
Setelah mencuri dengar perkataan Rahmat dan juga lainnya yang telah memasang bom di penjuru sekolahan, baik Zaki maupun Manda lantas terlihat melangkahkan kakinya menjauh dari ruang guru. Manda yang merasa ini sudah kelewatan kemudian nampak menghentikan langkah kakinya ketika keduanya sampai di lorong gudang sekolah yang terbengkalai.
Zaki yang mengetahui Manda menghentikan langkah kakinya lantas kembali mencoba menarik tangan Manda dan mengajaknya untuk segera bergegas pergi meninggalkan tempat ini. Namun Manda malah tetap terdiam dan tidak mau bergerak.
"Ayo apa lagi yang kamu tunggu? Kita harus segera pergi dari sini!" ajak Zaki sambil menarik tangan Manda berusaha untuk mengajaknya pergi dari sana secepat mungkin.
Manda yang mendapat tarikan tangan tersebut lantas menghempaskan tangan Zaki ke udara, membuat Zaki langsung menatap ke arah Manda dengan tatapan yang bertanya-tanya akan sikap Manda saat ini.
"Aku harus mencari mereka terlebih dahulu.... Aku tidak setega itu meninggalkan ketiganya." ucap Manda yang lantas membuat Zaki langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar perkataannya barusan.
"Mereka? Mereka siapa yang kamu maksud?" ucap Zaki sambil menatap ke arah Manda dengan raut wajah yang penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan Allen, Ebra, dan juga Mikaila... Aku bahkan sudah mendorong mereka untuk melanjutkan tugas kita dulu yang sempat tertunda dan saat ini apa kau pikir aku akan setega itu meninggalkan mereka? Tentu aku tidak akan setega itu!" ucap Manda mencoba untuk membuat Zaki mengerti akan perasaannya.
Zaki yang mendengar penjelasan dari Manda barusan lantas terdiam sejenak. Diusapnya rambutnya dengan kasar sambil menghembuskan napasnya panjang. Meski Zaki tidak menyetujui opsi Manda barusan sekalipun, tapi jika keduanya terus berselisih paham seperti ini semua masalah yang mereka hadapi tidak akan pernah selesai. Sehingga Zaki pada akhirnya memutuskan untuk menyetujui pendapat Manda yang ingin mencari ketiga muridnya itu terlebih dahulu.
"Baiklah tapi aku harap jika kita tidak menemukannya juga kamu harus menyerah dan pergi dari tempat ini secepatnya!" ucap Zaki kemudian mulai membuat perjanjian dengan Manda saat ini.
"Aku mengerti" ucap Manda kemudian sambil menganggukkan kepalanya.
"Jadi sekarang kita mulai dari mana?" tanya Zaki kemudian.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Manda terdiam sejenak seakan nampak berpikir dengan keras dimana ketiga anak-anak tersebut bersembunyi. Sampai kemudian ketika sebuah ingatan lama yang terlintas dibenaknya, lantas membuat Manda tersenyum dengan merekah seakan tahu dimana ketiganya bersembunyi saat ini.
"Aku pernah bertemu dengan mereka keluar dari area gudang belakang, aku rasa mereka berada tidak jauh dari sini!" ucap Manda dengan nada yang yakin membuat Zaki lantas mengernyit begitu mendengar perkataan dari Manda barusan.
"Apa kau yakin?" tanya Zaki kemudian mencoba untuk memastikan perkataan Manda barusan.
"Sudahlah sebaiknya kita coba saja dulu!" ucap Manda kemudian sambil menarik tangan Zaki dan mulai membawanya menyusuri area gudang untuk mencari keberadaan Mikaila, Allen dan juga Ebra di sekitaran area gudang.
***
Sementara itu di sebuah Cafe yang terletak di Ibukota terlihat seorang wanita tengah dengan santainya meminum ice coffee favoritnya. Sampai kemudian sebuah siaran berita yang terdengar melalui televisi di Cafe tersebut, lantas membuat seorang wanita yang ternyata adalah Viola mendongak dengan seketika.
