No Exit

No Exit
Satu menit


__ADS_3

Ckitttt


Suara decitan mobil polisi lantas mengejutkan Ujang dan membuatnya dengan spontan ikut menginjak pedal remnya karena takut menabrak mobil polisi di depannya. Danu yang tidak mendapat aba-aba dari Ujang sebelumnya begitu mendapati bahwa Ujang menginjak pedal rem secara mendadak membuat Danu terkejut dengan seketika.


"Kau itu bagaimana sih!" pekik Danu dengan nada yang kesal.


"Maaf Pak saya juga terkejut ketika mobil polisi di depan berhenti dengan tiba-tiba." ucap Ujang yang seakan merasa bersalah.


Mendengar perkataan dari Ujang barusan lantas membuat Danu langsung menoleh ke arah depan, posisi mobil polisi yang berada di depan mobilnya memang terlihat sedang berhenti. Membuat Danu yang melihat hal tersebut lantas langsung kebingungan sekaligus bertanya-tanya apa yang membuat mobil para polisi berhenti secara mendadak. Danu yang penasaran akan apa yang terjadi, lantas mula membuka pintu mobilnya dan turun dari mobil untuk mencari tahu perihal alasan mobil polisi berhenti secara mendadak.


Dengan langkah kaki yang perlahan Danu mulai melangkahkan kakinya ke depan, di saat posisinya berada tak jauh dari mobil polisi dengan posisi paling depan. Danu melihat seorang pria dan juga seorang remaja tengah berbincang dengan petugas polisi, membuat Danu langsung mengernyit seakan bertanya apa yang ketiganya sedang bicarakan saat ini.


"Apa ada sesuatu?" tanya Danu kemudian yang lantas membuat ketiganya langsung menoleh ke arah Danu.


Ardi yang melihat kedatangan Danu lantas tersenyum, membuat Danu langsung membalas senyuman tersebut dengan anggukan kepala untuk menghormatinya.


"Dia adalah pak Ardi sopir bus Enigmatis High School sedangkan yang ini adalah Arhan salah satu siswa yang berhasil selamat dari pembunuhan di Sekolah itu." ucap petugas polisi tersebut mengenalkan keduanya.


"Benarkah? Apa kamu mengenal Mikaila? Bagaimana keadaan putri saya?" ucap Danu kemudian langsung menatap ke arah Arhan.


Arhan yang mendengar nama Mikaila disebut tentu saja sedikit terkejut, namun detik berikutnya mencoba untuk menenangkan dirinya. Arhan tahu kali ini dia tidak bisa mengatakan yang sejujurnya kepada Danu karena jika ia mengatakan sesuatu maka takutnya Danu akan semakin khawatir.


"Saya kenal dengan Mikaila pak, terakhir kali saya bertemu dengannya ia baik-baik saja. Saya dan pak Ardi sedang menuju ke sana untuk menyelamatkan Mikaila dan juga teman-teman saya yang lainnya namun ketika dalam perjalanan ban mobil kami bermasalah." ucap Arhan menjelaskan namun tak secara mendetail.


"Memang apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Danu dengan raut wajah yang penasaran karena ia yakin pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Arhan saat ini.

__ADS_1


Arhan yang mendengar pertanyaan tersebut lantas terdiam sejenak antara ragu hendak mengatakan sebenarnya atau tidak kepada Danu.


"Untuk penjelasan mungkin kita lakukan nanti saja, sebaiknya kita segera bergegas menuju ke Sekolah karena situasi di sana sedang kacau saat ini." ucap Ardi kemudian yang seakan tahu bahwa Arhan belum bisa menceritakannya untuk saat ini.


"Itu benar Pak, sebaiknya kita lanjutkan perjalanannya." ucap petugas polisi tersebut.


"Baiklah, kalian berdua naiklah ke mobil dengan saya kita pergi menuju ke arah Sekolah secara bersama-sama." ucap Danu kemudian sambil menunjuk mobil mewah keluaran terbaru yang berada tidak jauh dari posisi mereka berada.


