
Mendengar ucapan Ebra barusan, perempuan itu nampak terdiam seakan tengah berpikir dan mencerna ucapan keduanya, hingga beberapa menit kemudian barulah perlahan lahan perempuan itu mulai melepas cengkeramannya kepada Mikaila.
Arhan yang melihat ada celah, lantas secepat kilat langsung menarik tangan perempuan itu dan melemparnya ke dalam lubang. Peserta perempuan itu yang sama sekali tidak menyangka akan gerakan yang tiba tiba dari Arhan, pada akhirnya hanya bisa menerima kekalahan dan jatuh ke bawah tanpa bisa kembali ke atas.
"Aaaaaa" teriak perempuan itu dengan nada yang panjang.
**
Sedangkan tanpa Arhan sadari, Ebra yang tidak tahu akan rencana dari Arhan lantas begitu perempuan itu melepaskan pegangan tangannya dari Mikaila, dengan bodohnya Ebra malah melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam lubang itu, membuat Mikaila lantas dengan spontan berteriak sambil memegangi lehernya yang tadi tergores batu.
"Ebra!" pekik Mikaila.
Mendengar teriakan tersebut membuat Allen dan juga Arhan terkejut bukan main, Arhan yang baru saja berhasil mendorong tubuh perempuan itu, lantas dengan spontan membuatnya berlari hendak berusaha untuk menarik Ebra.
Hanya saja sayangnya, Arhan yang reflek tanpa sadar bergerak terlalu cepat hingga membuatnya malah terpeleset tepat ketika Arhan berhasil mengangkat tubuh Ebra naik ke atas kembali. Pada akhirnya Arhan yang berniat menolong malah ia yang terjatuh ke dalam lubang, namun belum sepenuhnya karena tangan Ebra yang berhasil meraih tangan Arhan, sehingga Arhan hanya bergelantungan di sana.
Allen yang melihat teman temannya seperti itu, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana mereka bertiga berada.
"Apa kau baik baik saja Ar..." tanay Allen kemudian sambil melihat ke arah bawah.
"Yap, tapi tidak sepenuhnya baik." ucap Arhan dengan nada yang santai.
__ADS_1
"Aku... aku minta maaf Ar... aku benar benar tidak tahu jika kamu memiliki rencana seperti itu... tadinya aku kira kamu akan benar benar loncat... aku..." ucap Ebra yang seakan merasa bersalah kepada Arhan.
"Tak perlu di sesali.. semua sudah terjadi... lagi pula kita memang hanya bisa menyisakan tiga orang bukan? jadi biarkan saja aku yang jatuh ke dalam." ucap Arhan kemudian yang lantas membuat mereka bertiga terkejut ketika mendengarnya.
"Apa yang kau katakan Ar? kita akan selamat... aku akan membawamu kembali... kita akan pulang bersama sama." ucap Allen yang langsung membantah opsi Arhan barusan.
"Jangan keras kepala Al... mungkin ini sudah jalan ku harus berakhir seperti ini." ucap Arhan dengan tersenyum tulus.
Mendengar ucapan Arhan kembali, membuat ketiganya langsung terdiam seketika. Arhan yang tidak ingin melihat wajah sedih teman temannya lantas berusaha melepas genggaman tangan Ebra. Ebra benar benar tidak bisa membiarkan Arhan jatuh begitu saja, sehingga ketika Arhan berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya, Ebra malah berusaha untuk menggenggamnya dengan erat seakan tidak rela untuk melihat Arhan jatuh ke bawah sana.
"Arhan...." pekik Ebra ketika melihat tubuh Arhan yang langsung terjun ke bawah dan tidak lagi bisa mereka lihat karena suasananya yang gelap.
