No Exit

No Exit
Suara rintihan seseorang


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan Rin?" ucap Mikaila yang tak kunjung mengerti juga, namun Rini bukannya menjawab malah tersenyum ke arah Mikaila, membuat Mikaila semakin kebingungan di buatnya.


Ketika Mikaila hendak kembali bertanya akan maksud dari ucapan Rini barusan, sebuah suara panggilan dengan suara yang tak asing lantas terdengar di telinga Mikaila, membuat Mikaila dengan spontan menoleh ke arah belakang untuk melihat suara siapa yang baru saja memanggilnya tersebut.


"Mikaila..." teriak sebuah suara yang lantas membuat Mikaila langsung menatap ke arah sumber suara di mana ia melihat Allen dan juga Ebra tengah melangkahkan kakinya dengan terburu-buru mendekat ke arahnya.


"Kalian berdua, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Mikaila kemudian sambil menatap ke arah Allen dan juga Ebra secara bersamaan.


"Justru harusnya kita berdua yang bertanya kepadamu, apa yang kamu lakukan seorang diri di sini?" ucap Ebra kemudian dengan nada yang menyolot.


"Aku sedang berbicara dengan Rini tapi kalian malah mengganggu ku!" ucap Mikaila dengan kesal sambil berbalik badan hendak kembali bertanya kepada Rini.


Hanya saja, ketika Mikaila berbalik badan dan menatap kembali ke arah mulut gua Rini sudah tidak lagi ada di sana, membuat Mikaila kemudian langsung menatap celingukan ke arah sekitar mencoba mencari keberadaan Rini di sekitar sana, namun sayang Mikaila sama sekali tidak menemukan Rini dimanapun juga.


"Jangan bercanda deh Kai, sedari tadi kami hanya melihat mu seorang diri di sini." ucap Ebra kemudian dengan nada yang kebingungan ketika menatap ke arah Mikaila yang terlihat celingukan.


"Ini pasti gara-gara kalian, lihatlah Rini bahkan menghilang karena kalian berdua!" ucap Mikaila dnegan nada yang kesal.


"Sudahlah sepertinya kamu lelah, sebaiknya kita pulang dan istirahat saja." ajak Allen kemudian yang malah membuat Mikaila kian kesal ketika mendengar ucapan dari Allen barusan.


"Aku tidak mau pulang karena aku akan mencari seseorang di dalam sana, jika kalian berdua mau istirahat sebaiknya kalian berdua saja yang kembali!" ucap Mikaila sambil melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam mulut gua yang gelap itu.

__ADS_1


Allen yang melihat Mikaila hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam mulut gua, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mikaila hendak mencegah Mikaila agar tidak masuk ke dalam gua.


"Kamu jangan gila Kai!" teriak Allen sambil melangkahkan kakinya bergegas menyusul Mikaila.


"Kau cukup diam saja dan lihat! Jangan mengganggu ku!" ucap Mikaila dengan kekeh.


Mikaila benar-benar penasaran akan ucapan Rini yang mengatakan seseorang masih hidup di dalam sana, sehingga membuatnya bersikeras hendak masuk ke dalam gua walau Mikaila sama sekali tidak tahu apa yang menantinya di dalam sana ketika Mikaila masuk ke dalamnya.


Mikaila melangkahkan kakinya terus mendekat ke arah mulut gua, sedangkan Allen yang melihat Mikaila hendak masuk ke dalamnya berusaha untuk menarik tangan Mikaila agar tidak sampai masuk ke dalam sana. Hanya saja sayangnya, Mikaila yang terkejut akan tarikan tangan dari Allen yang tiba-tiba lantas terpleset dan jatuh ke dalam bersama dengan Allen, membuat Ebra yang melihat keduanya jatuh ke dalam mulut gua langsung terkejut seketika dan mendekat ke arah mulut gua.


