
"Sudah waktunya." ucap Ebra kemudian yang lantas membuat Allen dan juga Mikaila bertanya-tanya dengan tatapan yang penasaran.
Mendengar perkataan Ebra barusan tentu saja membuat sebuah tanda tanya besar berputar di kepala keduanya. Allen dan juga Mikaila yang tak mengerti akan maksud dari perkataan Ebra barusan lantas hanya bisa menatap dengan tatapan yang bertanya kepada Ebra saat ini. Ebra yang mengetahui raut wajah bingung keduanya lantas langsung menoleh ke arah belakang keduanya, mencoba melihat situasi kemudian mengisyaratkan keduanya untuk berjongkok dan duduk lesehan di bawah. Baik Allen maupun Mikaila yang melihat kode tersebut lantas hanya bisa menuruti perkataan Ebra sambil menunggu penjelasannya tentang hal ini.
"Jangan berisik ada sesuatu yang hendak aku tunjukkan kepada kalian berdua." ucap Ebra kemudian mulai menjelaskan membuat Allen dan juga Mikaila lantas terlihat membuka telinganya dengan lebar.
"Aku sudah menghubungkan micro chip yang kalian letakkan masing-masing pada Smartwatch milik kalian, suara notifikasi yang baru saja kalian dengar adalah sebuah sinyal yang menangkap adanya percakapan yang tertangkap pad chip tersebut." ucap Ebra kemudian mulai menjelaskan.
"Lalu bagaimana kita bisa mendengarkan percakapan atau untuk melihat keadaan ruangan tersebut?" tanya Mikaila kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Tenanglah aku sudah mengatur semuanya jadi kalian tidak perlu khawatir." ucap Ebra kemudian dengan senyum yang mengembang.
Setelah mengatakan hal tersebut Ebra kemudian mulai menjelaskan secara detail cara kerjanya, jika salah satu dari mereka ingin mendengarkan atau memantau keadaan di ruangan tersebut. Ebra juga mengatakan walau mereka sudah melewatkan percakapan live yang terjadi, namun mereka masih bisa memutarnya ulang untuk mendengar beberapa percakapan yang ingin mereka dengar.
Mendengar penjelasan dari Ebra yang panjang tentang micro chip tersebut membuat keduanya hanya manggut-manggut saja tanda mengerti, lagi pula kehebatan Ebra sudah tidak di ragukan lagi dalam hal beginian jadi keduanya menyerahkan segalanya hanya kepada Ebra. Sampai ketika Ebra menunjukkan bagaimana cara untuk melihat keadaan sekitar lantas membuat mata Mikaila berbinar ketika melihat sebuah hologram nampak timbul dari layar Smartwatch Mikaila saat ini.
"Wah benar-benar luar biasa..." ucap Mikaila dengan mata yang berbinar.
"Simpan dulu keterkejutan mu itu ada hal yang lebih penting lagi dari hal tersebut." ucap Allen dengan nada yang datar membuat Mikaila lantas memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar perkataan dari Allen barusan.
__ADS_1
"Biarkan saja kali Al, mengapa kau sewot sekali? Lagi pula aku yang di puji kenapa kamu yang panas?" ucap Ebra kemudian menanggapi ucapan Allen.
"Terserah!" ucap Allen dengan nada yang ketus menanggapi perkataan Ebra barusan.
Setelah perdebatan yang tidak penting itu ketiganya kemudian kembali fokus menatap ke arah layar hologram yang berasal dari Smartwatch milik Mikaila. Dari sana mereka bertiga melihat Viola tengah berbicara dengan Reno di ruangannya, sambil menatap dengan serius ke arah layar mereka bertiga mulai mendengarkan percakapan keduanya. melalui micro chip yang di pasang oleh Mikaila tadi.
"Besok adalah waktunya, apa kau sudah mempunyai calon untuk di eksekusi besok?" tanya Viola kemudian yang lantas membuat Ebra, Allen dan juga Mikaila langsung menoleh dengan seketika disaat mendengar perkataan dari Viola barusan.
