
Kantin
Di salah satu meja yang terletak di kantin, terlihat Ebra dan juga Allen tengah menatap serius ke arah Mikaila sekaligus mendengar segala cerita yang di alami oleh Mikaila semalam. Baik Allen maupun Ebra terlihat hanya melongo menatap ke arah Mikaila dengan tatapan yang seakan tidak percaya namun kenyataannya benar-benar ada. Sambil memberitahukan segala informasi yang Mikaila dapatkan dari penglihatan yang tiba-tiba terjadi kepadanya semalam, membuat ketiganya lantas terdiam seketika disaat Mikaila menyelesaikan segala keseluruhan ceritanya.
Tak ada satupun tanggapan ataupun sanggahan tepat setelah Mikaila menyelesaikan ceritanya, sampai kemudian terdengar suara Ebra mulai berpendapat yang lantas membuat Allen dan juga Mikaila langsung menatap ke arah sumber suara dengan raut wajah yang penasaran.
"Jadi menurut ceritamu barusan jika aku tarik kesimpulan, semua hal yang ada dan terjadi di sini akan selesai ketika kita berhasil menemukan jasad Rini di ruangan bu Viola, begitu?" tanya Ebra kemudian yang mencoba menarik kesimpulan dari kisah Mikaila.
"Aku tidak sepenuhnya yakin akan hal itu namun setidaknya kita perlu untuk mencobanya." ucap Mikaila kemudian.
Sedangkan Allen yang juga mendengar hal tersebut lantas ikut mengiyakan jawaban dari Mikaila karena bagaimana pun juga kemunculan Rini pasti ada maksud tertentu di mana ketiganya harus mencari tahu akan arti dari semua kejadian ini.
"Jadi apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Ebra kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Mendapat pertanyaan tersebut Mikaila dan juga Allen nampak kembali terdiam seakan tengah berpikir jalan apa yang mereka ambil selanjutnya. Sampai sebuah ide yang mendadak terlintas begitu saja di kepala Allen, membuat seulas senyum lantas terbit dari wajah Allen saat ini.
"Apa kamu punya semacam chip seperti yang di berikan oleh bu Manda kala itu?" tanya Allen kemudian yang lantas membuat Mikaila menatap dengan bingung ketika mendengar pertanyaan Allen barusan.
Sedangkan Ebra yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung terdiam sejenak seakan tengah berpikir apakah barang yang diminta oleh Allen masih ada atau tidak.
__ADS_1
"Aku ada beberapa, namun jika kamu membutuhkan banyak kita butuh bantuan Arhan untuk memasok perlengkapannya agar aku bisa membuatnya dengan segera." jawab Ebra dengan nada yang lirih takut ada seseorang yang mendengar percakapan mereka.
"Tidak perlu, cukup yang kau miliki saja karena aku punya rencana akan hal tersebut." ucap Allen kemudian dengan tersenyum menyeringai, membuat Mikaila dan juga Ebra yang melihat senyuman tersebut langsung saling pandang antara satu sama lainnya seakan bertanya maksud dari senyuman Allen barusan.
***
Area belakang ruangan Kepala sekolah
Allen, Ebra dan juga Mikaila yang sudah sepakat untuk berkumpul di area belakang ruangan Kepala sekolah setelah jam sekolah berakhir, saat ini terlihat tengah berdiri membentuk lingkaran bersiap untuk mengatur strategi yang akan mereka lakukan saat ini juga. Allen yang melihat Ebra membawa tiga chip yang bisa digunakan untuk mewujudkan rencananya, lantas mulai membaginya satu kepada Mikaila, satu untuk Ebra dan satu lagi untuknya. Membuat Mikaila dan juga Ebra yang menerima pemberian chip tersebut lantas hanya bisa menatap penuh tanda tanya kepada Allen seakan tengah menunggu penjelasan dari Allen saat ini.
