
Dari arah gudang belakang terlihat Zaki, Manda, Allen, Mikaila dan juga Ebra terlihat mulai melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ke arah lorong yang dibicarakan oleh Zaki tadi. Sambil mulai melangkahkan kakinya mereka berlima nampak melihat ke arah sekitaran untuk memastikan kondisi sekitaran aman.
Ebra yang mengambil posisi paling belakang lantas sesekali membisikkan Allen sesuatu. Membuat Allen lantas menoleh ke arah Ebra selama beberapa kali berusaha untuk mendengar suara Ebra yang kecil tersebut.
"Apa kau yakin dengan dia Al? Seorang Zaki tiba-tiba berubah dalam sekejap, bukankah itu terkesan mustahil Al?" ucap Ebra dengan nada setengah berbisik namun sambil terus mengikuti langkah kaki Zaki yang memimpin di depan.
"Kita lihat dulu saja, lagi pula kita tidak akan tahu jika belum mencobanya." ucap Allen membalas perkataan Ebra barusan.
"Apa tidak sebaiknya kita mencari letak keberadaan bom tersebut dan mencoba untuk menjinakkannya saja? Dari pada harus mengikuti seseorang yang tidak kita percayai." ucap Ebra kemudian memberikan ide kepada Allen.
Allen yang mendengar perkataan Ebra barusan lantas langsung menghentikan langkah kakinya kemudian menatap Ebra dengan tatapan yang kesal.
"Apa kau tidak dengar jika ada sekitar 7 bom di letakkan secara acak di bangunan Sekolah ini, jika kita mencoba untuk mencarinya dan berhasil menjinakkan salah satu, apa kau pikir dengan begitu kita akan selamat? Tentu saja tidak? Sudahlah kita lihat saja dulu.. Jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan." ucap Allen kemudian yang langsung membuat Ebra terdiam dengan seketika.
Sedangkan Mikaila, Manda dan juga Zaki yang mendengar sebuah suara yang berasal dari keduanya lantas ikut menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah keduanya. Zaki yang yakin bahwa keduanya pasti tengah meributkan sesuatu lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Allen dan juga Ebra.
"Aku tahu kalian mungkin tidak akan langsung percaya kepada ku, tapi saat ini kita tidak punya pilihan lain lagi. Jadi aku harap kita sudahi kecurigaan kita dan cepat bergerak, aku punya firasat jika tempat ini akan di ledakkan tepat petang nanti dan aku harap sebelum itu kita semua sudah keluar dari sini." ucap Zaki dengan nada yang lebih lembut mulai memberikan pengertian kepada keduanya.
Mendengar penuturan dari Zaki barusan membuat Allen dan juga Ebra langsung menunduk dengan seketika seakan merasa tidak enak karena sudah tidak mempercayai Zaki sedari tadi.
__ADS_1
"Baiklah jika kalian berdua tidak ada lagi yang di tanyakan atau masalah lain sebaiknya kita segera bergerak sebelum petang." ucap Zaki lagi yang lantas di balas Allen dan juga Ebra dengan anggukan kepala.
Zaki yang melihat keduanya sudah setuju untuk kembali melanjutkan perjalanan, pada akhirnya mulai bergerak kembali menuju ke arah lorong yang di katakan oleh Zaki sedari tadi.
**
Area belakang sekolah yang berbatasan langsung dengan pagar tinggi nan menjulang, di sana terdapat beberapa bangku dan juga peralatan lainnya yang sudah tidak terpakai terlihat berserakan dan tak terurus. Zaki yang yakin pintu lorong tersebut berada di sekitaran sini lantas terlihat mulai menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah yang lainnya secara bergantian.
"Sepertinya pintu lorong bawah tanah tersebut berada di sekitar sini. Sebaiknya kita berpencar dan mencarinya di sekitaran sini, jika ada yang menemukannya jangan lupa untuk memberi kode." ucap Zaki kemudian memberi perintah yang langsung di balas lainnya dengan anggukan kepala.
