No Exit

No Exit
Saya kehilangan jejaknya


__ADS_3

Ruang kepala sekolah


Setelah mendapat telpon dari Viola, Rahmat lantas melangkahkan kakinya bergegas memasuki ruangan kepala Sekolah untuk menemui Viola di sana.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya Rahmat begitu langkah kakinya berhenti tepat di depan meja milik Viola.


Viola yang mendengar sebuah suara yang sudah ia tunggu sejak tadi kedatangannya lantas langsung menatap ke arah sumber suara dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Ada tugas yang harus kamu selesaikan malam ini, apa kamu bisa menyelesaikannya?" tanya Viola kemudian sambil menatap ke arah Rahmat dengan raut wajah yang serius.


"Tugas apa itu?" tanya Rahmat dengan raut wajah yang penasaran.


Mendengar pertanyaan tersebut Viola lantas tersenyum dengan sinis kemudian menggeser sebuah map berwarna coklat tua ke arah Rahmat. Membuat Rahmat langsung dengan spontan mengambil map tersebut dan langsung membukanya untuk melihat tugas yang di maksud oleh Viola barusan.


Rahmat yang baru saja membaca isi dari map tersebut sedikit tersentak, masalahnya sekolah ini selalu saja mengambil murid lama yang mengambil jalur beasiswa untuk dijadikan korban. Namun entah mengapa tiba-tiba Viola malah memberikan data diri seorang siwa yang jelas-jelas Rahmat tau, siswa tersebut baru masuk selama kurang lebih satu bulanan, bagaimana bisa mendadak ia yang jadi korban selanjutnya?


"Bukankah ini murid pindahan itu Bu? Lagi pula dia juga dari keluarga yang berada, apa anda yakin?" tanya Rahmat kembali memastikan apa yang kini sedang ia terima.


Viola yang mendengar pertanyaan dari Rahmat, lantas kembali tersenyum kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya, membuat Rahmat sedikit kebingungan akan maksud dari senyuman di wajah Viola.


"Lakukan saja, aku ingin lihat apakah dia akan selamat malam ini?" ucap Viola sambil menatap lurus ke arah depan.


**

__ADS_1


Koridor kelas


Rahmat yang sedari tadi nampak tengah mengikuti Mikaila, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya begitu ia mendadak kehilangan jejak Mikaila padahal tadi jelas-jelas Mikaila masih berada tepat dihadapannya.


Rahmat mulai menyusuri sekitar area koridor kelas sambil memastikan dimana kepergian Mikaila, namun sayangnya setelah ia sempat berputar-putar mencari keberadaannya, Mikaila sama sekali tidak di temukan di manapun. Rahmat yang mulai kesal karena tidak kunjung menemukan keberadaan Mikaila lantas terlihat membuka tudung yang ia kenakan, membuat wajahnya terlihat sepenuhnya oleh Mikaila yang kini tengah bersembunyi di kolong tangga.


"Ah sial, mengapa aku bisa kehilangan jejak gadis itu sih?" ucap Rahmat dengan nada yang kesal baru setelah itu kembali meneruskan langkah kakinya untuk mencari keberadaan Mikaila.


**


Sementara itu Mikaila yang sedari tadi bersembunyi di kolong tangga, melihat sosok pria bertudung hitam yang mengikutinya sedari tadi adalah Rahmat, Mikaila lantas terlihat sedikit terkejut. Sambil menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara yanga kan memancing Rahmat untuk datang ke arahnya, Mikaila terus menatap ke arah Rahmat yang terlihat tengah berwajah kesal saat ini karena tidak berhasil menemukannya.


"Lari lah selagi kamu bisa Kai dan lekas kunci pintu asrama mu!" ucap Rini dengan nada yang berbisik tepat ditelinga Mikaila.


"Kamu dimana Rin?" panggil Mikaila dengan nada yang berbisik.


Lari Kai... lari!


