
"Bukankah ini yang kau inginkan? Ayolah Nda... berhenti ikut campur dalam pekerjaan ku dan aku akan memberikan apa yang kau mau." ucap Zaki sambil tersenyum meremehkan kepada Manda.
"Apa maksud ucapan mu?" tanya Manda dengan raut wajah yang penasaran.
Mendengar pertanyaan Manda yang pura-pura bodoh itu, lantas langsung membuat Zaki melangkahkan kakinya mendekat ke arah Manda kembali dan menatapnya dengan tatapan yang tajam, membuat Manda kian kebingungan akan maksud dari tatapan Zaki kepadanya baru saja.
"Apa tujuan mu dengan memberikan sebuah chip kepada Mikaila? Apa kau mau mengumpulkan bukti begitu? Jangan kau kira aku tidak bisa mengetahuinya, walau aku tidak mempunyai bukti yang bisa memberatkan mu tapi aku tentu tahu jika itu adalah perbuatan mu! Bagaimana? Apa kau sudah mau mengakuinya?" ucap Zaki dengan nada yang penuh penekanan pada setiap perkataannya.
Mendengar ucapan Zaki barusan membuat Manda langsung tersentak seketika, Manda benar-benar tidak menyangka bahwa Zaki akan dengan mudahnya mengetahui rencananya. Manda yang kini mengetahui alasan dari sikap dan juga kedatangan Zaki ke rumahnya kemudian lantas tersenyum, membuat Zaki sedikit terkejut akan reaksi yang di tunjukkan oleh Zaki.
"Apa yang aku lakukan adalah urusan ku sendiri, jangan pernah mencampuri sesuatu yang tidak seharusnya kau campuri. Lagi pula kita sudah lama tidak bersekutu, bukankah kedatangan mu ke mari akan terdengar sia-sia saja?" ucap Manda dengan nada yang santai namun berhasil membuat Zaki terkejut seketika disaat mendengarnya.
"Kau..." ucap Zaki hendak kembali menyangkal namun urung karena ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada Manda.
"Sebaiknya kau pergi dari sini karena aku sama sekali tidak ingin membahas apapun lagi dengan mu!" ucap Manda kemudian sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
Zaki yang melihat arah tunjuk dari tangan Manda tentu saja langsung membuang mukanya, kemudian mulai melangkahkan kakinya pergi dari kediaman Manda. Namun ketika langkah kaki Zaki tepat di ambang pintu, Zaki terlihat menghentikan langkah kakinya dan melirik sekilas ke arah Manda.
"Aku harap ini terakhir kalinya kau ikut campur dalam urusan ku Nda... jangan coba-coba untuk menghalangi jalan ku!" ucap Zaki dengan nada yang mengancam kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Manda dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
__ADS_1
Manda menatap kepergian Zaki dengan tatapan yang sendu. Sebuah bayangan tentang masa lalu mendadak terlintas di benaknya ketika Manda menatap punggung Zaki hingga menghilang dari pandangannya. Tidak ada yang pernah tahu, Zaki yang sedari dulu menentang dengan keras segalanya termasuk perbuatan Viola mendadak berbalik arah dan malah bersekutu dengan mereka. Manda benar-benar yakin ada yang salah namun sayangnya ketika Manda mencari tahu, Zaki selalu saja menutup diri dan selalu bertingkah seolah-olah ingin membuat Manda membencinya.
Manda menghela nafasnya dengan kasar kemudian menutup pintu rumahnya dengan pelan. Sambil menyenderkan tubuhnya pada daun pintu, Manda mulai menatap kosong ke arah tembok bercat warna putih di rumahnya.
"Aku yakin ini bukan kamu... aku yakin bukan kamu..." ucap Manda secara berulang kali seakan masih belum percaya jika Zaki berubah.
***
Malam harinya
Mikaila terlihat melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap ke arah gudang belakang. Dengan langkah kaki yang perlahan sambil menatap ke arah sekeliling Mikaila mulai masuk ke dalam gudang dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang di sana.
"Dor" ucap sebuah suara.
"Aaaaa" teriak Mikaila yang lantas langsung terhenti karena sebuah tangan membekap dirinya dari depan.
"Ini aku Ebra, bisakah kau untuk tidak teriak-teriak? Apa kau sengaja ingin memberitahu pak Rahmat jika kita sedang ada di sini?" ucap Ebra dengan nada yang berbisik.
Mikaila yang baru mengetahui jika Ebra tengah mengerjainya, lantas langsung menggigit tangan Ebra dengan keras karena kesal akan tingkah Ebra yang selalu saja usil dengannya. Sedangkan Allen yang melihat tingkah keduanya itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Apa kalian berdua akan terus seperti itu? Cepatlah sedikit sebelum pak Rahmat menemukan kita." ucap Allen dengan nada yang dingin.
Mendengar ucapan Allen barusan membuat Ebra dan juga Mikaila lantas menghentikan aksi mereka yang sedari tadi saling membalas satu sama lain. Dengan mulut yang langsung terdiam Mikaila dan juga Ebra terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Allen dan mengambil duduk di sana.
"Baiklah maaf, sebaiknya kita mulai saja pembahasan saat ini..." ucap Ebra kemudian sambil menatap ke arah Mikaila dan juga Allen secara bergantian.
"Sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya tidak aku ketahui? Mengapa aku merasa seperti aku yang tidak tahu apa-apa disini?" ucap Mikaila dengan tatapan yang penasaran ke arah keduanya.
Mendengar pertanyaan tersebut Ebra kemudian mulai membuka suara dan menjelaskan segalanya tentang rekaman kamera pengawas yang tiba-tiba menghilang pada iPad milik Zaki. Dengan percaya diri Ebra mengatakannya dengan penuh bangga jika apa yang terjadi saat itu adalah karena dirinya, dimana Ebra menggunakan sebuah jamer pengacau sinyal untuk merusak jaringan yang ada pada iPad milik Zaki melalui arloji miliknya. Cara kerja jamer tersebut hampir mirip seperti sebuah virus yang di masukkan ke dalam sebuah komputer dan mengacaukan segalanya.
Mikaila yang mendengar penjelasan dari Ebra barusan tentu saja langsung menatap kagum ke arah Ebra. Otak encer dan juga brilian milik Ebra benar-benar cocok digunakan disaat situasi-situasi seperti itu. Sedangkan Ebra yang mengerti akan tatapan kagum dari Mikaila semakin membusungkan dadanya dengan bangga akan kerja kerasnya, membuat Allen yang melihat tingkah Ebra seperti itu lantas dengan spontan memukul tengkuk Ebra dengan pelan yang langsung membuat Ebra menatap tajam ke arah Allen.
"Apa sih Al? Sakit tahu!" ucap Ebra dengan nada kesal sambil mengusap tengkuknya yang baru saja dipukul oleh Allen barusan.
Sedangkan Mikaila yang melihat Ebra dipukul oleh Allen malah tersenyum dengan kecil sambil menatap ke arah Allen dan juga Ebra yang tengah saling tatap satu sama lainnya dengan tatapan yang tajam.
Mikaila yang semula tertawa menikmati aksi keduanya lantas baru mengingat satu hal yang ia lewatkan sedari tadi, membuat Mikaila langsung menatap ke arah Allen dengan tatapan yang bertanya-tanya.
"Lalu apa yang terjadi dengan chip tersebut? Dimana kamu menyembunyikannya?" ucap Mikaila kemudian bertanya membuat Allen dan juga Ebra langsung saling pandang satu sama lainnya.
__ADS_1
"Jadi..."
Bersambung