
Dini hari
Sebuah mobil yang di kendarai oleh Ardi terlihat membelah jalanan Ibukota menuju ke suatu tempat yang tidak akan pernah ingin disinggahi oleh siapapun meski ia dibayar dengan mahal sekalipun. Sebuah tempat ritual yang berkedok sekolahan menjadi tempat tujuan Ardi saat ini. Ardi yang kali ini tidak pergi seorang diri saja, lantas terlihat melirik sekilas ke arah sebelah untuk memastikan apakah Arhan duduk dengan nyaman atau tidak.
"Aku harap dia tidak berubah pikiran." ucap Ardi dalam hati sambil melirik sekilas ke arah Arhan.
Setelah melewati pertimbangan yang matang pada akhirnya Arhan memutuskan untuk mengikuti perkataan Ardi untuk masuk langsung ke sarang lawan dan mencari informasi sebanyak-banyaknya. Arhan benar-benar sudah lelah terus bersembunyi, lagipula kedua orang tuanya sekalipun sama sekali tidak menginginkan kehadirannya dan tidak mau mendengarkan keluhannya. Lalu jika sudah begitu untuk apa lagi Arhan terus berada bersama dengan mereka?
Mulai hari ini Arhan memutuskan akan membantu teman-temannya keluar dari Sekolah terkutuk itu dan menyelesaikan satu-persatu kasus yang tidak pernah terpecahkan selama bertahun-tahun lamanya.
"Apa kamu sidah siap?" tanya Ardi kemudian memecah keheningan di dalam mobil tersebut.
Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja membuat Arhan langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika. Pertanyaan itu bahkan sudah lama berputar dikepalanya bahkan sebelum Ardi menanyakan hal tersebut kepadanya, sehingga membuat helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Arhan.
"Siap tidak siap saya harus tetap melakukannya Pak, meski orang tua saya tidak mendukung namun setidaknya saya masih punya teman-teman saya yang akan selalu bersama dengan saya dalam keadaan apapun juga." ucap Arhan dengan nada yang tenang sambil menatap ke arah jalanan sekitar.
Ardi yang mendengar jawaban dari Arhan lantas tersenyum. Apapun keputusan dari Arhan, Ardi tetap akan mendukungnya. Walau keduanya baru saling mengenal selama beberapa hari tapi Ardi yakin bahwa Arhan adalah anak yang baik dan mampu untuk diberi tanggungjawab besar ini. Kini semuanya hanya tinggal menunggu keberuntungan, Ardi berharap dengan adanya Arhan dan teman-temannya akan membawa perubahan yang selama ini tidak pernah berhasil ia lakukan.
__ADS_1
"Apapun keputusan mu Bapak akan tetap mendukungnya." ucap Ardi dengan tersenyum simpul kemudian kembali fokus menatap jalanan sekitar menuju Enigmatis high school.
"Terima kasih banyak Pak." jawab Arhan dengan tersenyum pula menatap ke arah Ardi yang saat ini tengah fokus dalam berkendara membelah jalan Ibukota dini hari.
***
"Kamu..." ucap Mikaila dengan raut wajah yang bingung sambil menerka-nerka menatap ke arah penjaga stand minuman di area taman. "Arhan!" pekik Mikaila sambil langsung menutup mulutnya karena terkejut akan kehadiran Arhan di sini.
Mikaila benar-benar terkejut akan sosok seseorang yang ia kenali tengah berdiri dihadapannya saat ini. Meski penampilan Arhan berbeda dari sebelumnya tapi Mikaila yakin bahwa seseorang yang saat ini berdiri di hadapannya adalah Arhan. Arhan yang melihat Mikaila terkejut akan kehadirannya, lantas langsung memberikan isyarat kepada Mikaila untuk diam dan tidak membuat kegaduhan. Melihat kode tersebut membuat Mikaila langsung mengangguk dengan cepat kemudian memasang badan seperti biasanya.