Mendengar perkataan dari Danu barusan membuat Ardi dan juga Arhan lantas langsung mengangguk tanda mengerti. Pada akhirnya setelah sepakat keempatnya kemudian lantas mulai melangkahkan kaki mereka menuju ke arah mobil, dimana polisi tersebut masuk ke mobil patroli nya sedangkan Ardi dan juga Arhan ikut ke mobil Danu. Setelah semuanya masuk ke dalam mobil barulah perjalanan kembali di lanjutkan.


**


Sementara itu di lorong bawah tanah terlihat Manda, Mikaila, Allen dan juga Ebra terus melangkahkan kaki mereka menyusuri setiap alur lorong tersebut. Allen yang memimpin paling depan berusaha mencari jalan yang terbaik dan tentunya bisa di lewati mengingat lorong tersebut tidak pernah di gunakan dan tentu saja jarang dilalui seseorang, membuat suasananya begitu pengap dan juga gelap. Oksigen yang masuk terasa begitu tipis hingga membuat perjalanan mereka begitu terasa berat.


"Al..." panggil Ebra begitu melihat Mikaila mengambil posisi berjongkok di depannya.


Mendengar suara Ebra yang menggema di lorong tersebut, lantas membuat Manda dan juga Allen yang posisinya berada di depan keduanya lantas langsung menoleh dengan seketika begitu mendengar suara Ebra. Baik Allen dan juga Manda yang melihat Mikaila seperti sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana keduanya berada.


"Apa yang terjadi?" tanya Allen kemudian.


"Sepertinya Mikaila kelelahan, pasokan oksigen yang begitu tipis membuat langkah kaki kita sedikit berat. Apakah masih lama lagi?" ucap Ebra kemudian sambil menyeka keringatnya yang mulai membasahi pelipisnya.


Allen yang mendapat pertanyaan tersebut lantas terlihat menatap ke arah Manda seakan menunggu jawaban atas pertanyaan Ebra barusan.


"Ibu juga tidak tahu seberapa panjang lorong ini, namun jika Zaki mengatakan kita akan berakhir di tengah hutan harusnya kita sebentar lagi akan sampai mengingat kita sudah berjalan cukup jauh sedari tadi." ucap Manda mencoba untuk mengira-ngira.

__ADS_1


"Beri aku waktu untuk beristirahat sebentar." ucap Mikaila kemudian.


"Kita tidak bisa jika harus beristirahat sekarang. Jika bom itu meledak sebelum kita keluar dari sini maka kita akan terkubur secara hidup-hidup." ucap Allen kemudian.


"Naiklah ke punggung ku Kai, aku akan menggendong mu..." ucap Ebra kemudian mulai memberikan solusi.


"Itu ide bagus, naiklah ke punggungnya Kai.. Nanti jika Ebra lelah aku akan bergantian menggendong mu." ucap Allen kemudian membuat Ebra dan juga Manda lantas langsung mengangguk tanda mengerti.


***


Disaat Manda dan yang lainnya tengah sibuk mencari jalan keluar. Di area belakang sekolah terlihat Zaki dan juga Rahmat tengah berduel sedari tadi. Dari masing-masing tidak ada yang mau mengalah sama sekali membuat perkelahian ini semakin sengit dan juga imbang.


"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Kita bahkan bisa keluar secara bersama-sama, mengapa kau angkuh sekali ha!" pekik Rahmat yang berada tepat di atas tubuh Zaki hendak bersiap memukul Zaki namun berhasil di tahan.


Mendengar perkataan dari Rahmat barusan membuat Zaki lantas mulai membalikkan posisi dan berganti menindih tubuh Rahmat di sana, membuat Rahmat yang tak bersiap dengan serangan balik oleh Zaki lantas nampak terkejut seketika.


"Kau dan juga Viola sama saja rupanya, sama-sama suka memanfaatkan seseorang!" ucap Zaki dengan nada yang kesal.


Ketika keduanya tengah sibuk berduel, sebuah suara dari walkie talkie milik Rahmat terdengar menggema sekaligus mengejutkan keduanya.


"Pak saya sudah menyetel waktu bom tersebut menjadi satu menit, sebentar lagi sekolah ini akan meledak." ucap sebuah suara yang terdengar menggema di telinga keduanya.


"Sialan!" ucap Rahmat dengan kesal.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2