No Exit

No Exit
Dimana Ebra?


__ADS_3

Sementara itu di sebuah ruangan yang penuh dengan bunga bunga di mana sejauh mata memandang, terlihat Zaki tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut untuk menemui seseorang di sana.


Dengan langkah kaki yang bergegas, Zaki terus membawa kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut dan berhenti tepat di belakang punggung seseorang yang ia kenali.


"Bagaimana keadaan tiga bocah itu?" tanya sebuah suara yang ternyata adalah Viola.


"Mereka masih pingsan, apa kau yakin akan menjadikan mereka bertiga pemenangnya?" tanya Zaki sekali lagi.


Jujur saja Zaki sedikit ragu akan keputusan Viola saat ini, ketiga anak itu terlihat bukanlah tiga murid patuh pada umumnya. Manik mata ketiganya bahkan selalu menghantui Zaki setiap harinya karena takut seluruh rahasia sekolah yang selama ini di simpan rapat rapat, harus terbuka hanya karena tiga anak ingusan itu.


"Kau tak perlu khawatir, bukankah tradisi kita adalah menjadikan siswa yang mempunyai kedudukan tinggi sebagai pemenangnya? Jika kita menyingkirkan ketiga anak itu, resikonya terlalu besar karena background orang tua mereka yang berada." jawab Viola dengan singkat sambil masih berkutat dengan bunga bunga di sekitarnya.


"Bagaimana jika mereka berulah?" ucap Zaki kembali bertanya.


Mendengar ucapan Zaki barusan membuat Viola tersenyum sekilas. Viola nampak menghentikan aktifitasnya kemudian mengambil posisi bersendekap dada dan menatap ke arah Zaki dengan tatapan yang aneh, membuat Zaki menjadi kebingungan akan maksud dari tatapan tersebut.


"Buat mereka menandatangani perjanjian mungkin itu akan berguna, namun jika hal itu tidak bisa merantai mereka... kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" ucap Viola dengan senyum yang menyeringai.


Zaki yang mendengar ucapan dari Viola barusan tentu saja langsung tersenyum, Zaki tahu dengan pasti apa yang di maksud oleh Viola barusan tanpa perlu di jelaskan secara mendetail.


"Baiklah jika memang kau sudah menyiapkan segalanya." ucap Zaki pada akhirnya.


"Bagus"


**


Resort Edelweis


Mikaila yang merasakan seberkas cahaya menembus ke retinanya, lantas perlahan lahan mengerjapkan matanya berusaha untuk membuka kelopak matanya dengan sempurna. Netra Mikaila lantas terhenti ketika menatap sebuah atap yang sangat terasa sangat asing di ingatannya.

__ADS_1


Mikaila yang sama sekali tidak tahu ia tengah berada di mana, perlahan lahan mulai bangun dan memposisikan dirinya duduk. Selang infus terlihat menancap di punggung tangannya di sertai area leher yang terluka akibat goresan batu tadi, kini sudah terbalut rapi dan tidak lagi terasa sakit.


Mikaila terdiam sejenak di tempatnya mencoba untuk mengumpulkan ingatannya. Hingga ketika ia perlahan lahan mulai menyadari apa yang terjadi, barulah Mikaila langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari keberadaan Allen dan juga Ebra di sana.


"Allen... Ebra.. kalian di mana?" panggil Mikaila dengan nada yang lirih sambil menatap area sekitaran.


Mikaila yang tidak menemukan keberadaan Ebra dan juga Allen, lantas langsung melepas selang infus yang terpasang di punggung tangannya sambil sedikit meringis kesakitan. Perlahan tapi pasti Mikaila mulai bangkit dari tempatnya dan bergerak keluar dari ruangan tersebut hendak mencari keberadaan Allen dan juga Ebra di luar.


Mikaila membuka pintu ruangan kamar tersebut, dengan gerakan yang bergegas dan pandangannya langsung terhenti, ketika Mikaila melihat Allen juga sedang membuka pintu ruangan yang berada tepat di depan kamarnya.


"Apa kau baik baik saja?" ucap Allen ketika melihat Mikaila keluar dari ruangan yang berada di depan ruangannya.


