
Mikaila yang mulai lelah karena terus berjalan dan tak kunjung menemukan Ebra, kemudian lantas menarik tangan Allen untuk melipir sedikit ke kiri mengikuti aroma harum masakan, yang membuat perutnya keroncongan sedari tadi ketika aroma tersebut melewati indra penciumannya.
Allen yang tidak tahu Mikaila menariknya menuju dapur, lantas terus mengikuti arah tarikan gadis itu dengan pasrah tanpa menolak sama sekali. Hingga ketika keduanya sampai di meja makan, sebuah pemandangan yang mengesalkan lantas terlihat dengan jelas di mana Ebra yang sedari tadi Mikaila dan Allen cari, malah enak enakan menyantap semua hidangan yang tersaji di meja makan dengan nikmat tanpa beban sama sekali.
Pemandangan tersebut tentu saja membuat Mikaila dan juga Allen melongo seketika, bagaimana tidak? Mikaila dan juga Allen bahkan sudah hampir memutari bangunan Resort ini dengan susah payah untuk mencari keberadaan Ebra, sedangkan Ebra malah asyik menikmati santapan makanannya tanpa memperdulikan Mikaila maupun Allen sama sekali.
"Ebra!" pekik Mikaila dan juga Allen secara bersamaan.
Sedangkan Ebra yang tadinya asyik menikmati semua hidangan yang tersaji di atas meja, lantas terkejut bukan main ketika mendengar teriakan Mikaila dan juga Allen barusan.
Uhuk uhuk uhuk...
Suara Ebra yang terbatuk batuk karena tersedak makanannya begitu mendengar teriakan keduanya, sama sekali tak membuat Mikaila dan juga Allen luluh. Keduanya kemudian lantas melangkahkan kaki mereka mendekat ke arah Ebra dan langsung menatap tajam ke arahnya, membuat Ebra yang di tatap tentu saja langsung salah tingkah.
"Bisa bisanya kau enak enakan makan di sini sedangkan kita berdua mencari mu ke mana mana! apa kami berdua sama sekali tidak penting untuk mu mangkanya kau mengacuhkan kami?" ucap Allen dengan nada yang kesal.
"Aku..." ucap Ebra ingin menjawab tapi kembali di potong oleh Mikaila.
"Aku dan Allen bahkan hampir memutari tempat ini untuk mencari keberadaan mu, tapi kau malah enak enakkan di sini, lagi pula kau makan seperti ini... apa sudah yakin bahwa semua makanan ini tidak beracun?" ucap Mikaila ikut kesal dengan tingkah Ebra yang seperti itu.
Ebra yang di marahi habis habisan hanya bisa diam tertunduk, namun detik berikutnya langsung mendongak ketika mendengar ucapan Mikaila yang kemungkinan makanan ini terdapat racun di dalamnya.
__ADS_1
"Apa? aku bahkan sudah makan banyak tadi, bagaimana kalau aku mati? bagaimana?" ucap Ebra kemudian dengan kebingungan.
Mendengar ucapan Ebra barusan, bukannya iba baik Allen maupun Mikaila malah mengambil duduk dan membuka piring mereka masing masing, membuat Ebra yang tadinya kebingungan lantas langsung menatap aneh ke arah Allen dan juga Mikaila.
"Mengapa kalian duduk?" bukankah makanan ini beracun?" tanya Ebra dengan tatapan yang bingung.
Mikaila yang mendapat pertanyaan tersebut lantas mendongak menatap ke arah Ebra kemudian tersenyum.
"Jika makanan ini mengandung racun, mungkin kamu sudah mati sedari tadi. Apa kamu tidak lihat seberapa banyak yang kamu makan sedari tadi?" ucap Mikaila dengan santainya sambil mengambil beberapa lauk pendamping untuk ia makan.
Sedangkan Ebra yang mendengar ucapan Mikaila barusan, langsung terdiam seketika sambil menatap ke arah Allen dan juga Mikaila yang terlihat sedang menikmati makanan mereka dengan santainya.
"Jadi kalian berdua mengerjai ku?" ucap Ebra dengan kesal.