Sebuah berita yang sedang hangat beberapa hari ini dimana salah satu Sekolah elite yang terletak di sebuah hutan terpencil merupakan sebuah kamuflase untuk ritual sesat yang di lakukan oleh beberapa guru di sana. Laporan terkini yang kami dapatkan dari sumber tertentu menyebutkan bahwa ratusan siswa meninggal setiap setahunnya dengan kematian yang misterius.
Viola yang mendengar berita tersebut lantas mendengus dengan kesal karena kedoknya untuk membuat arwah Rini tetap berada di sisinya harus terbongkar setelah berpuluh-puluh tahun ia menjaga rahasia itu dengan rapat.
"Cih lagi pula aku memberikan mereka imbalan yang setimpal dengan kelulusan yang menjanjikan dan juga gelar luar biasa atas kematian siswa-siswi di sekolah tersebut, tidakkah mereka terlalu berlebihan?" ucap Viola dengan nada yang terdengar menggerutu seakan tidak terima akan pemberitaan yang telah beredar dengan luas.
Dari arah pintu masuk seorang ibu-ibu yang mengenakan dress berwarna hitam terlihat melangkahkan kakinya dan duduk tepat di hadapan Viola, membuat Viola langsung memasang wajah cemberut begitu melihat kenalan yang sedari tadi ia tunggu baru datang sekarang.
"Bukankah Sekolahan itu milik mu?" ucap Ibu-ibu tersebut sambil menatap ke arah televisi ikut mendengarkan berita yang tengah trending beberapa hari ini.
__ADS_1
"Kau bercanda? Tentu saja bukan, jika aku pemiliknya mungkin aku sudah tertangkap polisi saat ini. Bukankah begitu?" ucap Viola dengan nada yang terdengar santai membuat gelak tawa lantas terdengar menggema di area meja tersebut.
***
Sementara itu di antara pepohonan dan juga beberapa semak belukar yang tertata tak beraturan di sana, mobil yang dikendarai oleh Ardi pada akhirnya terlihat memutar tujuannya dan kembali menuju ke arah Sekolahan. Keputusan Arhan yang ingin menyelamatkan teman-temannya benar-benar telah bulat dan tidak bisa lagi di tawar membuat Ardi pada akhirnya hanya bisa menghela napasnya dengan panjang karena mau tidak mau mengikuti perkataan Arhan saat ini.
"Aku rasa keadaan di sana saat ini tidaklah kondusif, aku berharap kamu sudah bersiap dengan keadaan di sana." ucap Ardi memperingati Arhan yang seakan sudah tahu bahaya apa yang saat ini sedang menanti dirinya.
Mendengar perkataan tersebut membuat Arhan langsung menoleh dengan seketika ke arah Ardi seakan bertanya-tanya akan alasan Ardi yang mengatakan hal tersebut kepadanya.
"Apakah bapak mengetahui sesuatu?" tanya Arhan dengan raut wajah yang penasaran membuat seulas senyum lantas terbit dari wajah Ardi saat ini.
"Aku hanya menebaknya saja, lagi pula setelah semuanya terbongkar keadaan Sekolahan saat ini pasti akan sangat kacau bukan?" ucap Ardi kemudian namun masih tetap menatap dengan lurus ke arah depan, membuat Arhan yang mendengar hal tersebut lantas langsung terdiam seketika.
Arhan terdiam di tempatnya sejenak seakan mencoba memantapkan dirinya akan keputusan yang ia ambil saat ini. Hingga ketika sebuah bayangan dimana dirinya yang sekarat saat itu mendadak terlintas di benaknya, membuat Arhan semakin menguatkan hatinya ketika ia kembali teringat akan kenangan tersebut.
"Jika mereka bertiga saja masih mau menyelamatkan diriku waktu itu, tentu aku akan membalas perbuatan baik mereka, bukan?" ucap Arhan dalam hati seakan mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri.
Mobil yang di kendarai oleh Ardi terus melaju menuju kembali ke arah Sekolahan. Sampai kemudian ketika mobil tersebut melewati jalanan yang berbatu sebuah bunyi yang keras lantas terdengar dan langsung membuat mobil yang mereka tumpangi menjadi oleng.
Duar...
__ADS_1
"Sial"
Bersambung