
"Bukankah bapak juga ikut? Mengapa bapak mengatakan seakan-akan hanya kami yang pergi?" ucap Mikaila kemudian yang lantas membuat semua orang menatap ke arah Zaki dengan tatapan yang bertanya-tanya.
Zaki yang mendengar pertanyaan dari Mikaila barusan langsung terdiam seketika. Sepertinya niatannya sudah mulai tercium oleh Mikaila yang lantas membuatnya menghela napasnya dengan panjang. Sedangkan Manda yang tak kunjung mendapat jawaban apapun dari Zaki kemudian mulai mendekat ke arah Zaki dan menatapnya dengan tatapan yang menelisik.
"Apa-apaan ini Zak? Bukankah kau mengatakan kita akan keluar sama-sama? Lalu apa ini?" ucap Manda yang tak habis pikir ketika mendengar perkataan dari Mikaila barusan.
"Maafkan aku... aku benar-benar tidak bermaksud membohongi mu tapi posisi ku sama sekali tidak menguntungkan. Posisi kepala sekolah sudah di pindahkan tugaskan kepada diriku, aku tidak mengetahui alasannya apa karena aku pikir itu hanyalah sebuah tugas baru untuk ku. Namun setelah segala hal yang terjadi hari ini aku menyadari satu hal bahwa tujuan Viola melakukan semua itu adalah untuk melimpahkan segala kesalahannya kepada ku, jika aku keluar dari sini pun akan percuma, jadi biarkan aku tetap disini..." ucap Zaki dengan raut wajah yang sendu.
Semua orang yang mendengar perkataan Zaki barusan tentu saja terkejut bukan main, tidak ada yang tahu bahwa posisi kepala sekolah sudah berganti menjadi Zaki. Membuat keempatnya lantas hanya bisa menatap tak percaya ke arah Zaki saat ini.
"Ba...bagaimana bisa ini terjadi? Apa kau sebodoh itu sampai tidak bisa mencium kebusukannya?" teriak Manda dengan nada yang kesal.
Ia dan juga Zaki bahkan baru akur hari ini, bagaimana bisa disaat semuanya sudah membaik Manda harus di hadapkan pada kenyataan bahwa ia harus membiarkan Zaki tinggal dan mati secara sia-sia di tempat ini.
"Iya aku bodoh dan aku akui, untuk itu sebelum aku pergi dan berakhir dengan penyesalan aku ingin menyelamatkan mu..." ucap Zaki kemudian yang semakin membuat Manda merasa tak karuan.
"Tapi gak gitu dong caranya... Jika kamu ingin melakukan hal tersebut maka ijinkan aku untuk ikut tetap tinggal bersama mu..." ucap Manda kemudian seakan tidak terima akan keputusan yang di buat oleh Zaki barusan.
Mendengar perkataan Manda barusan tak langsung membuat Zaki mengiyakannya, yang Zaki lakukan malah menarik tangan Manda dengan erat kemudian mendekat menuju ke arah pintu lorong.
"Anak-anak kalian bertiga masuk terlebih dahulu dan jaga Manda untuk ku..." ucap Zaki memberikan perintah kepada ketiganya membuat Allen dan juga Ebra langsung dengan spontan mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
Sedangkan Mikaila yang mendengar perintah tersebut tadinya hendak melayangkan protes namun urung karena tangan Allen menahannya, membuat mulut Mikaila langsung terdiam seketika. Sesuai arahan dari Zaki, Ebra dan juga Allen terlihat turun lebih dahulu kemudian di susul dengan Mikaila.
"Aku tidak mau pergi..." ucap Manda dengan kekeh.
Namun mendengar hal tersebut malah membuat Zaki menggendong tubuh Manda dan memasukkannya ke dalam.
"Apa-apaan kau lepaskan aku.... Lepaskan!" teriak Manda sebelum pada akhirnya masuk ke dalam.
Ebra dan Allen yang melihat Zaki berhasil membawa Manda masuk, lantas memeganginya dengan erat agar Manda tidak bisa kembali naik ke atas.
