
Peserta perempuan itu nampak tersenyum ketika memikirkan sebuah ide yang mungkin bisa ia gunakan untuk menyelamatkan nyawanya sekaligus keluar dari tempat ini.
"Sepertinya ide ku kali ini tidak terlalu buruk..." ucap perempuan itu dengan tersenyum miring.
Ketika keempatnya tengah berdiskusi tentang permainan kali ini, tanpa mereka sadari peserta perempuan tersebut nampak mengendap endap mendekat ke arah Mikaila dengan mengambil langkah kaki jongkok agar mereka berempat tidak menyadari akan kedatangannya.
Di saat langkah kakinya sampai tepat di belakang Mikaila, tanpa berpikir panjang lagi peserta perempuan tersebut langsung memeluk tubuh Mikaila dengan erat dan menariknya ke belakang, hingga membuat tubuh Mikaila dan juga dirinya berguling cukup jauh dari posisi Mikaila berdiri semula.
"Ah...." pekik Mikaila yang terkejut akan tarikan yang tiba tiba itu.
Baik Allen, Arhan maupun Ebra yang melihat Mikaila terjatuh karena tarikan dari peserta perempuan tersebut, lantas terkejut bukan main dan dengan spontan langsung berbalik badan berusaha untuk menolong Mikaila.
Mikaila dan perempuan itu terus berguling dan berhenti tepat di bibir lubang karena terhalang sebuah batu besar yang mengenai punggung Mikaila. Mikaila yang masih berusaha memfokuskan tubuhnya yang terasa oleng karena gulingan barusan, lantas merasa seperti di tarik naik kemudian di piting oleh perempuan itu.
"Berhenti di tempat kalian atau aku akan melempar dia ke bawah sekarang juga!" ucap peserta perempuan itu sambil mengarahkan batu lancip tepat di atas leher Mikaila.
Mendengar ancaman tersebut, ketiganya langsung dengan spontan berhenti di tempatnya dan tidak lagi bergerak. Allen memberikan isyarat kepada Arhan dan juga Ebra untuk tidak bergerak dan tetap di tempatnya sesuai keinginan dari peserta perempuan tersebut.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan ha? lepaskan Mikaila!" pekik Allen.
"Melepaskannya katamu? tentu saja itu tidak mungkin karena aku juga ingin hidup dan keluar dari tempat ini!" teriak perempuan itu dengan senyuman yang menyeringai.
Allen terdiam ketika mendengarkan ucapan perempuan itu, jika melihat dari reaksinya sepertinya perempuan itu mendengar semua percakapan Allen dan juga yang lainnya tadi. Menyadari hal itu Allen lantas berdecak dengan kesal sambil mengusap rambutnya dengan kasar, karena ia merasa telah kecolongan dan lupa bahwa peserta yang tersisa tidak hanya ia, Mikaila, Ebra dan juga Arhan melainkan adu satu orang lagi dan tentu saja sama sekali ia tidak kenal.
__ADS_1
Arhan yang melihat situasi kian menegang, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mikaila dengan langkah kaki yang perlahan.
"Tenanglah... kita cari solusinya sama sama, dengan tindakan mu yang seperti ini sama sekali tidak membuat kau selamat dari permainan ini." ucap Arhan kemudian dengan nada yang lembut.
"Kau yang diam, aku tetap pada pendirian ku dan tidak akan pernah mendengarkan ucapan kalian, jika kalian memang ingin nyawa gadis ini selamat... maka aku minta dua orang dari kalian terjun secara sukarela ke dalam lubang itu!" ucap perempuan itu dengan tidak tahu malunya.
Mendengar ucapan perempuan itu membuat Arhan langsung menghentikan langkah kakinya. Lubang ini tentulah sangat dalam dan ia tidak terlalu yakin akan jadi seperti apa nasibnya jika tiba tiba terjun ke dalam lubang itu. Tidak hanya Arhan bahkan Ebra dan juga Allen pun tengah memikirkan hal yang sama dan bingung harus mengambil langkah apa di saat saat seperti ini.