Sedangkan Mikaila yang mendengar ucapan dari Allen, hanya mengangguk secara pelan tanpa menanggapinya lagi karena Mikaila masih sedikit marah ketika mengingat kembali ucapan Fatur sebelum kematiannya.


"Di mana Ebra?" tanya Mikaila kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan ketika Allen sedang berusaha memeriksa tubuhnya untuk melihat apakah Mikaila terluka atau tidak.


"Kalau begitu sebaiknya kita mencari Ebra saat ini, aku takut posisi kita masih belum aman saat ini." ucap Mikaila yang lantas di balas anggukan kepala oleh Allen.


Pada akhirnya keduanya kemudian lantas memutuskan untuk mencari keberadaan Ebra sama sama. Dengan langkah yang perlahan sambil menyusuri lorong lorong bangunan tersebut. Keduanya lantas di buat takjub akan pemandangan alam yang di tunjukkan di sekitaran lorong yang mereka lalui.


"Apa kamu yakin kita di culik? mengapa aku malah merasa kita seperti sedang berwisata?" ucap Mikaila dengan polosnya yang lantas membuat Allen langsung dengan spontan menjitak kening Mikaila dengan pelan.


Mikaila yang menerima jitakan tersebut hanya bisa meringis sambil mengusap area keningnya yang terasa sedikit sakit.


"Perhatikan ucapan mu kita tidak sedang bermain main di sini." ucap Allen memperingati.


"Dasar kampret!" ucap Mikaila sambil memutar bola matanya jengah ketika mendengar ucapan dari Allen barusan.


Setelah perdebatan singkat itu, baik Allen maupun Mikaila kemudian lantas melanjutkan langkah kaki mereka mencari keberadaan Ebra di sekitaran ruangan tersebut.

__ADS_1


**


Sementara itu di sebuah ruangan di mana terdapat banyak komputer yang terpasang hampir memenuhi seluruh ruangannya. Seseorang pria berjas hitam dengan name tag Hadi di dadanya, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Zaki yang terlihat tengah bersandar pada kursi kebesarannya, sambil menikmati pemandangan alam yang tersaji pada dinding kaca di hadapannya.


"Permisi pak..." ucap Hadi dengan sopan.


Mendengar sebuah suara memanggilnya, perlahan lahan Zaki mulai memutar kursi kebesarannya dan menatap ke arah sumber suara dengan tatapan yang bertanya tanya seakan menunggu informasi apa yang akan di berikan oleh Hadi saat ini.


"Ada apa?" tanya Zaki kemudian.


"Ketiga anak anak itu sudah bangun semua pak, satu orang kini sedang terlihat menikmati sajian hidangan di meja makan, sedangkan yang dua orang lagi tengah berada di lorong pak." ucap Hadi melaporkan.


Zaki yang mendengar laporan dari Hadi barusan lantas terdiam sejenak kemudian tersenyum dan bangkit dari posisinya.


"Katakan kepada Farhan untuk membawa berkas yang aku minta menuju ke Resort, aku akan menunggunya di sana." ucap Zaki sambil melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut.


"Baik pak" ucap Hadi yang langsung mengiyakan perintah dari Zaki barusan.


**


Resort Edelweis


Mikaila dan juga Allen terlihat terus melangkahkan kakinya mengikuti arah lorong Resort ini, dengan bangunan yang begitu luas membutuhkan waktu cukup lama bagi Allen dan juga Mikaila untuk menyusuri area Resort guna mencari keberadaan Ebra di sini.


Ketika keduanya sudah mulai kelelahan berjalan ke sana kemari tapi tidak kunjung bertemu dengan Ebra. Mikaila yang mencium aroma harum masakan, lantas menarik tangan Allen agar sedikit melipir dan mengisi perutnya, namun tanpa mengatakannya secara langsung karena Mikaila tahu Allen pasti akan marah jika mengetahuinya.


"Ebra!" pekik Mikaila dan juga Allen secara bersamaan ketika mereka sampai di dapur dan melihat seseorang yang mereka cari sedari tadi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2