Tak tak tak
Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik di ruangan tersebut, lantas terdengar menggema di meja makan membuat Mikaila, Allen dan juga Ebra langsung dengan spontan menoleh ke arah sumber suara untuk mencari tahu siapa pemilik langkah kaki tersebut.
"Apa kalian menikmati hidangan yang telah di sajikan khusus untuk kalian?" ucap sebuah suara yang langsung menghentikan gerakan ketiganya yang sedari tadi tengah asyik menyantap makanan mereka.
Baik Mikaila, Allen dan juga Ebra terlihat meletakkan sendok dan garpu mereka di piring masing masing ketika ketiganya melihat Zaki tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja makan dan berhenti tepat di hadapan mereka bertiga. Seulas senyum lantas terlukis jelas pada raut wajah Zaki yang membuat Allen terlihat geram karena ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Zaki benar benar membuatnya muak.
__ADS_1
Setelah kehilangan banyak siswanya karena permainan ini, bukankah seharusnya ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Zaki adalah sebuah kesedihan? namun mengapa rasanya seberapa banyak siswanya yang meninggal setiap waktunya sam sekali tidak mempengaruhi Zaki sedikit pun, hal itu lah yang membuat Allen begitu muak akan tingkah Zaki yang terkesan santai itu.
"Apa mau bapak sebenarnya?" ucap Mikaila kemudian di tengah keheningan tanpa menjawab pertanyaan Zaki terlebih dahulu sebelumnya, membuat ketiganya lantas langsung menatap ke arahnya seketika.
Zaki yang mendapat pertanyaan tersebut hanya tersenyum dengan simpul, kemudian mendekat ke arah ketiganya dengan ekspresi wajah yang lebih serius daripada biasanya.
"Aku ingin kalian bertiga menutup mulut kalian! bukankah itu mudah?" ucap Zaki dengan raut wajah yang serius.
Sedangkan Allen yang mendengar ucapan Zaki barusan, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya dan menatap tajam ke arah Zaki.
"Apa hak bapak menyuruh kami untuk menutup mulut? apa yang terjadi bukanlah sebuah hal kecil, bukankah para siswa yang meninggal mereka punya keluarga? apa yang bapak lakukan sama sekali bukanlah tindakan manusia, bapak bahkan lebih mirip dengan psiko gila yang hanya terobsesi dengan sesuatu hal yang sama sekali tidak masuk akal!" ucap Allen dengan lantang membuat suasana kian hening dan mencengkam.
Brak....
Sebuah pukulan yang keras mendarat tepat di meja makan, membuat beberapa piring lantas bergeser dari posisinya walau tidak sampai jatuh ke lantai, namun berhasil membuat Mikaila dan juga Ebra terkejut seketika di saat mendengar suara gebrakan tersebut.
Mendengar suara tersebut, beberapa pria berjas hitam lantas berlarian mendekat ke arah meja makan, namun detik berikutnya terhenti ketika melihat kode dari Zaki untuk berhenti di tempat mereka dan jangan ada yang bergerak. Dengan langkah yang perlahan, Zaki kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Allen berada, yang saat ini masih berdiri dengan tatapan yang tajam ke arah Zaki tanpa ada rasa takut sedikitpun di matanya, membuat Zaki lantas langsung berdecak dengan spontan ketika melihat tatapan tajam yang berasal dari Allen.
"Aku tunggu kalian di ruang tengah, selesaikan makan kalian dengan santai dan tak perlu terburu buru karena aku akan menunggu sampai kalian selesai." ucap Zaki dengan nada yang penuh penekanan.
Mendengar ucapan Zaki barusan baik Allen, Mikaila dan juga Ebra sama sekali tidak mengiyakan ataupun menanggapinya. Hingga kemudian Zaki sedikit memundurkan tubuhnya dan menatap ke arah ketiganya dengan bergantian.
__ADS_1
"Bersikaplah menjadi anak yang baik dan jangan memancing ku...!" ucap Zaki dengan nada yang dingin kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Mikaila, Allen dan juga Ebra dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Bersambung