Setelah mendengar perkataan dari Zaki barusan keempatnya kemudian langsung berpencar mencari keberadaan pintu yang dimaksud oleh Zaki barusan.
Mikaila yang melangkahkan kakinya melipir ke arah kiri untuk mencari pintu tersebut terlihat mulai mencari sambil sesekali menyingkirkan beberapa barang yang menghalangi jalannya. Keadaan area belakang sekolah yang penuh dengan beberapa bangku dan juga alat-alat kelas lantas membuat Mikaila kesulitan untuk mencarinya, belum lagi Zaki yang sama sekali tidak mengatakan spesifikasi dari pintu yang tengah di cari semua orang membuat segalanya semakin buram dan juga sulit.
"Sebenarnya di mana pintu itu? Mengapa sulit sekali menemukannya?" ucap Mikaila dengan kesal sambil berkacak pinggang menatap ke arah sekeliling.
Cukup lama Mikaila mencari dan terus mencari sampai pada akhirnya pandangannya terhenti pada sebuah papan kayu yang terletak di pojok area tersebut berdempetan langsung dengan gedung perpustakaan bagian belakang. Mikaila yang curiga akan papan kayu tersebut kemudian memanggil yang lainnya untuk ikut mendekat dan melihat papan kayu tersebut.
Baik Zaki, Manda, Allen dan juga Ebra nampak langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana papan kayu tersebut berada setelah mendengar panggilan dari Mikaila barusan.
__ADS_1
"Apa itu akses masuk ke dalam lorong yang bapak bicarakan?" tanya Mikaila kemudian sambil menunjuk ke arah bawah.
"Aku rasa seperti itu, kalian berdua carilah benda tajam di sekitar sini untuk membuka gemboknya." ucap Zaki kemudian yang langsung di balas Ebra dan juga Allen dengan anggukan kepala.
Mendapat perintah dari Zaki barusan membuat Allen dan juga Ebra langsung bergerak, sedangkan Zaki terlihat mengambil posisi berjongkok sambil berusaha untuk membuka papan kayu tersebut.
"Apakah ini bisa di gunakan?" ucap Ebra kemudian yang membawa sebuah tongkat besi panjang di susul dengan Allen yang juga membawa batu berukuran besar.
"Kita coba saja." jawab Zaki sambil mengambil tongkat besi pemberian Ebra sedangkan Allen meletakkan batu yang ia bawa tepat di sebelah Zaki.
Zaki memasukkan tongkat tersebut ke sela-sela rantai yang yang mengikat gagang bukaan pintu tersebut.
"Kita tarik sama-sama, oke? Dan kau timpa rantai ini dengan kuat agar ia sedikit terbuka, apa kau bisa Al?" ucap Zaki memberikan aba-aba yang di balas keempatnya dengan anggukan kepala.
Dalam hitungan ketiga keempatnya lantas mulai melakukan segala hal sesuai dengan arahan Zaki. Butuh waktu hampir setengah jam untuk membuka kuncian tersebut hingga membuat kelimanya banjir keringat. Sampai pada akhirnya setelah memerlukan kerja sama di antara mereka berlima papan kayu tersebut berhasil di buka sehingga langsung membuat senyuman yang lebar terlukis dengan jelas di wajah mereka masing-masing.
Zaki yang melihat papan kayu tersebut sudah mulai terbuka lantas mulai memerintahkan untuk masuk secara satu persatu dan segera pergi dari sini.
"Ayo kalian bertiga masuk lah lebih dahulu, ikuti alur lorong ini maka kalian akan menemukan pintu keluar tepat di tengah hutan nantinya." ucap Zaki kemudian yang lantas membuat mereka semua yang mendengarkan hal tersebut tentu saja terkejut bukan main.
__ADS_1
"Bukankah bapak juga ikut? Mengapa bapak mengatakan seakan-akan hanya kami yang pergi?" ucap Mikaila kemudian.
Bersambung