
Ruang tengah
Terlihat Mikaila, Allen dan juga Ebra tengah duduk di ruang tengah sambil menatap serius ke arah beberapa kertas yang terlihat berjajar rapi di atas meja. Pandangan mata Allen menatap intens pada setiap kata yang terkandung di dalam berkas tersebut.
Mikaila yang juga ikut terlibat di sana lantas menatap kertas tersebut dengan pandangan yang menelisik, perjanjian ini benar benar gila. Kesepakatan yang di buat hanya menguntungkan pihak sekolahan sedangkan mereka sama sekali tak mendapatkan apapun juga dari perjanjian tersebut kecuali sebuah paket liburan 3 hari 3 malam dan juga jaminan kelulusan dengan nilai yang memuaskan.
Mikaila menyikut lengan Allen dengan pelan, membuat Allen dengan spontan langsung menoleh ke arah Mikaila dan mengangguk pelan seakan mengerti apa yang tengah di pikirkan Mikaila saat ini, sedangkan Mikaila yang melihat respon Allen kemudian mulai diam dan menyerahkan segalanya kepada Allen.
"Bukankah isi perjanjian ini memberatkan kami pak? walau saya tidak mengerti tentang hukum namun saya tau gambaran kasarnya?" ucap Allen mulai membuka suaranya.
Mendengar ucapan Allen barusan, Zaki yang semula diam lantas langsung merubah posisi duduknya dan menatap ke arah Allen dengan senyuman yang mengembang.
"Bukankah hadiah yang kalian terima cukup memuaskan? lagi pula tujuan orang tua kalian menyekolahkan kalian ke sekolah ini, bukankah untuk hal tersebut?" ucap Zaki dengan santainya.
Sedangkan Allen yang mendengar jawaban dari Zaki barusan tentu saja geram bukan main, namun mereka tidak berani berbuat apa apa selain hanya memendamnya di dalam hati. Ebra yang tahu Allen sedang menahan amarahnya, lantas langsung menepuk pundak Allen berusaha untuk menenangkan Allen agar tidak terlalu tersulut emosi ketika berhadapan dengan Zaki.
"Mungkin lebih baik kita menandatanganinya Al... lagi pula selagi kita tidak berbuat sesuatu hal buruk kita juga tidak di rugikan, bukan?" ucap Ebra dengan nada yang berbisik.
"Tapi..." ucap Allen namun terpotong ketika mendengar suara Mikaila yang ikut berbicara.
"Tidak ada salahnya Al, mungkin saat ini menandatangani kesepakatan ini adalah yang terbaik." ucap Mikaila ikut memberikan saran kepada Allen, karena jika dipikirkan lagi mungkin keputusan ini adalah keputusan yang terbaik.
Allen yang mendengar kedua temannya mengatakan hal yang sama, pada akhirnya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dengan gerakan yang setengah terpaksa Allen kemudian mulai mengambil pulpen yang terletak di hadapannya dan mulai membubuhkan tanda tangan kemudian di serahkan kepada Mikaila dan juga Ebra untuk ditanda tangani juga.
Setelah tanda tangan ketiganya lengkap, Ebra menggeser surat kesepakatan itu kepada Zaki, yang lantas membuat Zaki tersenyum dengan cerah ketika melihat ketiganya sudah menyetujui kesepakatan ini. Baru setelah menerima surat kesepakatan itu, Zaki lantas bangkit dari tempatnya kemudian menatap ketiganya secara bergantian.
__ADS_1
"Nikmati waktu liburan kalian selama 3 hari 3 malam di Resort ini, untuk semua kebutuhan kalian tidak perlu khawatir karena semua sudah di siapkan secara lengkap khusus untuk para pemenang event ini." ucap Zaki kemudian berlalu pergi, namun beberapa kali melangkah Zaki lantas menghentikan
langkah kakinya dan kembali menatap ke arah mereka bertiga.
"Aku akan datang menemui kalian kembali tepat di hari ke empat, jadi nikmati waktu bersantai kalian." ucap Zaki sambil tersenyum kemudian berlalu pergi dari sana.
