
Kringg....
Aku berusaha menjangkau jam weker yang ada di samping bantal ku dengan keadaan masih mengantuk. Tapi jam itu sulit untuk ku jangkau karena aku tidak tau pasti dimana posisinya. Aku duduk mengambil jam itu lalu mematikannya.
'Apa? Hari apa sekarang? Bukannya Minggu? Alarmkan cuma hidup pas waktu sekolah?'
Senin.
07.16
Ternyata hari ini hari senin, aku menghabiskan waktu untuk apa ketika hari minggu kemarin? Benar-benar kacau. Buru-buru aku berdiri untuk mandi, sepertinya tidak usah mandi. Tapi? Masa bodo dengan bau badanku, toh walaupun aku tidak mandi selama setahun aku akan tetap wangi. Yang terpenting menghindari hukuman hari ini, karena guru piketnya adalah Bisma Adirajada Argani.
***
"Pak, Gerbangnya jangan ditutup dulu!" Aku berbicara setengah teriak dan langsung lari. Tapi gerbangnya langsung ditutup oleh penjaganya.
"Pak, saya cuma telat 5 menit, izinin saya masuk ya pak. Please, paak.." mohonku pada pak Harto --Penjaga--.
"Maaf neng Ayrin, saya tidak bisa membukanya. Itu sudah peraturan sekolah," tegas pak Harto.
"Pak saya mohon sekali ini aja paak,"
"Ayrin Syalwa Kamila," panggil Pak Bisma yang berjalan ke arah gerbang.
'Kenapa setiap dia nyebutin nama lengkap aku malah bikin merinding.'
"Pak Bisma, saya boleh masukkan? Saya cuma telat 5 menit pak."
"Telat 5 menit?" tanya Pak Bisma.
Sepertinya Pak Bisma akan menolongku, dia benar-benar terlihat tampan dan baik hati jika seperti ini.
"Iya pak. Cuma 5 menit."
"Mau 1 menit 5 menit, kamu tetap terlambat. Itu sudah peraturan sekolah!" tegasnya.
"Pak Harto kunci saja. Jangan biarkan dia masuk sebelum upacara selesai," ucap Pak Bisma yang berlalu berjalan ke arah lapangan.
'Apaan sih sampis kadal'
"Nah neng. Kamu udah denger kan? Jadi tunggu saja sampai semua selesai,"
Aku duduk di depan pagar menatap orang yang terus berlalu lalang di jalan.
"Kirain mau nolong? Ga taunya."
Aku melempar batu krikil yang ada ditangan ku ke sembarang arah.
"Aww ..."
Suara seseorang, apa aku melemparnya. Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata dia adalah ketua osis yang menegur aku saat tidur di Rooftop.
Dia menghampiriku, "ah anu, sorry tadi saya ga sengaja kak." ucapku.
Dia hanya tersenyum dan mengembalikan batu krikil itu ke tanganku.
"Kamu kok ngga masuk?" tanyanya.
"Biasanya kalau siswa nunggu didepan pagar saat upacara berlangsung kenapa kak?"
"Hmm.. Karena lapangannya ga muat jadi mau ga mau sebagian diluar?"
Aku hanya tersenyum lebar melihat pernyataannya, kak Iqbaal benar-benar pintar. Sangat pintar sehingga aku ingin membuangnya ke selokan.
"Sebagian? Sekarang disini ada siapa kak?"
"Cuma kamu sama aku terus pak Harto." jawabnya.
"Hehe iya kak. Karena lapangannya ga muat, badan aku kan gede, makanya diasingkan sendiri." aku hanya terkekeh paksa melihat kepintaran kak Iqbaal.
__ADS_1
"Pak Harto, saya boleh masuk sekarang ga? Saya takut, kepintaran kak Iqbaal nular ke saya."
"Ya bagus dong neng," tutur pak Harto.
"Bagus apanya, bodoh iya." gumamku.
***
"Pegel-pegel, hiksss." keluh Arin pada Anya.
"Lu ngapain sih bisa sampe telat," tanya Anya yang dengan sukarela memijitkan Arin.
"Kemarin gue nonton drakor dikamar seharian, dan gue lupa gue kira itu cuma 2 jam doang. Ga taunya seharian," curhat Arin.
"Benar-benar dah lu,"
"Eh Arin! Lo tau ngga! Tadi itu sempat heboh! My honey bee sweety my lope lope berduaan bareng tuh nenek lampir!"
Anya memukul-mukul lengan Arin untuk meluapkan rasa kesalnya.
"Lu kenapa dah," protes Arin.
"Apaan nih, tiba-tiba feeling ingin tau gue langsung Stonk!"
Anya hanya memutar bola matanya malas, lalu duduk dengan serius.
"Pak Bisma, tadi pergi bareng Bu Ani, potek banget hati gue rin potek, keanya udah ga berbentuk lagi hati gue," ucap Anya menggoyang-goyangkan lengan Arin.
"Apasih Anya, pergi bareng doang lo udah potek gini. Gimana tuh bapak kalo kawin."
"APA?!"