Mikaila yang dalam sandraan perempuan itu lantas ikut terdiam dan bingung harus berbuat apa, Mikaila tentu tidak ingin mati saat ini namun ia juga tidak bisa jika harus melihat tiga orang laki laki di hadapannya ini berkorban lagi untuknya. Cukup sudah Mikaila kehilangan Fatur, Emeli dan juga Linda, saat ini Mikaila benar benar tidak ingin lagi kehilangan yang lainnya.
"Lepaskan aku dan aku akan lompat ke dalam lubang itu!" ucap Mikaila kemudian sambil menggigit bibir bagian bawahnya seakan berusaha menahan gejolak di dalam hatinya yang terus mengatakan untuk melakukan hal yang sebaliknya.
"Jangan gila kau Kai!" bentak Allen kemudian yang lanta membuat semua orang langsung terdiam seketika.
"Bukankah aku sudah kehilangan yang lainnya? jadi ketimbang aku melihat orang lain berkorban untuk ku lebih baik aku yang berkorban untuk mereka." ucap Mikaila sambil menahan isak tangisnya agar tidak keluar.
"Aku!"
"Kalian berdua diam ku bilang!" teriak perempuan itu sambil tanpa sengaja mendorong batu di tangannya hingga mengenai area leher Mikaila dan menggoresnya.
Setetes darah mengalir membasahi batu yang di pegang perempuan itu, membuat Allen, Arhan dan juga Ebra lantas terkejut ketika melihat batu yang di pegang perempuan itu melukai Mikaila.
"Baik aku akan loncat, asalkan jauhkan batu yang kau pegang itu dari leher Mikaila." teriak Arhan kemudian yang lantas membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Kau jangan ikut ikutan gila Ar... tidak ada yang akan loncat ke dalam lubang itu... tidak ada!" ucap Allen menentang keras ucapan Arhan barusan.
"Percayakan semua padaku Al... kali ini saja ku mohon..." ucap Arhan kemudian sambil mengerlingkan kelopak matanya beberapa kali.
Melihat hal tersebut Allen langsung terdiam seketika, seakan mulai mengerti bahwa ini hanyalah akal akalan Arhan saja untuk mengecoh perempuan itu. Namun entah mengapa rasanya Allen tidak terlalu yakin akan rencana dari Arhan kali ini?
"Aku percaya padanya Al, untuk itu aku akan ikut lompat bersama dengan Arhan." ucap Ebra dengan tiba tiba yang lantas membuat Allen dengan spontan menoleh ke arah Ebra.
Allen yang mendengar ucapan Ebra barusan tentu saja kembali terkejut, Allen bingung antara Ebra yang ikut berakting bersama dengan Arhan atau Ebra yang sungguh sungguh akan melompat ke dalam lubang. Sedangkan Mikaila yang mendengar ketiganya berdebat hanya bisa meringis sambil menahan perih yang menjalar di area lehernya akibat goresan batu tersebut.
"Bagus... dua sekaligus lebih baik, jadi mari kita selesaikan dengan cepat masalah ini." ucap perempuan tersebut dengan tersenyum.
Dengan langkah yang perlahan Arhan dan juga Ebra mulai mendekat ke arah kanan dan juga kiri perempuan tersebut.
"Ayo tunggu apa lagi? loncat sekarang juga..." ucap perempuan tersebut.
"Lepaskan Mikaila terlebih dahulu baru kami akan lompat ke sana." ucap Arhan dengan nada penuh penekanan.
"Tidak akan, kalian pasti sedang menipu ku, bukan?" ucap perempuan tersebut tak ingin langsung percaya.
"Jika kami berbohong, untuk apa kami berdua berdiri di sini?" ucap Ebra dengan nada yang kesal.
Mendengar ucapan Ebra barusan, perempuan itu nampak terdiam seakan tengah berpikir dan mencerna ucapan keduanya, hingga beberapa menit kemudian barulah perlahan lahan perempuan itu mulai melepas cengkeramannya kepada Mikaila.
__ADS_1
"Aaaaaa"
Bersambung