjutkan tidurku.


"Denger-denger katanya bu Susi udah melahirkan."


"Beneran?"


"Iya. Dan katanya bakal ada guru ganti. Gue berdoa semoga gurunya cowo, ganteng dan masih muda."


Telingaku tidak berminat untuk menguping pembicaraan teman di sampingku. Tapi, rasa penasaranku membuatnya bereaksi.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan itu mengalihkan seluruh perhatian kami. Pak Bisma yang semula menjelaskan materi langsung berhenti dan memperhatikan sosok yang akan muncul dari balik pintu. Semua murid seperti memasang ekspresi berharap, aku yang tidak mengetahui apapun ikut berharap juga.


"Ya, silahkan masuk."


Sosok yang dipersilahkan masuk itu mulai membuka pintunya perlahan, "apa benar ini 11 MIPA 9?"


"Iya benar."


Orang itu berjalan mendekati pak Bisma. Mereka berbicara dengan nada kecil, kami yang berusaha menguping tidak menangkap pembicaraan mereka.


"Oke semuanya," instruksi pak Bisma yang mengambil alih perhatian.


"Jadi, ini pak Raga. Beliau akan menjadi wali kelas kalian sementara, mengingat bahwa bu Susi sedang cuti melahirkan."


"Jadi.. bapak ganteng bakal jadi walas kami?"


Orang yang bernama Raga tari tersenyum lembut menanggapinya.


'GANTENG!'


Pak Raga, namanya sepertinya pelengkap dalam jiwaku. Ia benar-benar tampan, bahkan senyumnya bisa membuat moodku kembali. Aku menopang daguku diatas meja. Menatapnya intens tanpa sadar aku tersenyum sendiri.


"Lo suka?"


"Ap-apasih engga," jawab Arin mengalikan pandanganya.


"Tenang gue tetap pak Bisma kok. Kalo lo suka bakal gue bantu," tawar Anya.


Aku memperhatikan Anya yang mulai sedikit berubah. Biasanya jika ia melihat pria tampan, jiwa Fangirl nya tidak bisa di kondisikan. Tapi kali ini ia tampak biasa saja. Dia serius, dia pasti serius dengan perasaannya. Demi kebahagiaan seorang teman, Aku akan membantunya jika mereka berjodoh.

__ADS_1


__ADS_2