
Sementara itu setelah pintu penghubung lorong di tutup dari luar oleh Zaki tanpa persetujuan dari Manda. Manda yang tidak terima akan keadaan ini lantas berusaha memberontak melepaskan diri dari genggaman erat tangan Ebra dan juga Allen kemudian berlarian ke arah pintu penghubung tersebut.
"Tidak... Zaki kamu tidak bisa melakukan ini.... Zaki... Biarkan aku ikut bersama dengan mu... Zaki buka pintunya!" teriak Manda berulang kali sambil berusaha membuka pintu penghubung tersebut.
Mikaila dan Allen yang melihat Manda begitu histeris, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Manda dan berusaha untuk menenangkan guru mereka itu sambil memegangi bahu Manda dengan erat. Baik Allen maupun Mikaila berusaha untuk membuat Manda tenang dan tidak lagi memberontak atau semua perjuangan Zaki akan terasa sia-sia.
"Bu tenanglah... Hargai keputusan pak Zaki..." ucap Ebra sambil berusaha untuk menenangkan Manda.
Mendengar perkataan dari Ebra barusan tentu saja membuat Manda marah dan juga tersinggung atas perkataannya. Manda menghentikan gerakannya yang brutal kemudian menatap tajam ke arah Ebra, membuat Ebra langsung melangkahkan kakinya mundur secara perlahan ketika melihat Manda begitu tersinggung akan ucapannya barusan.
"Apa yang kamu katakan barusan? Ikhlas? Kau itu tahu apa tentang Ibu ha?" ucap Manda dengan nada yang kesal.
Melihat hal tersebut membuat ketiganya tentu saja langsung terkejut bukan main, Mikaila yang tahu Manda tengah tersinggung dengan perkataan dari Ebra barusan lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Manda dan juga Ebra berada.
"Bu tahan emosi anda... Semua yang kita lalui begitu panjang hingga sampai ke titik ini. Tidak hanya kematian seorang saja yang kita lihat melainkan banyak orang berjatuhan tepat dihadapan kami. Apa Ibu pikir kami tidak gila Bu? Apa yang Ibu rasakan tidak jauh beda dengan apa yang kami rasakan! Pak Zaki telah memilih jalan untuk penebusan segala dosa-dosanya di masa lalu, tidak bisakah Ibu menghargai keputusannya? Bukankah seharusnya Ibu bahagia karena ternyata pak Zaki selama ini bukanlah seperti yang kita pikirkan? Bahkan hingga keputusan akhirnya pak Zaki tetap saja memilih untuk menyelamatkan anda dan selamanya tidak akan pernah berubah. Saya pun terkejut Bu.. Tapi kita harus tetap melangkah maju untuk bisa bertahan dan melanjutkan hidup yang lebih baik lagi." ucap Mikaila mengungkapkan segala isi hatinya kepada Manda seakan mencoba untuk membuat Manda mengerti dan tidak berpikir secara egois dalam mengambil kesempatan sebuah keputusan.
Manda yang mendengar segala perkataan yang keluar dari mulut Mikaila barusan tidak bisa lagi berkata-kata, tubuhnya luruh begitu saja mengambil posisi berjongkok di bawah. Sambil mengusap rambutnya dengan kasar Manda mulai menggigit bibir bagian bawahnya yang nampak begitu gemetaran tanpa sebab.
__ADS_1
"Hua... hik.. hik... Apa yang harus Ibu lakukan kali ini?" ucap Manda yang tak kuasa lagi menahan tangisnya.
Tangis Manda pada akhirnya pecah juga ketika semua perkataan dari Mikaila barusan merasuk sampai ke dalam hatinya. Melihat Manda yang menangis seperti itu membuat Allen, Mikaila dan juga Ebra lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Manda. Mikaila memeluk tubuh Manda yang rapuh tersebut dengan erat seakan mencoba untuk menenangkan Manda yang tengah hancur tersebut.
