No Exit

No Exit
Tidak tepat waktunya


__ADS_3

Mikaila maupun Allen yang melihat microchip di saku jas Mikaila, tentu saja langsung menatapnya dengan heran. Hingga kemudian Mikaila yang kembali merogoh saku jasnya, lantas terlihat kembali menemukan sebuah kertas kecil yang di lipat tak beraturan, membuat Mikaila yang penasaran lantas langsung membukanya dengan gerakan yang cepat.


Ibu tahu kalian tengah merencanakan sesuatu untuk event besar tahunan sekolah kita. Gunakanlah benda ini, ibu yakin benda tersebut akan kalian butuhkan ketika berada di sana!


Sebuah pesan yang aneh menurut keduanya, lantas tertulis dengan jelas pada sebuah kertas kecil yang di lipat tidak beraturan tadi. Baik Allen maupun Mikaila terlihat saling pandang satu sama lainnya dalam beberapa menit, mencoba menerka sekaligus bertanya melalui manik mata keduanya yang saling bertemu, namun tentu tidak akan membuahkan hasil apapun karena baik Allen maupun Mikaila bukanlah seorang cenayang yang memiliki kemampuan telepati hanya dengan melalui tatapan saja.


Mikaila menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena mulai merasa satu persatu kejadian mulai menariknya dan membawanya pada permasalahan sekolah yang begitu pelik dan tidak ada satupun yang berani untuk menyelesaikannya, ataupun mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Mikaila benar benar tidak menyangka bahwa keinginan papanya untuk menyekolahkannya di sini, berakhir dengan Mikaila yang terus terusan terlibat dalam setiap permasalahan yang ada tanpa memberi jeda waktu kepada Mikaila untuk beristirahat ataupun bernafas sejenak.


"Ada apa dengan raut wajah mu itu?" tanya Allen kemudian ketika melihat perubahan raut wajah Mikaila begitu melihat isi surat dari Manda.


Mendengar pertanyaan dari Allen barusan, membuat Mikaila langsung menghela nafasnya dengan panjang, entah mengapa Mikaila merasa seperti gusar dan tidak terlalu yakin bahwa rencana Allen akan berhasil sepenuhnya.


"Apa kamu yakin dengan rencana mu itu Al? ini bukanlah sebuah game di mana ketika kamu mati kamu bisa hidup kembali, kenyataan lebih pahit dari pada hanya sekedar kopi hitam." ucap Mikaila dengan nada yang sendu, membuat Allen lantas langsung menatap ke arah Mikaila dengan tatapan yang lekat.


Di genggamnya tangan Mikaila dengan erat sambil menatapnya dengan lekat, seakan kini Allen tengah berusaha menenangkan Mikaila lewat tatapannya yang mengatakan bahwa semua akan baik baik saja. Hanya saja sayangnya belum juga Allen mengucapkan kata katanya dari arah belakang Allen, Friska nampak langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas sambil menggoda Allen dan juga Mikaila yang terlihat tengah berpegangan tangan sambil saling menatap satu sama lain.


"Sudah ku duga kalian pasti berkencan bukan?" ucap Friska tiba tiba dengan nada yang menggoda.

__ADS_1


Mendengar suara Friska yang tidak tepat pada waktunya, membuat Allen dan juga Mikaila lantas menjadi salah tingkah dan langsung melepas tangan masing masing sambil membenarkan posisi duduknya, hal itulah yang membuat Friska tertawa dengan geli ketika melihat tingkah keduanya. Sedangkan Allen yang sedang tidak mood bercanda dengan Friska, lantas terlihat bangkit dari posisinya sambil membawa mangkuk dan juga gelas kotor miliknya, kemudian berlalu pergi meninggalkan Friska dan juga Mikaila tanpa mengatakan sepatah kata apapun.


Mikaila yang melihat kepergian Allen hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, kemudian ikut bangkit dari kursinya sambil membawa piring kotor di tangannya.


"Kamu datang di saat suasana yang tidak tepat Fris!" ucap Mikaila dengan nada datar karena memang candaan Friska sama sekali tidak tepat pada waktunya.