"Pergilah dengan perlahan mengikuti alur lorong ini dan jaga dia untuk ku..." ucap Zaki sambil memberikan sebuah senter kepada Mikaila sebelum pada akhirnya menutup pintu lorong tersebut.
"Tidak... Zaki kamu tidak bisa melakukan ini.... Zaki..." teriak Manda yang terdengar hingga keluar dari lorong tersebut, membuat setetes air mata lantas jatuh tanpa Zaki minta membasahi pipinya.
"Setidaknya baik dari dulu maupun sekarang aku memilih untuk menyelamatkan dirimu... Selamat tinggal Manda..." ucap Zaki dengan tatapan yang berkaca-kaca.
Disaat perasaan Zaki tengah kacau dan juga campur aduk, sebuah suara derap langkah kaki terdengar dengan jelas menggema di telinganya membuat Zaki yang mendengar hal tersebut lantas langsung bangkit dan membereskan keadaan sekitar termasuk memasang kembali rantai pada papan kayu tersebut.
Tap tap tap
Suara langkah kaki tersebut terdengar kian mendekat dan mendekat, membuat Zaki mempercepat gerakan tangannya untuk kembali menutup papan kayu tersebut dengan beberapa kain lusuh dan juga bangku yang tak terpakai. Sampai kemudian ketika suara derap langkah kaki itu kian mendekat dengan mengambil napasnya secara cepat, Zaki berusaha membuat semuanya tampak seperti normal dan tentu saja tidak mencurigakan.
__ADS_1
Sampai kemudian seseorang yang tak asing baginya muncul seorang diri dengan langkah kaki yang terburu-buru.
"Rahmat?" ucap Zaki dengan spontan begitu melihat seseorang tersebut ternyata adalah Rahmat.
Tidak hanya Zaki yang terkejut, Rahmat yang mengira tidak ada siapapun di sana lantas langsung menghentikan langkah kakinya begitu melihat Zaki di sana.
Hening beberapa saat, tidak ada satupun dari keduanya yang memulai pembicaraan sampai kemudian seulas senyum lantas terbit dari wajah Rahmat, membuat Zaki yang melihat senyuman tersebut lantas bertanya-tanya.
"Biar aku tebak, kau berada di sini pasti tengah mencari pintu menuju lorong tersebut bukan?" ucap Rahmat dengan tatapan yang sinis mengarahkan kepada Zaki.
Mendengar perkataan Rahmat barusan tentu saja langsung membuat Zaki berdecih sambil menatap dengan tatapan yang meremehkan.
"Ternyata kau pun sama, bukan? Lagi pula mengapa kau malah kabur sendirian? Bukankah pasukan mu banyak? Apa susahnya tinggal lewat gerbang depan? Apa kau ingin kabur dari anak buah mu? Dasar pecundang!" ucap Zaki dengan senyum yang mengejek.
"Kau... Apa kau ingin ku kirim ke neraka bersama mulut kotor mu itu!" teriak Rahmat yang tersinggung dengan kata-kata Zaki sambil menodongkan pistolnya ke arah Zaki.
Sedangkan Zaki yang melihat hal tersebut bukannya takut ia malah tersenyum, setidaknya hanya dengan cara ini dia bisa mengulur waktu dan membiarkan Manda dan yang lainnya pergi terlebih dahulu dari sini tanpa Rahmat sadari.
"Tembak saja aku... Lagi pula kita berdua akan mati bersama di sini, sekarang atau nanti itu sama saja! Bukankah sebentar lagi Bom tersebut akan meledak? Jadi mari kita mati sama-sama." ucap Zaki yang tentu saja membuat Rahmat terkejut karena tak menyangka bahwa Zaki mengetahui perihal Bom tersebut.
Rahmat yang terlanjur kesal akan ucapan dari Zaki barusan lantas membuang pistolnya begitu saja ke arah samping, yang membuat Zaki langsung mengernyit ketika melihat aksi Rahmat barusan.
__ADS_1
"Baiklah jika memang itu yang kau inginkan, mari kita lihat siapa yang akan pergi ke neraka terlebih dahulu!" pekik Rahmat kemudian sambil berlarian menghampiri Zaki untuk mengajaknya berduel.
Bersambung