Mikaila yang tidak tahu harus bagaimana, hanya bisa menangis tanpa suara sambil masih memegangi lehernya. Allen yang juga tidak kuasa menahan tangisannya lantas langsung memeluk tubuh Mikaila dengan erat, sedangkan tangan satunya menepuk pelan pundak Ebra seakan seperti sedang berusaha untuk menenangkan keduanya sekaligus.
**
Seberkas sinar nampak mulai terlihat melalui celah celah bagian atas gua yang terlihat mulai terbuka secara perlahan lahan. Mikaila, Allen dan juga Ebra yang menyadari hal tersebut lantas langsung dengan spontan mendongak ke atas dan mencari tahu dari mana cahaya itu berasal.
Di atas sana terlihat Zaki dan juga beberapa pria berjas hitam sedang menatap ke arah mereka bertiga dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Satu persatu pria berjas hitam kemudian nampak turun ke bawah dan menghampiri ketiganya yang masih dalam posisi yang sama tanpa berpindah sedikitpun.
Perlahan tapi pasti pria berjas hitam itu lantas mulai membantu ketiganya untuk bangkit dan mengarahkan mereka bertiga agar berlalu pergi dari sini. Allen yang masih merasa kesal sekaligus kehilangan, lantas langsung menghempaskan tangan pria berjas hitam tersebut dan menatap tajam ke arah Zaki.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya bapak lakukan ha? tidakkah bapak punya rasa empati sedikit saja? berapa siswa yang mati karena permainan konyol ini pak? bagiamana kalau itu terjadi pada putri anda? apa anda akan tetap diam saja?" teriak Allen yang menyuarakan isi hatinya.
Entah mengapa melihat kedatangan Zaki, membuat emosi Allen meluap luap tanpa henti. Apa yang di lakukan oleh sekolahannya, permainan gila yang di jalani Allen dan juga yang lain, semua itu benar benar hal gila yang Allen sendiri bahkan tidak habis pikir, mengapa mereka semua tega melakukan hal itu kepada semua murid yang tak berdosa.
"Kau anak kecil tidak tahu apapun jadi sebaiknya kau tutup mulut mu itu!" ucap Zaki dengan nada yang dingin.
Mendengar ucapan Zaki barusan tentu saja membuat Allen tidak terima dan diam begitu saja, Allen yang memang sudah emosi lantas langsung maju dan berusaha hendak mendekat ke arah Zaki. Hanya saja Zaki yang dapat membaca gerakan Allen, lantas memberikan kode kepada anak buahnya agar mulai bergerak dan membekuk Allen dan juga yang lainya.
"Kau..." teriak Allen namun detik berikutnya pandangan Allen mulai menggelap ketika sebuah pukulan di tengkuknya menghantam cukup keras.
Bruk....
"Allen" pekik Mikaila dan juga Ebra secara bersamaan, namun pada detik berikutnya pandangan mereka ikut menggelap seiring dengan sebuah pukulan yang menghantam tengkuk Mikaila dan juga Ebra secara bersamaan.
Mikaila, Allen dan juga Ebra kini terlihat sudah terkulai lemas di tanah sambil menutup matanya karena pingsan. Zaki yang melihat ketiga muridnya itu sudah pingsan, lantas mendekat ke arah Mikaila ketika melihat noda darah di area lehernya yang terlihat mulai mengering namun belum sepenuhnya karena terdapat luka sobekan benda tajam di area leher Mikaila.
"Panggilkan dr. Zee dan suruh dia mengobati gadis ini dan bawa mereka bertiga ke tempat resort Edelweis sekarang!" ucap Zaki memberikan perintah.
Mendengar perintah dari Zaki barusan, membuat beberapa pria berjas hitam tersebut langsung mengangguk tanda mengerti dan langsung bergerak menggendong ketiganya untuk di bawa ke tempat yang di perintahkan oleh Zaki barusan.
"Dasar bocah ingusan!" ucap Zaki ketika melihat tubuh ketiganya sudah di bawa pergi oleh anak buahnya barusan.
__ADS_1
Bersambung