
"Bagaimana bisa?" ucap Zaki dengan raut wajah penuh kebingungan ketika menyadari ada yang salah dengan iPadnya.
Zaki yang tak percaya begitu saja bahwa rekaman kamera pengawas yang baru saja ia lihat menghilang tak berbekas, lantas terlihat kembali mencoba dan mencoba lagi mengklik tombol play pada layar iPad yang ia pegang, namun sayangnya hasil akhirnya tetap sama, membuat Zaki kian tidak mengerti sekaligus bingung akan aoa yang terjadi.
Sementara Ebra yang melihat raut wajah bingung dari Zaki, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Zaki dan menatapnya dengan senyum yang mengembang.
"Mana buktinya pak? Gak ada kan? Kalau begitu ijinkan kami bertiga untuk pulang dan kembali ke Sekolah!" ucap Ebra dengan nada yang santai namun berhasil membuat raut wajah Zaki berubah merah padam ketika mendengar ucapan songong dari Ebra.
Setelah mengatakan hal tersebut, seakan tanpa dosa maupun beban Ebra melangkahkan kakinya begitu saja melewati Zaki yang masih menatap ke arahnya dengan raut wajah yang kesal dan juga marah, namun sayangnya Zaki tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan Ebra dan yang lainnya pergi dari sana.
Sedangkan Mikaila dan juga Allen yang melihat tingkah Ebra yang seperti itu, membuat keduanya lantas langsung saling pandang satu sama lainnya, namun detik berikutnya ikut melangkahkan kakinya mengikuti kepergian Ebra menuju ke arah Bus yang sudah menunggu mereka sedari tadi.
"Sialan!" ucap Zaki dengan nada yang kesal sambil menatap kepergian ketiganya dari sana hingga punggung Allen, Mikaila dan juga Barra tidak lagi terlihat pada penglihatannya.
****
Di dalam Bus
Perlahan tapi pasti Bus mulai melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan hutan yang becek dan juga berlumpur itu karena terkena guyuran hujan tadi pagi.
Pada akhirnya Mikaila bisa bernafas dengan lega karena ia bisa kembali ke Sekolahan walau sebenarnya kembali ke Sekolah bukanlah sebuah ending yang membahagiakan, namun setidaknya di Sekolah lebih baik daripada di sini.
__ADS_1
Ketika Bus sudah mulai meninggalkan area hutan tempat event tahunan itu di adakan. Mikaila yang mulai teringat dan juga penasaran lantas melangkahkan kakinya duduk di sebelah kursi Ebra begitu juga dengan Allen. Keduanya benar-benar penasaran akan apa yang terjadi sebenarnya hingga rekaman pada iPad milik Zaki mendadak menghilang begitu saja tanpa jejak.
Mikaila yang hendak bertanya lantas terlihat mulai melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa situasinya aman saat ini. Baru setelah itu Mikaila sedikit mendekatkan dirinya ke arah Allen dan juga Ebra dan mulai berbicara dengan nada yang berbisik pelan namun masih bisa di dengar oleh keduanya.
"Apa kalian tidak mau menjelaskan padaku apa yang baru saja terjadi? Aku hampir gila ketika menghadapi situasi tersebut, lihatlah... bahkan jari tangan pak Zaki masih terlukis jelas di pipi ku!" ucap Mikaila dengan bibir yang cemberut sambil menunjuk ke arah pipinya yang masih memerah.
"Apa itu sakit? Mau aku minta kompresan untuk mu?" tanya Allen kemudian sambil menatap ke arah pipi Mikaila yang masih terlihat memerah itu sambil bangkit berdiri hendak menyuruh sopir Bus untuk berhenti sebentar, namun tangan Mikaila malah keburu mencegah Allen agar tidak beranjak dari sana.
"Tidak perlu Al sebentar lagi pasti akan membaik." ucap Mikaila yang langsung membuat Allen menghela nafasnya dengan panjang.
"Apa kau yakin?" tanya Allen mencoba untuk memastikannya sekali lagi yang lantas di balas anggukan kepala oleh Mikaila.
Ebra berdehem cukup keras karena malas melihat tingkah keduanya, hingga membuat Allen dan juga Mikaila dengan spontan menoleh ke arah sumber suara dan menatap bingung kepada Ebra.
"Jadi mau denger cerita lengkapnya atau melanjutkan adegan romantis kalian yang aneh itu!" ucap Ebra dengan nada yang menyindir.
Mendengar ucapan Ebra membuat Allen dan juga Mikaila langsung saling pandang satu sama lainnya. Hingga kemudian Allen mulai mengedarkan pandangannya dan menatap dengan serius ke arah Ebra.
"Sebaiknya kita bicarakan semuanya ketika sampai saja, jangan disini karena kita tidak akan tahu apa yang sedang mengawasi kita saat ini." ucap Allen dengan raut wajah yang serius menatap ke arah Mikaila dan juga Ebra.
Ebra dan juga Mikaila yang mengerti akan maksud dari perkataan Allen barusan keduanya langsung mengangguk seakan paham dan setuju akan perkataan Allen.
__ADS_1
Setelah tidak ada pembicaraan lagi, ketiganya lantas mulai bangkit dan kembali ke kursi mereka masing-masing. Sambil menatap ke arah jalanan melalui kaca jendela baik Mikaila, Allen dan juga Ebra nampak termenung dan berkutat dengan pemikiran mereka masing-masing. Setidaknya ada perasaan lega yang menghampiri mereka walau tidak sepenuhnya, karena ketika bayangan tentang kematian teman-temannya yang lain mulai kembali terlintas di benak mereka semua, perasaan lega yang mereka rasakan lantas langsung sirna begitu saja dan berganti dengan sebuah penyesalan.
"Aku bersyukur setidaknya Arhan masih bisa selamat.." ucap Allen dalam hati sambil menatap ke arah satu persatu pepohonan yang di lalui oleh Bus yang ditumpanginya.
**
Sore harinya
Setelah Bus menurunkan Allen, Mikaila dan juga Ebra di sekolah. Bus terlihat mulai meninggalkan area sekolah dan melaju menuju ke arah kota.
Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan Bus tersebut pada akhirnya sampai di garasi. Seorang pria paruh baya terlihat turun dari Bus tersebut sambil sedikit merenggangkan otot-ototnya yang sedikit tegang karena terlalu lama duduk ketika perjalanan.
Sementara itu Arhan yang merasa Bus sudah kembali berhenti, lantas terlihat sedikit mengintip dari celah-celah pintu bagasi untuk memeriksa keadaan sekitar. Setelah Arhan memastikan bahwa semuanya aman, barulah perlahan-lahan Arhan membuka pintu bagasi dengan lebar dan mulai turun secara hati-hati berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara ataupun bunyi-bunyian yang bisa memancing sopir Bus tersebut untuk mendekat ke arahnya.
"Aku rasa sopir Bus tersebut sudah pergi dari sini." ucap Arhan sambil menatap ke arah sekeliling.
Setelah memastikan pintu bagasi tertutup dengan rapat, Arhan mulai mengambil langkah dengan perlahan-lahan pergi dari garasi. Sambil menahan rasa perih di sekujur kakinya, Arhan mulai melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah sambil terus berjaga-jaga. Hingga ketika langkah kakinya hampir melangkah ke arah pintu keluar, sebuah suara berat lantas terdengar dan membuat langkah kaki Arhan terhenti seketika.
"Hei kau!"
Bersambung
__ADS_1