"Baiklah aku memberikan masing-masing satu kepada kalian, untuk Mikaila letakkan chip tersebut di ruangan Kepala sekolah, Ebra di ruang guru sedangkan aku akan meletakkan chip ini di area kantin. Usahakan kalian meletakkannya di tempat yang strategis dan tentu saja tidak bisa terlihat dan di sadari oleh orang-orang." ucap Allen kemudian mulai membagi tugas masing-masing kepada Ebra dan juga Mikaila.
"Apa kamu tidak ingin menjelaskannya terlebih dahulu Al kepada kami tentang semua ini?" tanya Mikaila kemudian karena jujur saja hingga saat ini ia bahkan belum mengerti apa rencana yang tengah dipikirkan oleh Allen sebenarnya.
Mendengar jawaban dari Allen barusan pada akhirnya membuat Mikaila dan juga Ebra tidak lagi bisa protes dan membuat keduanya mau tidak mau mulai bergerak mengikuti semua instruksi yang diberikan oleh Allen tanpa pernah tahu tujuan akhir dari rencana ini.
Setelah Ebra dan juga Mikaila mengerti akan segala instruksi yang diberikan oleh Allen, keduanya lantas terlihat mulai bergerak sesuai arahan Allen dan meninggalkan Allen seorang diri di sana yang masih menatap kepergian Ebra dan Mikaila hingga menghilang dari pandangannya.
"Aku berharap rencana ku kali ini akan berhasil, semoga saja..." ucap Allen kemudian sambil menatap kepergian keduanya, baru setelah itu mulai bergerak untuk mengerjakan bagiannya.
__ADS_1
***
Ruang guru
Di depan ruang guru Ebra terlihat tengah menghentikan langkah kakinya sebentar di sana, ada sebuah perasaan gugup sekaligus takut ketahuan dalam hatinya ketika ia hendak masuk ke dalam area ruang guru. Sambil menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan hatinya, Ebra nampak mulai melirik keadaan di ruang guru dengan tatapan yang menelisik. Sampai ketika Ebra merasa ruang guru sedikit lebih sepi, dengan langkah kaki yang perlahan tapi pasti Ebra mulai melangkahkan kakinya memasuki area ruang guru sambil melihat ke arah sekeliling dan pandangannya terhenti pada meja Zaki yang kebetulan saat itu tengah terlihat kosong dan tak berpenghuni.
"Sepertinya meja pak Zaki cocok." ucap Ebra dalam hati.
Ebra yang melihat ada sebuah kesempatan saat itu juga, lantas terlihat mulai mengambil langkah ke arah meja Zaki dan mencari posisi teraman untuk meletakkan chip tersebut. Sambil menoleh ke arah kanan dan kiri Ebra yang memastikan situasi aman saat itu, dengan gerakan yang cepat ia menyelipkan chip tersebut diantara pot tanaman yang ada di meja Zaki.
Hanya saja ketika Ebra sibuk meletakkan chip tersebut, sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas terdengar dan mengejutkan Ebra yang tengah meletakkan chip tersebut ke dalam pot di meja Zaki.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya sebuah suara yang tentu saja membuat Ebra langsung terkejut seketika karena beranggapan bahwa ia telah ketahuan.
Mendengar suara tersebut membuat Ebra dengan perlahan-lahan mulai memutar tubuhnya dan berbalik badan bersiap untuk menyiapkan jawaban akan pertanyaan yang baru saja terdengar pada telinganya itu.
"Eh bu Manda" ucap Ebra dengan tersenyum aneh menatap ke arah Manda yang terlihat tengah mengambil posisi bersendekap dada sedang menatap ke arahnya.
Manda yang melihat gelagat aneh dari Ebra lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Ebra berada, membuat keringat dingin terlihat mulai membasahi dahinya saat ini.
__ADS_1
"Mati aku, apa bu Manda melihat segalanya?" ucap Ebra dalam hati.
Bersambung