
Langkah demi langkah terus mereka lalui menyusuri hutan yang kian terlihat rimbun dan sulit untuk di jamah. Hingga ketika keduanya berhenti sejenak untuk mengambil nafas di kala perasaan lelah mulai menghampiri ketiganya, sebuah suara semak belukar yang di injak oleh seseorang lantas mulai terdengar dan mengejutkan ketiganya.
Kresek kresek...
Mendengar suara tersebut baik Mikaila, Allen dan juga Ebra terlihat langsung saling pandang satu sama lain, hingga kemudian Allen mengisyaratkan kepada Mikaila dan juga Ebra, untuk diam dan tidak membuat suara apapun takutnya bunyi barusan di timbulkan oleh binatang buas atau sejenisnya, sehingga membuat Allen lebih bersiap dan berjaga jaga jika apa yang ada di balik semak belukar itu adalah benar benar binatang buas.
Setelah mengisyaratkan kepada Mikaila dan juga Ebra untuk tetap tenang, Allen kemudian perlahan lahan mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah semak belukar yang berada tidak jauh dari posisinya sambil memegang pisau lipat di tangannya. Sedangkan Ebra yang melihat ada yang tidak beres lantas langsung mengarahkan Mikaila untuk bergerak sedikit menjauh dari sana.
Perlahan lahan langkah kaki Allen kian mendekat ke arah semak belukar tersebut dan berusaha melihat apa yang ada di sana, hingga kemudian tidak berapa lama seorang pria berperawakan tinggi besar mendadak melompat dari balik semak belukar tersebut dan langsung menimpa tubuh Allen, membuat Mikaila dan juga Ebra lantas terkejut dengan kehadiran sosok pria tersebut, sedangkan Allen berusaha sebisa mungkin menahan pria itu yang terlihat hendak mengarahkan pisau ke arah wajah Allen saat ini.
"Al..." pekik Mikaila ketika melihat posisi Allen sama sekali tidak menguntungkan.
Ebra yang melihat Mikaila hendak berlari menolong Allen, dengan spontan malah memegang tangan Mikaila dengan erat dan mencegahnya agar tidak pergi mendekat ke arah Allen, yang lantas membuat Mikaila yang melihat hal tersebut, langsung menatap tajam ke arah Ebra karena bukannya membantu Allen yang tengah kesusahan Ebra malah memegang tangannya dengan erat, membuat Mikaila tidak bisa kemana mana.
"Lepaskan aku!" ucap Mikaila namun Ebra sama sekali tidak gentar dan malah menarik Mikaila untuk menjauh.
__ADS_1
"Jangan bertindak gegabah... bukankah Allen sudah memberikan kepada kita instruksi yang jelas untuk lari menyelamatkan diri jika terjadi keadaan yang genting? jadi sebaiknya kita pergi dari sini sekarang." ucap Ebra tidak ingin di ganggu gugat.
Mikaila yang mendengar ucapan Ebra barusan tentu saja terkejut bukan main dan hendak memarahi Ebra karena keegoisannya, hanya saja baru saja ingin membuka mulutnya sebuah tendangan yang mendarat tepat di punggung Ebra, langsung membuat Ebra terjungkal ke bawah sedangkan Mikaila jatuh dalam posisi yang terduduk. Entah datang dari mana, dua orang peserta dalam event ini ikut menyerang Ebra dan mengeroyoknya, membuat Mikaila langsung terdiam seketika di saat melihat pemandangan yang terjadi saat ini.
"Sialan.. masalah satu belum selesai, kini malah muncul masalah baru!" ucap Mikaila dengan kesal.
Mikaila yang melihat Ebra juga di serang oleh dua orang sekaligus, lantas menjadi bingung harus melakukan apa dan menolong siapa? di saat kedua duanya sama sama dalam posisi yang tersudut. Mikaila melangkahkan kakinya mundur secara perlahan sambil berpikir mana yang harus ia tolong terlebih dahulu, hingga kemudian sebuah suara yang sedikit asing namun Mikaila seakan pernah mendengarnya, membuat Mikaila langsung dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu tidak apa apa?" tanya sebuah suara yang langsung membuat Mikaila menatap ke arahnya.