Mendengar suara yang tiba-tiba menggema di telinganya disertai hembusan angin yang kencang, membuat Mikaila lantas bangkit dari posisinya dan berlari sekencang mungkin mencoba menghindari segala sesuatu yang sedari tadi mengejarnya termasuk dengan Rini yang tiba-tiba menghilang.


Keringat dingin kini bahkan sudah mulai menetes membasahi dahi Mikaila mengiringi setiap langkah kaki lebar yang ia ambil sambil terus berlari menuju kembali ke asramanya. Dengan gerakan yang cepat Mikaila mulai menuruni satu persatu anak tangga asramanya dan melangkahkan kakinya bergegas menyusuri lorong asrama. Setelah berlari tanpa menoleh ke arah kanan dan kiri selama beberapa menit lamanya, pada akhirnya Mikaila sampai di depan kamar asramanya.


Dengan gerakan yang cepat Mikaila lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam asrama dan mengunci pintunya dengan rapat. Helaan nafas yang memburu terdengar jelas di telinga Mikaila begitu ia memasuki ruangan kamarnya. Sambil mengelap keringatnya yang sudah membasahi area dahi dan rambut bagian depannya, Mikaila mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang dan mengambil posisi rebahan di atas ranjangnya.

__ADS_1


"Mengapa aku selalu saja sial? Tapi beruntung aku bisa selamat malam ini. Entah itu benar-benar Rini atau bukan, namun yang jelas aku sangat berterima kasih kepadanya karena telah menyelamatkan ku dari kematian malam ini." ucap Mikaila pada diri sendiri sambil menatap ke arah langit-langit kamarnya.


***


Keesokan paginya


Rahmat yang tidak berhasil melaksanakan tugas dari Viola, lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kepala sekolah untuk memberikan laporan kepada Viola. Hanya saja ketika pangkah kaki Rahmat baru saja memasuki ruangan kepala sekolah, Rahmat langsung menelan salivanya dengan kasar ketika melihat Viola tengah bermain dengan stik golf favoritnya di dalam ruangan tersebut.


Dengan langkah yang ragu-ragu Rahmat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Viola yang sedari tadi tengah mengayunkan stik golfnya seperti tengah mengukur sesuatu. Rahmat berdiri tepat disebelah Viola dengan kaki yang sedikit bergetar karena iya yakin ia pasti akan habis kali ini karena membawa kegagalan yang tentu saja sangat tidak disukai oleh Viola.


Viola menyandarkan stik golf tersebut ditangannya kemudian menatap ke arah Rahmat. Jika dilirik sekilas saja Viola tentu bisa membaca bahwa tugas yang ia berikan pastilah gagal. Seulas senyum licik mendadak terbit dari wajah Viola, membuat Rahmat kian ketar-ketir ketika melihat senyuman itu.


"Apa kau tahu seberapa keras stik golf ku ketika menyentuh tubuh seseorang? Aku yakin... akan membuat tulang orang itu remuk seketika disaat aku aku mengayunkannya tepat ke arahnya." ucap Viola sambil menatap ke arah stik golfnya dengan tatapan yang mengerikan.


"Saya... saya kehilangan jejaknya Bu, ada yang membantunya melarikan diri semalam..." ucap Rahmat pada akhirnya dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Viola.


Sedangkan Viola yang mendengar alasan tersebut lantas langsung dengan sekuat tenaga mengayunkan stik golfnya ke arah Rahmat, membuat kelopak mata Rahmat langsung terpejam seketika. Namun Viola yang melihat Rahmat menutup matanya karena takut, lantas menghentikan gerakan tangannya dan membuat stik golfnya mengayun begitu saja di udara tanpa mengenai tubuh Rahmat sedikit pun.


Klontang....


Suara stik golf yang di lempar begitu saja ke lantai, membuat Rahmat yang semula menutup mata langsung membuka matanya dengan lebar karena terkejut akan suara lemparan tersebut.


"Ada sesuatu yang terus membantu anak itu melewati segalanya, sayangnya aku sama sekali tidak tahu apa itu!" ucap Viola pada diri sendiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2