Baik Mikaila, Allen dan juga Ebra yang melihat tingkah Zaki tentu saja semakin di buat geram, setelah kepergian Zaki dari sana Allen bahkan langsung melemparkan bantal sofa ke arah Zaki namun berakhir membentur tembok karena Zaki sudah tidak lagi ada di sana.
"Apa kalian sudah benar benar yakin dengan tindakan kita? menandatangani kesepakatan itu sama halnya kita ikut andil dalam menutupi kejahatan mereka!" ucap Allen dengan nada yang kesal.
Mikaila yang mendengar gerutuan Allen, lantas langsung mendekat ke arah Allen dan mulai membisikkannya sesuatu.
"Tenang lah Al.. sebaiknya kita bicara di kamar saja jangan di sini oke.." ucap Mikaila sambil memberikan isyarat kepada Allen agar diam dan tidak lagi membuka suaranya secara sembarangan.
"Tapi..." ucap Allen hendak kembali mengeluarkan suaranya namun urung ketika melihat kode dari Ebra yang menyuruhnya untuk diam.
***
Kamar Ebra
Ketika ketiganya sampai di dalam kamar, Ebra yang baru saja menutup pintunya lantas langsung bergerak dan mendekat ke arah sudut ruangan. Di kunyahnya satu butir permen karet baru setelah beberapa detik di lemparkannya ke atas dan langsung mengenai CCTV ruangan kamar tersebut.
Allen dan juga Mikaila yang tidak mengerti akan kelakuan Ebra, lantas hanya menatap Ebra dengan tatapan yang bingung namun tidak berani bertanya secara langsung kepada Ebra.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Allen dengan raut wajah yang penasaran.
__ADS_1
"Ah... itu hanya permen karet pengecoh sinyal buatan ku, mungkin waktu kerjanya sekitar 2 jam ke depan, lumayan lah untuk berdiskusi sebentar." ucap Ebra dengan santai.
"Lalu apakah hanya ada satu kamera saja di sini?" tanya Mikaila kemudian.
"Tentu saja tidak, tapi kalian tidak perlu khawatir karena aku sudah memutus semua koneksinya jadi aman." ucap Ebra dengan percaya diri.
Mikaila dan juga Allen yang mendengar ucapan dari Ebra barusan hanya manggut manggut tanda mengerti, baru setelah itu Ebra mengambil duduk di dekat Mikaila dan juga Allen sambil menatap serius ke arah keduanya secara bergantian.
"Apa kalian ingat? tentang chip yang di berikan bu Manda kepada Mikaila?" tanya Ebra dengan tiba tiba yang lantas membuat Mikaila dan juga Allen saling pandang satu sama lain.
"Memangnya kenapa?" tanya Mikaila kemudian.
"Setelah aku menyelidiki komponennya yang terdapat pada chip tersebut cara kerjanya seperti sebuah alat pemindai keadaan sekitar, fungsinya hampir mirip dengan rekaman kamera pengawas yang modelan begitu." ucap Ebra kemudian sambil menunjuk ke arah atas di mana rekaman kamera pengawas terletak.
Mendengar perkataan Ebra barusan, membuat Mikaila dan juga Allen hanya terdiam sambil mencerna ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Ebra.
"Lalu? jangan bilang..." ucap Mikaila ketika baru menyadari maksud dari ucapan Ebra barusan.
Ebra yang langsung faham akan ucapan dari Mikaila, kemudian lantas tersenyum sambil menatap ke arah Mikaila seakan mengiyakan apa yang ada pada isi pikiran Mikaila tentang chip pemberian dari Manda waktu itu.
"Jika memang ucapan mu benar, itu artinya ada maksud tersendiri mengapa bu Manda memberikan chip itu kepada Mikaila tepat sebelum keberangkatan kita ke sini." ucap Allen yang lantas di balas anggukan kepala oleh Mikaila dan juga Ebra.
Ketika ketiganya sedang asyik membahas tentang teka teki yang mulai terhubung satu persatu, sebuah gebrakan yang berasal dari pintu kamar lantas membuat diskusi mereka terhenti seketika.
Bruk...
__ADS_1
"Sudah ku duga" ucap Ebra dengan tersenyum sinis.
Bersambung