"Aku sudah memliki daftarnya, kalau tidak salah aku sudah melaporkannya kepada Zaki, apa Zaki tidak memberikannya kepadamu tentang beberapa data calon pilihan ku?" ucap Reno kemudian.
"Ah laporan itu ya? Aku sudah menerimanya siang tadi." ucap Viola dengan nada yang santai sambil mengeluarkan map yang tak asing bagi Mikaila.
"Aku tahu map itu!" ucap Mikaila dengan nada yang meninggi.
"Buset dah lo Kai gak usah teriak-teriak gitu napa? Telinga gue sakit nih." ucap Ebra dengan nada yang kesal ketika mendengar teriakan Mikaila yang langsung masuk ke telinganya.
"Biasa aja kali, pakai segala logat lo gue nya langsung keluar lagi." ucap Mikaila menanggapi protesan dari Ebra tentang suaranya yang meninggi.
"Memangnya apa yang kamu ketahui dari map itu Kai?" tanya Allen kemudian dengan raut wajah yang penasaran begitu juga Ebra yang langsung menoleh ke arah Mikaila ketika mendengar pertanyaan dari Allen barusan tentang map tersebut.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan dari Allen barusan tentu saja langsung membuat Mikaila menjelaskannya secara perlahan, sambil mengingat-ingat apa yang telah terjadi tadi sebelum ia kemari. Membuat Mikaila lantas menjelaskannya secara urut, Mikaila yang mengira map tersebut tidak memiliki arti apa-apa ketika Mikaila sudah menyelesaikan memasang micro chip di ruangan Kepala Sekolah. Mikaila yang hendak meletakkan map tersebut ke atas meja tanpa sengaja malah menjatuhkannya dan membuat isi dari amplop tersebut berhamburan. Beruntung beberapa lembar kertas yang berada di dalam map tersebut di staples menjadi satu hingga bagian isinya tidak terpecah ketika kertas tersebut jatuh ke lantai.
Mikaila yang tanpa sengaja menjatuhkannya tentu saja berusaha untuk mengembalikannya ke tempat semula. Hanya saja ketika Mikaila hendak mengembalikan kertas tersebut ke dalam map yang ada di atas meja, Mikaila tanpa sengaja melihat sebuah nama tertulis dengan jelas secara urut di kertas tersebut. Membuat Mikaila lantas mengernyit dengan seketika di saat melihat daftar nama tersebut. Mikaila yang tadinya mengira bahwa itu hanyalah daftar penerima beasiswa atau sejenisnya mendadak menjadi terkejut ketika ternyata daftar nama siswa dan juga siswi yang tertera di sana aadalah nama-nama siswa yang akan di korbankan secara berurutan.
Baik Allen dan juga Ebra yang mendengar penjelasan dari Mikaila barusan tentu saja terkejut bukan main, mereka tidak menyangka bahwa pihak Sekolah sampai menyiapkan beberapa daftar panjang tentang siswa-siswi yang akan mereka korbankan setiap pekannya. Jangankan Ebra dan juga Allen, Mikaila yang mengantarkan daftar nama itu pun juga tidak terlalu menyangka bahwa daftar nama tersebut merupakan siswa dan juga siswi yang akan di korbankan satu-persatu.
"Bukankah ini gila?" ucap Ebra yang tak percaya akan ucapan dari Mikaila barusan.
"Lalu kita harus bagaimana sekarang?" tanya Mikaila kemudian sambil menatap ke arah Allen dan juga Ebra secara bergantian seakan mencoba untuk mencari tahu hal apa yang akan mereka lakukan ke depannya.
"Apa kamu masih ingat nama-nama yang terdaftar dalam daftar siswa dan siswi yang kamu antar ke ruang Kepala Sekolah Kai?" tanya Allen kemudian yang lantas membuat Mikaila mengernyit sambil menatap ke arah Allen.
"Sepertinya masih" ucap Mikaila kemudian.
"Baiklah jika seperti itu sebaiknya kita bergerak lebih dahulu sebelum mereka." ucap Allen lagi.
"Maksudnya?"
Bersambung
__ADS_1