Mikaila yang tahu bagaimana perasaan Manda lantas terlihat mengusap secara perlahan pundak Manda sambil berusaha untuk terus menenangkan Manda. Sampai beberapa detik kemudian Manda mendongak menatap ke arah Mikaila, Allen dan juga Ebra secara bergantian.
Sambil mengusap air matanya yang telah jatuh membasahi pipinya, Manda nampak mulai bangkit dari tempatnya.
"Ayo kita pergi sekarang juga, sebelum petang kita sudah harus sampai di mulut gua atau kita akan terkubur di dalam sini selamanya." ucap Manda kemudian dengan bibir yang bergetar.
Baik Mikaila, Ebra dan juga Allen yang mendengar perkataan tersebut lantas mengangguk hampir secara bersamaan. Baru setelah semuanya sepakat keempatnya mulai melangkahkan kakinya menyusuri area lorong berusaha untuk menemukan jalan keluar dari sana.
Sementara itu di area pertengahan hutan menuju ke arah Sekolahan Enigmatis High School, terlihat beberapa mobil polisi dan juga mobil lainnya nampak mulai bergerak menuju ke arah Sekolahan.
Di dalam mobil berwarna hitam metalik yang berada di tengah-tengah mobil patroli terlihat mobil yang di kendarai oleh Ujang bergerak dengan kecepatan sedang mengikuti laju mobil polisi di sekitarannya.
Sementara itu di bagian belakang kursi penumpang terlihat Danu tengah duduk dengan gelisah ketika memikirkan segala pemberitaan tentang Sekolahan tersebut. Danu bahkan benar-benar tidak menyangka bahwa niat hati untuk memasukkan Mikaila ke Sekolahan favorit dengan segudang prestasi, malah mengantarkan putrinya ke neraka buatan seorang psiko gila.
__ADS_1
Danu kini bahkan terus merutuki kebodohannya yang saat itu menutup telinganya dengan rapat ketika Mikaila dan juga Fara merengek meminta untuk Danu kembali memikirkan keputusannya itu. Tak disangka ia yang begitu gelap mata malah berakhir dengan menjebloskan putrinya sendiri ke dalam jurang yang begitu dalam.
Danu yang merasa laju mobilnya begitu lambat lantas langsung melirik ke arah Ujang yang saat ini tengah fokus menatap ke arah jalanan sekitaran.
"Tidak bisakah kau bergerak lebih cepat lagi? jika sampai terjadi sesuatu kepada Mikaila maka kau akan aku gantung di puncak monas!" ucap Danu dengan nada yang kesal karena laju mobil yang di kendarai oleh Ujang terlalu pelan baginya, padahal Ujang melajukan mobilnya selaras dengan kecepatan mobil para polisi yang juga menuju ke arah Sekolahan.
Ujang yang mendengar kata ancaman dari Danu barusan tentu saja langsung menelan salivanya dengan kasar, membayangkannya saja sudah membuat Ujang bergidik dengan ngeri apalagi jika sampai ia benar-benar di gantung di monas entah apa yang akan terjadi kepadanya.
"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin tuan, saya mengikuti laju mobil para polisi yang juga sedang menuju ke arah sana." ucap Ujang dengan nada yang hati-hati takut jika sampai ia kembali membangunkan macan yang tidur.
Semenjak berita tentang Sekolah Enigmatis High School bocor, suasana hati Danu benar-benar berubah-ubah dan tidak bisa di tebak. Membuat Ujang harus bisa pintar-pintar mengambil celah atau nanti ia yang akan kena luapan amarah dan uring-uringan dari Danu karena khawatir akan keadaan Mikaila.
"Kau benar-benar ya..." ucap Danu hendak kembali mengomel namun terputus.
Danu yang tadinya hendak kembali marah ketika mendengar perkataan dari Ujang barusan, lantas tertahan sekaligus terkejut ketika tiba-tiba Ujang malah menginjak remnya dengan tiba-tiba. Membuat Danu terkejut seketika akan gerakan ujung yang mendadak menginjak rem tanpa aba-aba tersebut di saat Danu belum menyelesaikan pembicaraannya.
Ckitttt
__ADS_1
Bersambung