
Duar...
"Sial" ucap Ardi dengan nada yang kesal membuat Arhan langsung dengan spontan menoleh ke arah Ardi dan bertanya-tanya apa yang terjadi.
Tepat setelah bunyi meletus barusan Ardi lantas langsung menepikan mobilnya ke sebelah kemudian keluar dengan terburu-buru dan memutari mobilnya untuk melihat apa yang sedang terjadi, Arhan yang tidak tahu apapun saat itu lantas ikut turun dari dalam mobil dan melihat apa yang sedang ditatap oleh Ardi saat ini.
"Apa yang terjadi Pak?" tanya Arhan kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Ardi saat ini.
"Ban mobilnya meletus kita harus menggantinya terlebih dahulu." ucap Ardi sambil menunjuk ke arah ban mobil bagian depan yang terlihat sudah kempes saat ini.
Arhan yang mendengar perkataan dari Ardi barusan lantas langsung menoleh mengikuti arah tunjuk dari Ardi barusan.
"Apakah lama Pak?" tanya Arhan.
"Mungkin sekitar 20 menitan tapi aku akan berusaha secepatnya." ucap Ardi sambil mulai memutari mobilnya menuju ke arah bagasi untuk mengambil beberapa peralatan dan juga ban serep agar segalanya lebih cepat selesai.
Melihat Ardi mulai bergerak lantas membuat Arhan menjambak rambutnya dengan kasar, waktu 20 menit tentulah waktu yang sangat lama. Apapun bisa terjadi dalam kurun waktu itu, belum lagi perjalanan menuju kesana juga akan memakan waktu. Jika sudah begini kemungkinan tercepat Arhan sampai di sana adalah sekitar 1 jaman dan hal itu sangat membuat Arhan frustasi karenanya.
"Arhhh benar-benar sial! Bagaimana bisa aku datang tepat waktu jika begini keadaannya?" ucap Arhan dengan nada yang menggerutu.
"Kemarilah nak Arhan bantu bapak agar semuanya bisa selesai dengan cepat!" teriak Ardi kemudian yang lantas membuat Arhan langsung datang dan menghampirinya.
"Iya pak saya datang!" ucap Arhan pada akhirnya karena hanya ini cara yang bisa ia lakukan untuk mempercepat segalanya. Jika Arhan memutuskan untuk berjalan saat ini menuju ke Sekolahan, bukankah itu akan semakin memakan waktu yang lama?
__ADS_1
***
Gudang belakang
Di dalam gudang belakang terlihat Mikaila, Allen dan juga Ebra kini tengah sibuk memikirkan cara agar bisa keluar dari tempat ini. Mereka benar-benar tidak tahu jika segalanya akan jadi seperti ini, jika mereka keluar sekarang sudah pasti segala akses pintu keluar telah ditutup dan di jaga dengan ketat, membuat ketiganya tidak tahu lagi harus berbuat apa saat ini.
"Apa kau sidah menghubungi Arhan?" tanya Allen kemudian kepada Ebra namun jawaban dari Ebra hanya gelengan kepala yang lantas membuat Allen menghela napasnya dengan panjang.
"Aku sudah menghubunginya tapi sama sekali tidak nyambung, sepertinya ponsel Arhan telah kehabisan baterai karena tidak bisa dihubungi sama sekali." jawab Ebra dengan raut wajah yang kecewa.
Mendengar jawaban tersebut membuat Allen dan juga Mikaila mulai terlihat frustasi karena Arhan sekalipun tidak bisa dihubungi sama sekali.
Keheningan kemudian kembali terjadi diantara ketiganya baik Allen, Mikaila dan juga Ebra saat ini tengah menyelami pikiran mereka masing-masing sambil terus memutar otak sekaligus mencari jalan keluar yang terbaik dari masalah ini.
"Janganlah optimis seperti itu Kai, lagi pula aku yakin bahwa kita akan bisa keluar dalam keadaan hidup-hidup dari tempat ini. Apa kau percaya kepadaku?" ucap Allen kemudian mencoba untuk menyemangati teman-temannya.