Fatur dan juga Rama yang mendengar ucapan Mikaila lantas dengan spontan langsung mengangguk dan mulai berlari membantu keduanya, di mana Fatur membantu Allen sedangkan Rama membantu Ebra. Mereka bertiga pada akhirnya terlibat perkelahian yang sengit, hingga kemudian lawan yang menyerang Ebra nampak melarikan diri, sedangkan seseorang yang menyerang Allen berhasil di ringkus.
Allen yang melihat Fatur hendak menghabisi lawannya lantas berusaha menghentikan aksi Fatur tersebut, membuat pukulan Fatur hanya mengambang di awang awang tanpa bisa mengenai sasaran. Fatur berdecak dengan kesal ketika mengetahui bahwa Allen tidak mengijinkannya untuk menghabisi lawannya, bukan karena Fatur seorang psiko atau apa, hanya saja dalam event ini hanya terdapat dua pilihan yang tersisa yaitu menghabisi atau di habisi.
"Apa kau mau bergabung bersama dengan kami? kami akan pastikan bahwa tidak ada pertengkaran atau aksi saling membunuh di kelompok kami, kamu bisa percaya kepada kami." ucap Allen memberikan penawaran membuat lawannya lantas terlihat berpikir sejenak menimbang ucapan Allen di tengah kondisinya yang sudah babak belur.
__ADS_1
Di saat lawannya mulai nampak menimbang ucapan Allen, lain halnya dengan Fatur yang terlihat seperti tidak suka kepada ucapan Allen dan hendak protes, namun belum sempat protes kode dari Allen lantas membuatnya terdiam dengan tatapan yang kesal ketika mendengar keputusan Allen barusan.
Tanpa melihat ke arah teman temannya, Allen mulai mengulurkan tangannya dan mengajak lawannya untuk bangkit dan segera bergegas pergi dari sana. Dengan gerakan yang perlahan tapi pasti tangan peserta tersebut nampak mulai terulur dan mengambil tangan Allen bangkit dari posisinya. Allen tersenyum ketika melihat ia mau bergabung dalam tim nya, yang berarti kelompoknya akan semakin kuat jika semakin banyak orang yang bergabung di dalamnya.
Allen dan juga Fatur kemudian nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah yang lainnya, di mana tak jauh dari posisinya Mikaila, Linda, Rama dan juga Ebra nampak melihat ke arah mereka bertiga yang kini tengah melangkahkan kakinya ke arah mereka.
Ada sedikit perasaan menghangat dalam diri Mikaila, ketika ia melihat sosok Allen yang terlihat legowo dan memaafkan lawannya, walau ia bahkan hampir di bunuh tadi jika Fatur tidak datang dan menolongnya. Seulas senyum terbit dari wajah Mikaila secara perlahan yang mulai terlihat mengagumi sosok Allen, namun pada akhirnya di tepis dengan seketika oleh logikanya yang terus mengatakan bahwa apa yang Mikaila rasakan saat ini adalah sebuah hal gila.
"Jangan berpikir yang macam macam Kai... aku menyukainya? tentu saja jawabannya tidak!" ucap Mikaila dalam hati dengan mantap mengatakan bahwa hal itu tidaklah mungkin terjadi.
Allen, Ebra dan juga salah satu peserta yang baru saja bergabung dalam kelompok mereka terus melangkahkan kaki mereka mendekat ke arah yang lain, hingga ketika jarak di antara mereka sudah hampir dekat, sebuah suara yang tak terduga lantas terdengar berbarengan dengan jatuhnya peserta yang baru saja bergabung dengan kelompok mereka, membuat yang lainnya lantas dengan spontan menatap ke arah peserta tersebut yang sudah jatuh terkapar di tanah dengan anak panah kecil menancap di dadanya.
"Apa yang terjadi?"
Bersambung
__ADS_1