
"Ada yang telah gugur!" ucap Allen dengan singkat yang membuat Mikaila menatapnya dengan raut wajah yang penasaran menunggu kelanjutan ucapan dari Allen barusan.
"Apa maksud ucapan mu?" tanya Mikaila dengan raut wajah yang penasaran.
Mendengar pertanyaan dari Mikaila barusan, membuat Allen lantas dengan spontan langsung menoleh ke arah Mikaila. Allen yang merasa tidak bisa lagi menyembunyikannya dari Mikaila, mulai membuka suaranya dan menceritakan maksud dari alarm panjang yang berbunyi barusan. Sebuah bunyi yang menandakan tentang gugurnya salah satu pemain dalam event outbond kali ini. Tidak ada yang tahu maksud dari kata gugur dalam hal ini, entah itu meninggal atau hanya cidera saja namun selebihnya tidak ada yang tahu pasti akan apa yang terjadi dengan peserta yang gugur itu.
Hanya suara alarm yang panjang menjadi penanda bahwa peserta dalam acara event ini berkurang sesuai dengan seberapa banyak suara alarm panjang itu berbunyi. Mikaila yang mendengar penjelasan dari Allen barusan, terlihat terdiam mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Allen barusan. Awalnya Mikaila ingin terkejut dengan informasi yang baru saja ia dapatkan, namun ketika menarik memori dan kembali mengingat setiap kematian satu persatu siswa di sekolahnya, membuat Mikaila hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang karena apa yang terjadi dalam event ini bukanlah sesuatu yang baru.
Ketika keduanya sedang asyik berbincang dan saling bertanya jawab perihal event kali ini, sebuah suara panggilan dengan nada suara yang tidak asing lantas terdengar dari bawah, membuat pembicaraan keduanya lantas terhenti seketika.
Allen yang mendengar panggilan itu berasal dari Ebra yang terlihat sudah turun dari pohon yang ia panjat, lantas menatap dengan tatapan yang penuh tanda tanya kepada Ebra.
"Kita harus segera turun dan bergerak, aku yakin yang lainnya pasti tidak akan jauh dari sini." ucap Ebra sambil mendongak menatap ke arah Allen dan juga Mikaila secara bergantian.
Mendengar ajakan Ebra barusan, Allen langsung dengan spontan meloncat ke tanah dengan gaya yang elegan, kemudian mengebaskan kedua tangannya yang sedikit kotor tanpa mengatakan apapun, sedangkan Mikaila yang melihat cara turun Allen walau dengan jarak yang setinggi itu, hanya bisa melongo karena Allen lompat dengan begitu mudahnya tanpa ancang ancang sedikitpun. Mikaila menatap ke arah bawah secara perlahan kemudian menelan salivanya dengan kasar, berada di ketinggian seperti ini membuat nyali Mikaila menciut karena takut.
"Em permisi... bisakah kalian membantu ku untuk turun dari sini?" ucap Mikaila pada akhirnya karena Allen dan juga Ebra malah asyik berbicara sedari tadi tanpa menghiraukannya atau membantu Mikaila turun dari sana.
__ADS_1
Mendengar ucapan Mikaila baik Ebra maupun Allen dengan spontan langsung mendongak menatap ke arah atas mengikuti sumber suara barusan. Wajah Mikaila kini bahkan sudah terlihat kebingungan akan apa yang harus dia lakukan agar Mikaila bisa turun dari pohon tersebut. Seulas senyum terlihat terbit dari wajah Allen ketika melihat wajah ketakutan yang di tunjukkan oleh Mikaila.
"Turunlah Kai... tinggal loncat saja, apa yang kamu takutkan?" ucap Allen dengan tersenyum simpul namun malah membuat Mikaila langsung mendengus dengan kesal.
"Ini tinggi Al... mengertilah sedikit saja." ucap Mikaila lagi.