"Yap Allen ada benarnya juga, kita harus selalu berpikir positif dan tetap yakin bahwa kita akan selamat. Untuk itu kita perlu mencari cara agar bisa keluar dari sini." ucap Ebra yang ikut nimbrung pembicaraan keduanya.
Helaan napas terdengar berhembus dari mulut Mikaila ketika mendengar dorongan dan juga semangat dari Allen dan Ebra. Seulas senyum kemudian terlihat terbit dari wajah Mikaila membuat Allen dan juga Ebra ikut tersenyum ketika melihatnya. Sampai kemudian ketika ketiganya sedang lengah sebuah suara pintu di buka paksa dari luar lantas mengejutkan mereka bertiga, membuat ketiganya yang tidak punya kesempatan untuk lari terlihat hanya terdiam di tempatnya sambil bersiap apa yang tengah menanti mereka dari balik pintu tersebut.
"Kalian beneran ada di sini? Oh syukurlah... Ibu mencari kalian sedari tadi..." ucap Manda dengan raut wajah yang bahagia begitu melihat Allen, Ebra dan juga Mikaila ada di dalam.
Ketiganya yang mendengar perkataan dari Manda tentu saja kebingungan sambil menatap ke arah satu sama lain secara berganti karena tidak tahu apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Bu Manda..." ucap Mikaila yang lantas di balas Manda dengan senyuman.
Hingga ketika ketiganya yang tadinya mengira bahwa hanya ada Manda di sana, tak berapa lama masuklah sosok yang tentu saja begitu membekas di pikiran mereka bertiga datang mendekat ke arah Manda.
"Ayo kita harus segera pergi dari sini, aku mendapat informasi jika ada lorong di sekitaran sini yang mengarah menuju luar sekolah." ucap Zaki dengan nada yang terburu-buru membuat semua orang lantas langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang bingung begitu mendengar kata lorong keluar dari mulut Zaki barusan.
"Apa kau yakin? Mengapa aku baru mengetahuinya?" ucap Manda yang tak langsung percaya begitu saja.
"Ada seorang kenalan yang memberikan ku informasi tentang ini, sebaiknya sekarang kita segera pergi dari sini sebelum Rahmat meledakkan seluruh bangunan sekolahan." ucap Zaki lagi yang semakin membuat Mikaila, Allen dan juga Ebra tak mengerti sama sekali akan arah pembicaraan keduanya itu.
"Tunggu sebentar, ini ada apa sebenarnya?" ucap Allen kemudian memberanikan diri sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Manda.
Manda yang mendapat pertanyaan tersebut kemudian lantas menghela napasnya panjang kemudian mulai menceritakan inti dari permasalahan yang tengah Zaki dan Manda bahas saat ini. Sedangkan Allen, Ebra dan juga Mikaila yang mendengar penjelasan tersebut tentu saja terkejut bukan main apalagi ketika kata bom terdengar dengan jelas dan menggema di telinga mereka masing-masing.
"Dia benar-benar sudah gila!" ucap Allen yang tak habis pikir akan jalan pemikiran Rahmat yang gila itu.
"Untuk itu kita harus segera pergi dari sini, sebelum Rahmat menemukan kita di sini." ucap Manda kemudian mengajak ketiganya untuk segera bergegas.
"Ayo cepat bergerak... Aku akan menunggu kalian di luar sekaligus melihat situasinya." ucap Zaki kemudian melangkahkan kakinya keluar dari sana.
Keheningan terjadi tepat setelah Zaki melangkahkan kakinya keluar. Baik Allen, Mikaila maupun Ebra seperti tidak terlalu percaya kepada Zaki mengingat segala hal yang dilakukan oleh Zaki terlalu berlebihan.
"Apa menurut anda pak Zaki bisa di percaya?" ucap Ebra kemudian membuka suara.
__ADS_1
Bersambung