"Berikan aku satu air mineral." ucap Mikaila dengan nada yang santai sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Arhan. "Bagaimana kamu bisa ada di sini?" ucap Mikaila kemudian kali ini dengan nada yang sedikit berbisik kepada Arhan.
Mikaila yang mendengar jawaban dari Arhan barusan lantas menerima botol air mineral tersebut dengan tatapan yang bertanya ke arah Arhan saat ini. Mikaila benar-benar tidak mengerti akan urusan yang dibicarakan oleh Arhan barusan. Mikaila yang penasaran hendak bertanya kembali kepada Arhan, namun sayangnya sebelum Mikaila sempat mengutarakan perkataannya beberapa siswa dan siswi yang juga sedang haus setelah lari pagi, mulai berdesak-desakan meminta air kepada Arhan dan mendorong-dorong tubuh Mikaila hingga Mikaila sampai pada barisan paling akhir dan tidak lagi bisa melihat wajah Arhan kembali.
Mikaila menekuk wajahnya dengan kesal sambil celingukan menatap ke arah depan berusaha untuk melihat Arhan, namun sayangnya Arhan tidak lagi terlihat dan tertutup oleh siswa-siswi lainnya yang juga berebut air mineral dan juga beberapa cemilan di stand tersebut. Hingga sebuah tepukan di pundak Mikaila lantas membuat Mikaila langsung menoleh untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya.
"Ah Al kau mengejutkan ku!" pekik Mikaila yang melihat Allen berada tepat di belakangnya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Allen dengan raut wajah yang penasaran sambil berusaha melihat apa yang tengah dilihat oleh Mikaila sedari tadi.
Mendapat pertanyaan tersebut Mikaila lantas melihat ke area sekitar memastikan bahwa di dekatnya tidak ada seseorang yang akan bisa mendengarnya. Setelah memastikan semuanya aman barulah Mikaila mengisyaratkan Allen untuk mendekat ke arahnya agar ia bisa membisikkan sesuatu ke telinga Allen. Melihat kode tersebut Allen lantas langsung dengan spontan mendekat ke arah Mikaila untuk mendengar apa yang akan dibisikkan oleh Mikaila kepadanya.
Ada sedikit perasaan terkejut ketika Allen mendengar bisikkan Mikaila barusan, sambil menatap ke arah yang ditunjuk oleh Mikaila barusan Allen terlihat seperti mencari sesuatu di sana.
"Apa kamu yakin Kai?" tanya Allen kembali memastikannya lagi yang langsung dibalas Mikaila dengan anggukan kepala.
***
Sementara itu malam harinya.
Setelah memastikan semua pekerjaannya selesai. Arhan yang bersiap hendak pulang bersama dengan Ardi lantas terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah parkiran. Hanya saja Arhan sedikit kesal karena hari ini ia sama sekali tidak menemukan informasi apapun perihal Sekolahan ini. Arhan merasa semua usahanya hari ini terbuang sia-sia karena Arhan tidak bisa menemukan apapun juga disini.
Arhan melangkahkan kakinya dengan bergegas menyusuri area koridor kelas sambil menatap langit malam itu, yang anehnya tidak ada bintang yang menghiasi langit malam itu. Ketika langkah kaki Arhan hampir sampai di area parkiran, sebuah gerak-gerik seseorang yang terkesan begitu mencurigakan untuknya lantas menarik perhatian Arhan untuk mengikutinya. Sambil melangkahkan kakinya dengan pelan Arhan memutuskan untuk mengikuti langkah kaki orang tersebut menuju ke arah suatu tempat yang membuat Arhan begitu penasaran hingga mengikutinya.
"Mau pergi kemana dia? Bukankah Villa untuk persinggahan para staf sekolah ada di area utara? Untuk apa dia melangkahkan kakinya menjauh dari lingkungan Sekolah?" ucap Arhan bertanya-tanya sambil terus mengikuti langkah kaki pria tersebut yang terus melangkahkan kakinya menjauh dari lingkungan Sekolahan.
__ADS_1
Bersambung