"Jika kamu tidak turun sekarang, aku dan Ebra akan pergi dari sini dan meninggalkan mu." ucap Allen yang lantas langsung membuat Ebra dan juga Mikaila dengan spontan menoleh ke arah Allen, seakan menatap dengan tatapan yang tidak percaya akan ucapan Allen barusan.
Sedangkan Allen yang melihat tatapan keduanya, hanya tersenyum dengan tipis kemudian mengkode Ebra untuk pura pura pergi dari sana. Mikaila yang melihat Allen dan Ebra pergi, lantas melongo tidak percaya sambil kembali menatap ke arah bawah, mencoba mengukur ketinggian dahan pohon yang ia duduki.
Pada akhirnya Mikaila kemudian lantas melompat sambil memejamkan matanya terjun ke bawah, ia bahkan sudah tidak lagi memikirkan bakal jadi apa dia ketika sampai di bawah nanti.
Bug....
Hening sesaat tidak ada suara apapun yang terdengar, membuat Mikaila lantas merasa bingung karena anehnya ia sama sekali tidak merasa kesakitan walau sudah sampai di bawah, hingga dengan perlahan lahan Mikaila kemudian lantas memberanikan diri untuk mengintip keadaan sekitar dan yang ia lihat untuk pertama kalinya ketika membuka mata adalah Allen, ya Allen dengan wajah dinginnya itu, membuat Mikaila langsung melebarkan kelopak matanya dan celingukan ke arah sekitaran.
"Jika mau turun itu lihat ke bawah, jika kamu menutup matamu seperti itu... ketika kamu bangun mungkin kamu sudah berbeda alam!" ucap Allen sambil menurunkan tubuh Mikaila secara perlahan dari gendongannya.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Allen barusan, membuat Mikaila langsung memutar bola matanya dengan jengah karena bisa bisanya Allen malah mengatakan hal tersebut, padahal jelas jelas Mikaila ketakutan tadi sebelum pada akhirnya memutuskan untuk melompat juga.
"Benar benar menyebalkan!" ucap Mikaila dengan raut wajah yang kesal ketika mendengar ucapan dari Allen barusan.
"Sudah sudah ayo berangkat sekarang sebelum rintangan yang selanjutnya kembali di buka." ucap Ebra mengajak dua orang tersebut karena mulai lelah sedari tadi hanya mendengar Mikaila dan juga Allen berdebat dan tanpa henti.
Pada akhirnya keduanya kemudian lantas mulai melangkahkan kakinya meninggalkan daerah tersebut untuk mencari keberadaan teman temannya yang lain, ketiganya mulai melangkahkan kaki mereka menyusuri area hutan tersebut mencari keberadaan Linda, Arhan, Fatur, Emeli dan juga Rama dengan peralatan seadanya yang telah mereka siapkan sebelumnya.
Tak banyak peralatan yang mereka bawa karena memang para peserta tidak di ijinkan untuk membawa tas atau semacamnya, hanya beberapa pisau lipat, P3K dalam bentuk semini mungkin, hingga beberapa hal penting lainnya yang mungkin akan berguna untuk menjelajahi hutan ini selama dua hari ke depan, mereka semua membaginya masing masing di setiap individu dan hanya di letakkan pada saku celana mereka masing masing saja.
Ebra terlihat memimpin jalan sambil sesekali menyingkirkan beberapa ranting pohon dan juga tanaman menjalar, agar tidak menghalangi jalan mereka mencari anggota kelompok mereka sebelum peserta yang lainnya menemukan mereka. Sesekali Allen dan juga Mikaila membantu mengawasi sekitar dan menetralkan lokasi yang mereka pijak, karena apabila mereka tertangkap dron panitia penyelenggara event ini, entah apa yang akan menjadi hukuman untuk mereka.
Langkah demi langkah terus mereka lalui menyusuri hutan yang kian terlihat rimbun dan sulit untuk di jamah. Hingga ketika keduanya berhenti sejenak untuk mengambil nafas, sebuah suara semak belukar yang di injak lantas mulai terdengar dan mengejutkan ketiganya.
Kresek kresek...
Bersambung
__ADS_1