Setelah mengatakan hal tersebut, Mikaila kemudian melangkahkan kakinya pergi dari area kantin meninggalkan Friska yang masih menatap kepergian Allen dan juga Mikaila dengan raut wajah bingung sekaligus penasaran akan dua orang temannya itu.


"Apakah aku melakukan sebuah kesalahan? atau dua orang itu lagi pms kali mangkanya galak begitu." ucap Friska kemudian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menatap ke arah kepergian Allen dan juga Mikaila hingga keduanya tidak lagi terlihat pada manik matanya.


Keesokan harinya


Mikaila terlihat menenteng tas kecil di punggungnya sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah lapangan. Hari ini adalah hari yang paling tidak di tunggu tunggu oleh Mikaila, karena pada hari ini para peserta event outbond tahunan akan di boyong menuju ke sebuah arena permainan yang tentu saja tidak akan pernah Mikaila tahu seperti apa suasananya dalam arena permainan itu.


Mikaila menatap ke arah 5 bis dalam kapasitas jumlah muatan besar yang terparkir di area sebelah lapangan siap menanti kedatangan para siswa sekaligus mengantarkan para pesertanya untuk menuju ke arena permainan. Mikaila menelan salivanya dengan kasar, ketika melihat beberapa peserta dari kelas lain memiliki postur tubuh yang tinggi besar dan juga terlihat sangat galak, Mikaila yakin jika ia beradu dengan para peserta di sini sudah bisa di pastikan bahwa ia akan gugur hanya dalam tahap pertama permainan.


Mikaila terus menundukkan kepalanya sambil melangkahkan kakinya mencari keberadaan Allen di sana, Mikaila tidak lagi memperdulikan pandangan peserta lainnya yang kini seakan tengah meremehkan tubuh kecil milik Mikaila itu. Pandangan semua orang di area tersebut benar benar membuatnya risih, jika Mikaila tidak salah hitung mayoritas peserta dalam event ini adalah laki kali dan tentu saja pastinya akan sangat mendominasi, sehingga membuat nyali Mikaila mendadak surut dan tidak ingin melanjutkannya lagi.

__ADS_1


Di saat Mikaila termenung sambil menatap ke arah sekeliling tepukan bahu dari seseorang lantas langsung mengejutkannya dari lamunan. Mikaila dengan spontan menatap ke arah belakang mencoba untuk melihat siapa yang baru saja menepuk bahunya dan membuat Mikaila terkejut.


"Al..." ucap Mikaila ketika melihat Allen sudah berdiri di belakangnya dan menatap dengan dingin ke arah Mikaila.


"Bersikaplah sewajarnya, jangan terlalu terlihat jika kamu takut akan mereka atau kamu yang akan mereka jadikan mangsa utama dalam permainan ini." ucap Allen dengan nada yang dingin membuat Mikaila lantas langsung menelan salivanya dengan kasar begitu mendengar ucapan dari Allen barusan.


Melihat Mikaila yang semakin gugup setelah mendengar ucapannya, lantas membuat Allen hanya bisa menghela nafasnya panjang kemudian menarik tangan Mikaila dan membawanya pergi dari sana menuju ke arah yang berlawanan. Mikaila yang merasa tangannya di tarik hanya bisa mengikuti langkah kaki Allen kemanapun ia membawanya. Hingga kemudian langkah kaki Allen terlihat berhenti tepat di sekumpulan peserta lomba lainnya yang Mikaila sendiri tidak tahu dari kelas mana mereka semua berasal.


Allen melepas genggaman tangannya kemudian melangkahkan kakinya mendekat untuk menarik perhatian yang lainnya agar memperhatikannya.


"Teman teman kenalkan ini Mikaila, murid baru yang aku ceritakan beberapa waktu yang lalu." ucap Allen kemudian yang lantas membuat beberapa siswa di sana nampak langsung menghentikan aktifitasnya dan dengan spontan menatap ke arah Mikaila saat ini.


"Kai kenalkan, kami semua yang ada di sini berasal dari ekskul beladiri." ucap Allen kemudian yang lantas membuat Mikaila terkejut ketika mendengarnya.


"Beladiri?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2