
"Apa kamu sedang mencari ku Kai?" ucap sebuah suara yang tak asing bagi Mikaila tepat ketika Mikaila hendak berbalik badan barusan.
Mendengar suara tersebut tentu saja langsung terkejut apalagi dengan suasana kamar yang mendadak kembali mati dan hidup lagi seperti semalam, membuat keringat dingin mulai bercucuran dan membasahi pelipisnya. Mikaila terdiam di tempatnya seakan ia tidak tahu harus berbuat apa, kakinya tiba-tiba membeku dan tidak bisa untuk digerakkan membuat Mikaila hanya bisa menatap ke arah Rini saat ini tanpa bisa bergerak ataupun mengucapkan sepatah kata apapun kepadanya. Sepertinya Mikaila benar-benar terkejut akan suara tersebut.
"Astaga" pekik Mikaila dalam hati ketika mendengar sebuah suara yang tidak asing di telinganya.
Rini yang melihat raut wajah Mikaila berubah ketika memandangnya, lantas tersenyum dengan menyeringai seakan mempunyai maksud tersendiri dalam senyumannya tersebut. Sambil melesat ke arah Mikaila dengan gerakan seperti seakan-akan melayang mendekat ke arah Mikaila secara perlahan, membuat Mikaila hanya bisa terdiam sambil melihat ke arah Rini yang kian mendekat ke arahnya. Hingga ketika jarak diantara keduanya sudah tidak terlalu jauh atau hanya tersisa beberapa centi meter saja, Rini lantas menghentikan gerakannya. Ditatapnya Mikaila dengan pandangan yang menelisik kemudian lagi-lagi kembali tersenyum, membuat Mikaila lantas langsung menelan salivanya dengan kasar ketika melihat senyuman dari Rini barusan.
"Rupanya kamu sudah tahu segalanya ya Kai? Hihihi..." ucap Rini kemudian dengan suara yang melengking membuat Mikaila semakin dibuat ketakutan ketika mendengar suara tersebut.
"Sedikit... Mungkin..." ucap Mikaila dengan nada yang ragu.
Rini yang mendengar perkataan dari Mikaila barusan kembali tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya semakin dekat dan semakin dekat ke arah wajah Mikaila, membuat Mikaila semakin gugup akan tingkah laku yang saat ini sedang dilakukan oleh Rini. Rini tersenyum tepat dihadapan Mikaila, membuat Mikaila lantas menelan salivanya dengan kasar. Satu perkataan Rini yang lantas membuat Mikaila langsung terdiam seketika disaat wajah keduanya hanya tersisa satu centi meter saja.
__ADS_1
"Bantu aku Mikaila..." ucap Rini dengan nada yang terdengar sendu.
Tepat setelah perkataan tersebut terdengar menggema di telinga Mikaila, perlahan tapi pasti Rini terus mendekatkan tubuhnya ke arah Mikaila dan mulai masuk ke dalam tubuh Mikaila sambil memberikan gambaran kepada Mikaila tentang kehidupan Rini tepat sebelum kematiannya.
Dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, Mikaila diberikan sebuah penglihatan yang tidak pernah Mikaila bayangkan sebelumnya. Dalam penglihatannya Mikaila dibawa pada sebuah kejadian di mana terlihat Rini tengah melangkahkan kakinya menyusuri area koridor kelas hendak menuju ke ruangan Viola. Rini yang sudah mengetahui segala perbuatan Ibunya pada semua murid didiknya, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah di mana ruangan Viola berada.
Sambil melangkahkan kakinya dengan bergegas Rini membuka begitu saja pintu ruangan Viola dan masuk ke dalamnya, dimana saat itu Viola tengah sibuk melakukan ritual persembahan kepada beberapa arwah leluhur yang terus membantu kejayaan Sekolahan hingga kini. Viola yang mendengar pintu ruangannya dibuka tanpa seijinnya, tentu saja langsung menatap ke arah sumber suara dengan tatapan yang penuh amarah, Viola benar-benar tidak suka jika ritualnya diganggu oleh seseorang termasuk putrinya sendiri.
Tubuh Rini jatuh begitu saja dan Limbung ke lantai dengan bersimbah darah, membuat Viola yang melihat hal tersebut lantas langsung mendekat ke arah Rini dan langsung memeluk tubuh putrinya itu sambil menangis dengan tersedu. Viola benar -benar menyesali segala perbuatan yang tanpa sengaja ia lakukan kala itu, namun sayangnya penyesalan tidak pernah membuat putrinya kembali hidup. Viola yang sudah tidak tahu harus berbuat apa untuk menutupi kesalahannya sekaligus agar ia tidak jauh dari putrinya, lantas langsung menatap salah satu dinding dengan bentuk sudut kecil yang ada di ruangannya tersebut. Dengan pikiran yang gila dan juga gelap, Viola lantas menanam jasad Rini di sudut ruangan tersebut dan menemboknya dengan batu bata seakan menambah dinding baru di ruangan tersebut.
Sambil menangis dengan tersedu setelah ia menyelesaikan dinding yang baru saja ia buat dan berisi nyawa putrinya tersebut, Viola nampak terduduk di lantai sambil terus menangis dengan tersedu menatap ke arah dinding yang baru saja ia buat.
"Maafkan Ibu nak... Ibu sungguh menyesal..." ucap Viola sambil mengusap tembok tersebut selama beberapa kali.
__ADS_1
Setelah Mikaila mendapat penglihatan tersebut Mikaila yang sedari tadi dirasuki oleh arwah Rini, lantas langsung tersadar seketika. Mikaila yang baru saja sadar tentu saja terkejut bukan main, sambil mengusap air mata yang terlihat menetes di sudut matanya di tatapnya area sekeliling yang saat itu terlihat sangat gelap gulita, membuat Mikaila langsung bangkit dalam posisinya yang saat ini tengah tertidur tepat di pintu kamar asramanya.
Clap..
Beberapa detik setelah Mikaila terbangun dan sadar, lampu kamar asramanya langsung menyala dengan seketika. Sedangkan Rini sudah tidak lagi terlihat di kamar asramanya, membuat Mikaila lantas menghela napasnya dengan panjang ketika menyadari kepergian Rini dari ruangan kamar asramanya setelah ia memberikan gambaran tentang kehidupannya di masa lalu. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Mikaila ketika mengetahui cerita asli tentang kematian Rini langsung dari korbannya sendiri.
"Rini yang malang, aku tidak menyangka bahwa hidupnya begitu tragis seperti ini." ucap Mikaila sambil mengusap rambutnya ke arah belakang dengan kasar.
Kini yang tersisa dalam pikiran Mikaila hanyalah Rini dan Rini, tidak ada lagi perasaan takut seperti sebelumnya yang memenuhi hati Mikaila. Setelah mengetahui segalanya yang tersisa kini hanya lah sebuah perasaan simpati akan segala hal yang terjadi kepada Rini sebelum kematiannya. Mikaila bahkan tidak menyangka bahwa sebuah hal yang dianggap sepele dan dilakukan dengan tidak sengaja membawa Rini meregang nyawanya dan harus merelakan tubuhnya di tanam pada dinding kantor ibunya tanpa bisa ia menolak sama sekali akan segala hal yang terjadi saat ini.
"Besok aku akan memberitahu segalanya kepada Allen dan juga Ebra akan perihal Rini." ucap Mikaila kemudian sebelum pada akhirnya merebahkan tubuhnya pada ranjang empuk miliknya dan berlayar menuju ke pulau impiannya dan bersiap untuk segalanya.
Bersambung
__ADS_1