"Al.. Kai... kalian tidak apa-apa?" teriak Ebra kemudian sambil menatap ke arah lubang gua yang sangat gelap tersebut.


**


Mikaila yang merasakan tubuhnya sudah berhenti berputar lantas nampak terdiam sejenak seakan mencoba meredam rasa sakit yang melanda tubuhnya setelah berguling beberapa meter dari mulut gua.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Allen karena tidak mendengar suara apapun dari Mikaila selain hanya keheningan.


"Iya ku rasa." ucap Mikaila sambil perlahan lahan bangkit dari posisinya. "Apa kamu terluka?" tanya Mikaila kemudian sambil mencoba menatap ke arah Allen namun sayangnya tidak bisa karena suasana gua yang sangat gelap saat itu.


Hingga sebuah sinar yang berasal dari pemantik api milik Allen mulai memberikan sedikit penerangan di dalam gua tersebut, yang bisa membuat Mikaila melihat dengan jelas wajah Allen saat ini.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja tidak perlu khawatir, lagipula apa kau sudah gila? Apa yang kau pikirkan dengan tiba-tiba melompat ke dalam mulut gua yang kau sendiri tidak tahu apa isi di dalamnya!" ucap Allen kemudian dengan nada yang kesal setelah bisa menatap raut wajah Mikaila di dalam gua ini.


"Apa peduli mu jika aku melompat ke sini? Kau bahkan tega membiarkan teman-teman mu mati dihadapan mu, lalu mengapa aku tidak?" teriak Mikaila dengan nada yang kesal.


Mendengar ucapan Mikaila yang langsung melukai hatinya, membuat Allen terdiam seketika. Apa yang diucapkan oleh Mikaila bukanlah sebuah omong kosong belakang, perasaan bersalah mendadak kembali menyeruak dan memenuhi dadanya ketika mendengar ucapan Mikaila tentang kematian teman-temannya yang tragis tepat di depan matanya sendiri. Allen yang melamun tepat setelah mendengar perkataan dari Mikaila sampai melupakan bahwa jari tangannya tengah memegang pemantik api, sehingga membuat tangannya sedikit menyentuh api dan detik itu juga api langsung padam seketika.


"Aw panas" ucap Allen.


Sedangkan Mikaila yang mengetahui hal tersebut langsung meraih tangan Allen yang terkena api kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya dengan spontan, membuat Allen yang mendapat perlakuan tersebut langsung tertegun seketika karena tidak menyangka Mikaila akan melakukannya walau di tengah perasaan kesal terhadap Allen karena kesalahannya.


Mikaila menghisap ibu jari tangan Allen selama beberapa detik kemudian tersadar bahwa apa yang dilakukannya itu tidaklah benar. Menyadari respon yang ia lakukan pasti akan membuat suasana kian menjadi canggung, perlahan lahan Mikaila mulai melepaskan tangan Allen yang lantas membuat Allen langsung berdehem seketika itu juga seakan mencoba untuk menetralkan suasana.


"Maaf tadi aku..." ucap Mikaila namun terhenti ketika samar-samar ia seperti mendengar sebuah suara orang merintih tak jauh dari tempatnya berada. "Apa kamu mendengarnya Al?" tanya Mikaila kemudian.


Mendapat pertanyaan tersebut Allen kemudian mulai membuka telinganya lebar-lebar dan mencoba mendengar suara yang Mikaila katakan barusan.


"Iya, seperti suara rintihan seseorang tak jauh dari sini." ucap Allen kemudian seakan mengiyakan ucapan Mikaila.


"Nyalakan pemantik mu dan kita cari sumber suara rintihan tersebut!" ucap Mikaila kemudian memberikan perintah kepada Allen agar menyalakan pemantik api miliknya.


"Apa kau yakin? Jika itu bukan manusia bagaimana?" ucap Allen kemudian.

__ADS_1


"Kita hadapi bersama"


Bersambung


__ADS_2