
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" ucap sebuah suara yang lantas mengejutkan Allen.
Mendengar suara barusan membuat Allen yang baru saja selesai memasang chip tersebut ke tempat pilihannya, lantas memejamkan matanya secara singkat kemudian secara perlahan-lahan mulai berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara. Ketika ia berbalik badan tepat pada area belakangnya, terlihat Fadi tengah menatapnya dengan tatapan yang bertanya saat itu. Membuat Allen lantas langsung tersenyum dengan garing mencoba untuk mencairkan suasana sambil memegangi perutnya bersiap untuk mulai berakting kembali.
"Maaf Kak saya sedang sakit perut dan tengah mencari toilet ke sana kemari namun saya tidak ketemu juga." ucap Alen kemudian sambil berusaha bergerak kesana kemari agar aktingnya terlihat lebih meyakinkan.
Mendengar hal tersebut membuat Fadi lantas menghela napasnya dengan panjang kemudian menunjuk ke arah toilet yang berada di sebelah kanannya, membuat Alen yang melihat arah tunjuk tersebut lantas langsung mengangguk sambil memberikan hormat kepada Fadi kemudian melangkahkan kakinya dengan bergegas sambil memegangi perutnya menuju ke arah kamar mandi yang ditunjukkan oleh Fadi barusan.
"Terima kasih banyak kakak" ucap Allen kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya dari sana.
Melihat hal tersebut membuat Fadi lantas hanya bisa menatap ke arah kepergian Allen dengan tatapan yang bertanya sekaligus penasaran, namun ketika Fadi melihat langkah kaki Allen yang terburu-buru menuju ke arah kamar mandi. Membuat Fadi lantas kembali menghela napasnya dengan kasar setidaknya Allen tidaklah berbohong, ia benar-benar masuk dan meminta izin ke dalam hanya untuk ke kamar mandi bukan untuk yang lainnya.
"Sudahlah yang terpenting dia harus keluar sebelum Reno pulang atau urusannya akan menjadi semakin panjang." ucap Fadi kemudian sambil melangkahkan kakinya keluar dari sana meninggalkan area dapur.
***
Sementara itu di depan ruang Kepala Sekolah terlihat Mikaila tengah melangkahkan kakinya dengan mondar-mandir ke arah kanan dan kiri, Mikaila benar-benar bingung harus dengan alasan apa ia bisa masuk ke dalam ruang Kepala Sekolah. Sambil memutar otaknya dan terus berpikir Mikaila mencari cara agar ia bisa masuk ke dalam ruang Kepala Sekolah, hingga kemudian setelah beberapa menit berpikir sebuah ide lantas muncul di dalam benaknya membuat seulas senyum Mikaila lantas terlihat jelas tepat setelah Mikaila melihat Roki melangkahkan kakinya tak jauh dari tempatnya berada. Mikaila yang yakin Roki akan menuju ke ruang Kepala Sekolah lantas langsung berusaha menghentikan langkah kaki Roki, membuat Roki sedikit bingung akan tingkah Mikaila saat ini.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Roki dengan raut wajah yang penasaran ke arah Mikaila.
Mikaila yang mendapat pertanyaan tersebut dari Roki lantas tidak langsung menjawabnya, Mikaila malah menatap ke arah Roki sambil melirik sebuah map yang kini tengah di bawa oleh Roki di tangannya, membuat Roki semakin tak mengerti akan apa yang sedang dilakukan Mikaila saat ini.
"Kamu mau ke ruangan bu Viola?" tanya Mikaila kemudian yang di balas anggukan kepala oleh Roki.
"Iya, aku di suruh pak Zaki mengantarkan buku tahunan yang di minta oleh bu Viola..." ucap Roki belum selesai menjelaskan namun sudah lebih dahulu di potong oleh Mikaila barusan.
"Kalau begitu biar aku yang mengantarnya, ada urusan yang hendak aku lakukan ke ruangan bu Viola jadi sekalian saja." ucap Mikaila sambil mengambil map yang berada di tangan Roki saat ini.
"Tapi Kai..." ucap Roki hendak menolak namun Mikaila malah mengangkat tangannya seakan mengatakan kepada Roki untuk tidak kembali menolak.
Melihat kepergian Mikaila yang begitu saja dan tidak bisa ia cegah, pada akhirnya membuat Roki hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Setelah melihat kepergian Mikaila masuk ke dalam ruang Kepala Sekolah, Roki kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk kembali menuju ke asrama.
**
Ruangan Kepala Sekolah
__ADS_1
Setelah Mikaila mengetuk pintu ruangan Kepala Sekolah selama beberapa kali dan tidak ada jawaban apapun dari dalam, Mikaila kemudian lantas melangkahkan kakinya begitu saja masuk ke dalam ruangan Kepala Sekolah. Ketika langkah kakinya masuk ke dalam suasana ruangan tersebut begitu sepi dan sunyi, membuat Mikaila lantas langsung tersenyum karena merasa bahwa apa yang akan ia lakukan selanjutnya benar-benar telah direstui oleh alam. Sambil melangkahkan kakinya dengan bergegas Mikaila kemudian mengedarkan pandangannya ke area sekitar dan mencoba mencari tempat teraman untuknya meletakkan micro chip tersebut.
"Sepertinya jika aku menaruhnya di antara pajangan dan foto di lemari tersebut, aku rasa akan dapat melihat seluruh ruangan ini dan tentunya tidak akan di sadari oleh Viola." ucap Mikaila sambil tersenyum dengan lebar menatap ke arah Lemari yang tepat berada di belakang kursi kebesarannya.
Dengan langkah kaki yang bergegas Mikaila kemudian melangkahkan kakinya ke arah kursi kebesaran Viola dan dengan cepat meletakkan micro chip tersebut ke tempat yang aman dan pastinya tidak akan di sadari siapapun akan posisinya jika memang tidak ada yang menyentuh pajangan tersebut.
"Sempurna" ucap Mikaila sambil menatap ke arah mikro chip yang berhasil ia letakkan dan tidak terlihat sama sekali meskipun ia lihat dari sudut pandang manapun.
Mikaila yang sudah yakin bahwa micro chip tersebut berhasil ia letakkan dengan aman kemudian langsung tersenyum dengan riang. Setelah itu ia meletakkan map yang tadi ia bawa ke meja milik Viola dan bersiap untuk melangkahkan kakinya pergi dari sana. Hanya saja ketika Mikaila hendak melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut, langkah kakinya terhenti ketika ia melihat ke sudut ruangan di mana terdapat tembok yang sedikit menjulang di area sana perlahan-lahan mulai merembes dan dari ujung tembok bagian bawah mengalir sebuah cairan berwarna merah yang mirip dengan darah.
"Cairan apa itu?" ucap Mikaila bertanya-tanya dalam hati sambil terus menatap ke arah lantai yang kini terlihat terus di banjiri oleh cairan tersebut.
Mikaila yang penasaran akan cairan tersebut, lantas perlahan-lahan tanpa sadar mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah cairan tersebut. Ketika langkah kakinya semakin dekat, Mikaila kemudian mengambil posisi jongkok untuk melihat apakah cairan tersebut benar-benar darah segar atau bukan. Mikaila terdiam di tempatnya ketika ia menyadari bahwa cairan itu benar-benar darah segar yang seakan merembes dari dalam tembok tersebut. Membuat Mikaila langsung terkejut ketika ia mengingat samar-samar tentang Rini yang di tanam di dalam tembok ruangan Viola.
"Tidak mungkin..." ucap Mikaila yang seakan terkejut.
"Apa yang kamu lakukan di sana?"
__ADS_1
Bersambung