
"Jika kamu tidak mau, kalian pikir kami para wanita mau melakukannya? tentu tidak!" pekik Friska dengan kesal yang lantas membuat Putra emosi dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Friska.
Beberapa teman sekelas Mikaila lantas mulai berbisik bisik saling membicarakan keputusan ini. Keputusan yang di buat Putra memanglah terdengar sangat kejam, tapi di sisi lain yang lainnya tentu tidak ingin jika malah mereka yang harus mewakili kelasnya untuk event outbond ini.
Mikaila yang melihat keadaan sudah mulai tidak kondusif, lantas langsung bangkit dan mendekat ke arah Putra dan juga Friska yang mulai saling dorong seakan tidak ada yang mau mengalah sama sekali di antara keduanya, padahal jika hanya mengikuti outbond pada umumnya Mikaila sama sekali tidak masalah dan akan dengan senang hati melakukannya.
"Sudahlah... ada apa dengan kalian berdua? bukankah itu hanya outbond? mengapa kalian sampai bersikap seperti ini?" ucap Mikaila kemudian yang lantas membuat semua mata menatap ke arahnya.
Mikaila hang mulai curiga akan sikap dan juga ekspresi yang di tunjukkan oleh teman temannya, lantas mulai melangkahkan kakinya mundur, hanya saja ketika ia melangkahkan kakinya mundur ke belakang gerakannya lantas terhenti karena terbentur tubuh seseorang. Mikaila mendongak dan menatap ke arah belakang, mencoba untuk melihat siapa sosok yang berada di belakangnya yang ternyata adalah Allen.
Allen memegang kedua bahu Mikaila, kemudian menggeser posisi Mikaila sedikit ke kanan dan menatap lurus ke arah Putra yang kini tengah menatap kesal ke arah Mikaila.
"Bagaimana kalau kita lakukan voting saja, mungkin itu akan lebih baik dari pada kalian saling tunjuk seperti ini." ucap Allen kemudian sambil mengedarkan pandangannya menatap ke arah teman temannya.
"Sekarang aku minta angkat tangan kalian bagi siapa saja yang menginginkan Mikaila untuk berpartisipasi dalam event outbond kali ini, angkat tangan kalian sekarang!" ucap Allen kemudian memberikan perintah kepada teman temannya.
Mendengar ucapan dari Allen barusan, beberapa temannya lantas saling pandang satu sama lain, beberapa orang nampak ragu namun mereka juga tidak ingin jika harus salah satu dari mereka yang menghadiri atau ikut berpartisipasi dalam event outbond kali ini. Putra sendiri yang sejak awal kekeh menunjuk ke arah Mikaila, ketika di tanya seperti itu ia hanya diam seakan enggan untuk mengangkat tangannya, membuat Mikaila menjadi semakin heran dan juga bingung akan apa yang tengah terjadi sebenarnya saat ini.
__ADS_1
"Jika kalian tidak ada yang mengangkat tangan kalian baiklah, sekarang angkat tangan kalian jika kalian tidak menginginkan Mikaila berpartisipasi dalam event kali ini!" ucap Allen lagi.
Meski Allen menyuarakan kembali suaranya, namun tetap saja tidak ada satupun dari mereka yang berani mengangkat tangannya. Mikaila yang melihat beberapa temannya tetap diam semakin di buat tidak mengerti dan bingung. Hingga ketika ia sudah tidak lagi tahan, Mikaila kemudian melangkahkan kakinya sedikit ke tengah dan menatap ke arah teman temannya.
"Ada apa dengan kalian semua? mengapa sangat murung? aku sungguh tak apa jika melakukannya, bukankah itu hanya sekedar outbound bukan perjuangan antara hidup dan mati? lalu mengapa ekspresi wajah kalian seperti itu?" ucap Mikaila dengan nada yang santai namun tidak yang lainnya.
Melihat raut wajah Mikaila yang terlihat bahagia menimbulkan perasaan bersalah yang semakin besar di hati teman temannya, tidak ada yang berani menanggapi ucapan dari Mikaila barusan kecuali Friska yang langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mikaila dan menarik tangannya keluar dari kelas.
**
Taman
"Ada apa ini sebenarnya Fris?" tanya Mikaila kemudian sambil dengan spontan menghentikan langkah kakinya yang otomatis juga menghentikan langkah kaki Friska yang sedari tadi menariknya.
"Kau itu tidak tahu apa apa Kai, jadi jangan berlagak sok polos dan bertindak bodoh seperti itu!" ucap Friska kemudian dengan nada yang kesal.
Mendengar teriakan Friska barusan tentu saja membuat Mikaila terkejut bukan main. Mikaila benar benar tidak menyangka bahwa Friska akan bereaksi hingga seperti itu.
__ADS_1
"Bagaimana aku tahu jika kalian semua bahkan tidak ada yang memberitahu ku sedikitpun tentang apa yang sebenarnya terjadi!" ucap Mikaila kemudian pada akhirnya karena sebenarnya ia sendiri sedari tadi juga bingung akan apa yang tengah terjadi namun sama sekali tidak ada seorang pun yang mau menjelaskan segalanya.
Friska yang mendengar ucapan Mikaila barusan lantas memijat pelipisnya dengan pelan, ada raut wajah kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah Friska saat ini, membuat Mikaila menjadi kian kesal karena tidak ada satu pun yang mau menjelaskannya kepada Mikaila. Friska menarik nafasnya panjang kemudian menatap ke arah Mikaila dalam dalam, baru kemudian ia mulai bercerita tentang alasan sikap semua orang ketika mendengar event outbond kembali akan di laksanakan.
Friska menceritakan segala hal yang berkaitan dengan event outbond tersebut, dalam ceritanya Friska mengatakan kepada Mikaila bahwa event ini di adakan setiap satu tahun sekali untuk memperingati pekan olahraga. Hanya saja berbeda dari outbond outbond yang lainnya, outbond di sekolah ini penuh dengan kengerian dan juga pertumpahan darah. Semua siswa yang tercatat menjadi peserta dalam event ini di bebaskan melakukan apapun untuk menyingkirkan lawan mereka dan menjadi pemenangnya.
Menyerang atau di serang, sepertinya istilah itulah yang cocok untuk menggambarkan event ini. Siapapun yang mampu bertahan dalam 24 jam pada event ini, mereka akan dinyatakan keluar sebagai pemenangnya dengan satu syarat bahwa hanya ada satu kelas yang menjadi juara utamanya, jika dalam waktu 24 jam peserta yang tersisa masih banyak, panitia akan melanjutkannya dengan sesi berikutnya.
"Bukankah ini hanya sebuah permainan Fris? apa yang kau takutkan?" ucap Mikaila yang seakan masih tidak mengerti akan ucapan Friska.
"Kau tidak mengerti apapun, tidak ada yang bisa keluar dengan hidup hidup dari acara itu! dan aku tidak mau kau menjadi korbannya." ucap Friska berusaha kembali meyakinkan Mikaila bahwa mengikuti acara itu bukanlah sebuah keputusan yang bijak.
Mikaila terdiam mencerna satu persatu ucapan Friska yang terasa begitu asing di telinganya. Jika sudah seperti ini, Mikaila benar benar tidak tahu lagi harus berbuat apa. Jika ia memaksakan untuk pergi, akankah ia bisa kembali dengan selamat? namun jika Mikaila tidak pergi, mungkinkah teman temannya juga akan kembali dengan selamat?
"Sekolahan macam apa ini?" ucap Mikaila dengan nada yang kesal.
"Biarkan aku pergi bersamamu!" ucap sebuah suara yang langsung membuat Mikaila dan juga Friska menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Bersambung