Arin spontan menutup kedua telinganya, teriakan Anya menyita perhatian seisi kelas yang sedang jam kosong.
"Alay, skip!" Arin Langsung melipat kedua tangannya di atas meja dan bersiap untuk tidur.
"Arin gua serius,"
"Lagian lo kan cakep suka kok sama modelan bapak-bapak."
"Tapi yang ini bapaknya modelan limited edition, Arin!"
"Iya dah iya serah lo gua mau ke toilet." Arin berdiri dari tempat duduknya.
"Mau gue temenin?" tawar Anya.
"Ga usah, mending lo meratapi nasib aja disini," ucap Arin sambil berlalu keluar kelas.
***
"Gila banget yang kea gitu harusnya dimasukin ke rum--" gumam Arin terhenti ketika ia melihat Pak Bisma dan Bu Ani sedang berjalan berlawanan dengan ia. Arin yang melihatnya hanya tersenyum jahil dan berjalan terus.
"Pacaran diluar sekolah, jangan di sekolah. Ga baik ntar jadi contoh yang buruk buat siswanya," ucap Arin yang berlalu sambil berpura-pura fokus memainkan ponselnya.
Bisma dan Ani hanya terdiam dan canggung dengan suasana. Bisma yang sadar langsung menoleh ke arah Arin yang melambaikan tangannya dan mengejek Bisma.
Bisma hanya mengepalkan tangannya tanda geram. Lalu mencoba untuk mengembalikan suasana.
"Rasain tuh, pacaran kok di sekolah. Kena sindiran kan," ucap Arin senang.
"Arin," panggil Ryan saat Arin memasuki kelas.
"Eh ketua kelas, kenapa?" tanya Arin yang menghampiri Ryan.
"Ntar pulang sekolah sibuk ngga?"
Arin terdiam, dia memikirkan ada jadwal apa dia hari ini.
"Hmmm sebenarnya jadwal gue tuh sibuk setiap hari, sesudah pulang sekolah. Gue harus ganti baju, makan, trus nonton drakor sampe jam 3 pagi. Gua sibuk gimana dong?"
__ADS_1
"Rutinitas lo ga jelas, udah mending nanti temenin gue, mau minta tolong bolehkan? Gua teraktir deh."
"Bener?! Apa aja yang gue minta lo mau traktir?"
"Y-ya ga semuanya juga. Maksimal gue teraktir makan dah."
Arin tersenyum bahagia, jarang-jarang hangout pikirannya.
***
Disinilah Arin sekarang, disebuah cafe yang menyediakan beraneka ragam es krim. Ia kini tengah menikmati es krim gratisannya dengan damai.
"Arin?" panggil Ryan.
Arin menoleh sekilas, "kenapa?"
"It-itu," tunjuk Ryan dipipnya.
"Apa?"
Ryan mengambil selembar tisu, membersihkan noda es krim yang berlepotan dipipi Arin.
Ada yang merah tapi bukan tomat.
Ada yang panas tapi bukan api.
Ada yang malu tapi bukan Arin.
"Arin," panggil Ryan.
"Arin," panggilnya lagi yang tidak mendapat balasan.
"Rin. pipi lo merah," goda Ryan.
"Ap-- apansih engga. Ini gue pake blush on ma-makanya merah," ucap Arin beralasan dan memalingkan wajahnya dari Ryan.
Ryan terkekeh, "Perasaan lo ngga pernah deh pake pake yang gituan."
"Apaansih lo kayak merhatiin gue aja."
"Emang gue merhatiin lo kok, setiap hari selama 3 tahun. Tanpa tertinggal sehari pun."
Arin memperhatikan Ryan yang sedang memainkan ponselnya dengan seksama.
Deg...
'Ryan. Andai lo tau, kalau selama ini gue--'
"Udah mau sore nih. Ayo pulang, gue anterin. Ntar bonyok lo nyari lagi," ajak Ryan.
***
"Mau mampir dulu?" tawar Arin sesudah mereka sampai dirumahnya.
"Ga usah deh keburu malem," tolak Ryan yang langsung bersiap-siap pulang.
"Gua pulang ya, sampai ketemu besok disekolah."
Ryan pergi menghilang bersama dengan motornya yang ditelan oleh tikungan tajam. Arin hanya memandangi hingga sosok itu menghilang dari pandangannya.
Arin bergegas masuk ke dalam rumah dan Langsung disambut oleh sang Mama yang ternyata dari tadi memergokinya pulang bersama Laki-laki.
"Siapa kak?" tanya Mamanya.
"Temen," jawab Arin yang mengabaikan Mamanya lalu Langsung masuk ke dalam kamarnya.
Arin menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia termenung sesat mengingat apa yang dikatakan Ryan tadi.
"APASIH LU RYAN!" teriaknya yang menggema di seluruh ruang kamarnya.
__ADS_1
Arin mengigit bantalnya gemas. "Kyaaaa! Arin lo ngga boleh makin baper," ucapnya menenangkan diri.
"Dada gue sesek banget, berasa kayak mau nangis tapi bahagia tapi sedih."