No Exit

No Exit
Mawar putih


__ADS_3

"Aaaaaa"


Teriak Mikaila begitu sebuah sosok berambut panjang lantas terlihat merayap dengan cepat ke arahnya. Membuat Mikaila langsung bangkit dari posisinya dengan keringat yang membasahi tubuhnya saat ini. Diedarkannya pandangannya menatap area sekitar yang masih tetap sama, dimana Mikaila saat ini masih dan tetap berada di dalam kamar asramanya. Sambil mengusap wajahnya dengan kasar Mikaila terlihat mengelap keringatnya yang kini nampak membanjiri tubuhnya dengan perasaan yang lebih lega karena apa yang baru saja ia lihat hanyalah sebuah mimpi belakang.


"Sepertinya aku benar-benar kecapekan sampai bermimpi buruk seperti itu barusan." ucap Mikaila sambil membetulkan rambutnya yang berantakan.


Mikaila yang menganggap apa yang baru saja ia impikan hanyalah sebuah bunga tidur, ketika ia bangkit dan hendak berjalan menuju ke arah kamar mandi Mikaila malah di kejutkan kembali dengan sosok Rini yang terlihat tengah berdiri tepat di ambang pintu dan sedang menatap ke arahnya. Melihat pemandangan yang seperti itu tentu saja membuat jantung Mikaila berdegup dengan kencang karena terkejut akan kehadiran Rini yang tiba-tiba berdiri di sana. Mikaila mengelus dadanya perlahan ketika menyadari bahwa yang sedang berdiri di sana adalah Rini, baru setelah itu melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Rini berada.


Kali ini Mikaila akan benar-benar protes kepada Rini karena selalu saja muncul secara mendadak tanpa bersuara sama sekali, membuat Mikaila selalu saja terkejut akan kehadiran Rini yang tiba-tiba itu. Mikaila menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Rini yang tengah menatapnya dengan tatapan yang datar namun dengan raut wajah yang pucat, membuat Mikaila yang semula hendak melayangkan protes kepada Rini lantas langsung menatap wajah Rini dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran.


"Apakah terjadi sesuatu dengan mu Rin? Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Mikaila dengan raut wajah yang penasaran sambil mencoba menatap ke arah Rini dan mencari tahu apa penyebabnya.


Rini yang mendapat pertanyaan dari Mikaila hanya menggelengkan kepalanya dengan perlahan, seakan Rini tidak ingin mengatakan apa-apa kepada Mikaila untuk menjelaskan apa permasalahan yang saat ini tengah dihadapinya. Hingga kemudian tangan Rini perlahan-lahan malah terlihat mulai naik ke atas dan hendak menyentuh bahu Mikaila, membuat Mikaila yang melihat hal itu lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung seakan tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Rini saat ini.


"Ada apa sebenarnya Rin? Jangan membuatku takut dengan tingkah mu yang aneh ini." ucap Mikaila kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Rini.

__ADS_1


Sedangkan Rini yang mendengar perkataan dari Mikaila barusan, bukannya menjawab malah hanya tersenyum kemudian mengelus pundak Mikaila secara perlahan. Membuat Mikaila yang mendapatkan perlakuan tersebut tentu saja semakin dibuat kebingungan, namun tidak tahu harus bertanya apa lagi karena Rini sama sekali tidak menjawab satupun pertanyaan yang keluar dari mulutnya sedari tadi. Di saat Mikaila berada dalam kebingungan ucapan Rini kemudian malah membuatnya terdiam membeku di tempatnya seakan tidak mengerti sekaligus bingung akan perkataan yang keluar dari mulut Rini baru saja.


"Besok kamu akan mengetahui segalanya Kai, jangan terkejut dan jangan melakukan apapun. Cukup diam dan lakukan semua hal yang menurutmu benar." ucap Rini kemudian dengan nada yang datar sambil menatap lurus ke arah Mikaila.


"Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan Rin? Mengapa harus menunggu besok? Katakan saja sekarang aku siap untuk mendengarkan mu." ucap Mikaila kemudian mencoba untuk merayu Rini agar mulai bercerita tentang masalahnya, karena awalnya Mikaila menganggap Rini tengah mempunyai permasalahan yang berat sehingga ia perlu teman cerita untuk mendengarkan kisahnya.


"Tak perlu sekarang Kai, aku yakin besok kamu pasti akan mengetahuinya. Sekarang pergilah tidur agar kamu tidak terlambat esok hari." ucap Rini kemudian sambil sedikit mendorong tubuh Mikaila agar segera berangkat pergi menuju ke ranjangnya untuk bergegas tidur dan berlayar ke pulau impiannya.


Mikaila yang didorong oleh Rini pada akhirnya mau tidak mau lantas menuruti ucapan Rini sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah tempat tidurnya, sesekali Mikaila terlihat melirik ke arah belakang mencoba mencari tahu tentang apa yang dilakukan Rini saat ini. Namun sayangnya Rini sama sekali tidak melakukan apapun kecuali menatapnya dengan tatapan yang datar sedari tadi hingga langkah kaki Mikaila sampai pada ranjang empuk miliknya.


"Apa maksud ucapan Rini sebenarnya? Sudahlah lagi pula Rini mengatakan bahwa besok aku akan mengetahuinya, bukan?" ucap Mikaila dengan raut wajah yang gusar namun kemudian langsung mengusir segala pemikirannya dan mulai berlayar ke pulau impian sebelum hari kian larut.


***


Keesokan harinya

__ADS_1


Mikaila yang masih memikirkan tentang perkataan Rini semalam, lantas terlihat melangkahkan kakinya secara perlahan melewati koridor kelas sambil terus menerka-nerka arah pembicaraan Rini semalam. Helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulut Mikaila, hingga sebuah suara lantas terdengar menggema di telinga Mikaila membuat langkah kaki Mikaila terhenti seketika.


"Kai..." panggil sebuah suara yang lantas membuat Mikaila berbalik badan ketika mendengarnya.


Dari arah tak jauh dari posisinya berada saat ini terlihat Friska tengah melangkahkan kakinya sambil membawa dua tangkai bunga mawar putih ke arah Mikaila, membuat Mikaila yang melihat hal tersebut lantas langsung mengernyit sekaligus bertanya-tanya untuk apa bunga tersebut.


"Kai"


"Mawar putih yang ada di tangan mu untuk apa Fris?" tanya Mikaila kemudian secara langsung tanpa membalas terlebih dahulu sapaan dari Friska barusan.


Friska yang mendapat pertanyaan tersebut semula sedikit bingung namun ketika ia baru ingat bahwa Mikaila adalah murid pindahan, membuat Friska lantas langsung tersenyum ke arah Mikaila. Friska memberikan satu tangkai mawar putih tersebut kepada Mikaila, membuat Mikaila semakin bingung akan alasan Friska memberinya bunga tersebut kepadanya. Padahal maksud dari pertanyaan Mikaila barusan bukanlah untuk meminta bunga tersebut melainkan untuk bertanya tentang alasan Friska yang membawa bunga tersebut. Hingga kemudian pandangan Mikaila yang semula tidak terlalu sadar karena memikirkan masalah Rini, ketika ia menatap ke arah sekitar Mikaila baru sadar jika nuansa sekolahannya kali ini berwarna putih dengan beberapa mawar putih asli maupun mawar putih plastik menjadi hiasan di lingkungan sekolahannya.


"Mengapa aku baru sadar akan hal ini?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2