No Exit

No Exit
Perasaan yang menghangat


__ADS_3

Ketika Arhan sampai tepat di depan pintu depan, perlahan Arhan mulai memutar handel pintu dan membukanya dengan lebar untuk melihat siapa si tamu yang berkunjung ke kamar kos temannya.


"Bapak?" ucap Arhan yang sedikit terkejut akan kehadiran seseorang yang mendadak berkunjung ke kosannya, padahal biasanya Arhan lah yang akan mampir ke sana jika ada sesuatu.


Ardi yang mendengar panggilan Arhan barusan lantas tersenyum, setelah dari Sekolahan Ardi bergegas menuju ke kosan Arhan untuk memberitahu pesan dari Allen untuk Arhan. Sedangkan melihat Ardi yang datang Arhan kemudian langsung mempersilahkan Ardi untuk masuk ke dalam kosan.


**


Ruang tamu


Terlihat Ardi dan juga Arhan tengah duduk saling berhadapan sambil membahas beberapa hal yang penting, Ardi juga menceritakan niat kedatangannya menemui Arhan kemari untuk menyampaikan pesan aneh dari Allen untuk Arhan. Arhan yang mendengar ucapan dari Ardi tentu saja langsung berpikir dengan keras akan arti dari pesan Allen kepadanya.


"Pikirkanlah dengan perlahan nak, aku yakin ada maksud tersembunyi dari pesan yang diberikan Allen untukmu. Sepertinya anak itu belum terlalu mempercayaiku." ucap Ardi dengan tersenyum.


"Teman ku yang satu itu memang selalu waspada orangnya pak, namun dia orangnya baik kok. Jadi saya harap bapak tidak sakit hati akan sikap Allen kepada bapak." ucap Arhan seakan merasa tidak enak.


Ardi yang mendengar permintaan maaf dari Arhan lantas tersenyum, ditatapnya sudut bibir Arhan yang terluka itu dengan tatapan yang menelisik kemudian menghela nafasnya dengan panjang, membuat Arhan lantas dengan spontan langsung melirik ke arah Ardi dengan raut wajah yang penasaran ketika mendengar helaan nafas tersebut.


"Apakah tidak berjalan dengan lancar nak?" tanya Ardi sambil menunjuk sudut bibir Arhan dengan ekor matanya.


"Emm... ya... ayah ku orangnya keras dan masa bodoh mangkanya aku mendapatkan luka ini hehe." ucap Arhan sambil tersenyum garing seakan menutupi tentang sakit hatinya agar tidak terlalu terbaca oleh Ardi.


"Jika kamu ada masalah kamu boleh berbagi dengan bapak, jangan ragu karena bapak todak ada niatan jahat kepadamu." ucap Ardi sambil menepuk bahu Arhan beberapa kali.


Perasaan Arhan benar-benar menghangat ketika mendengar perkataan dari Ardi barusan. Sikap yang ditunjukkan oleh Ardi sungguh berbanding terbalik dengan Baskara ayahnya, sehingga entah mengapa Arhan lebih merasa tenang dan santai ketika bersama dengan Ardi walau mereka belum lama kenal.


"Terima kasih banyak pak..." ucap Arhan kemudian dengan senyum yang mengembang ke arah Ardi.

__ADS_1


****


Sore harinya


Dari arah koridor kelas terlihat Mikaila tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah lapangan basket, dimana Allen saat ini tengah menunggunya. Setelah Ardi memberi mereka sebuah tas selempang sesudah kelas selesai, keduanya memutuskan untuk bertemu Ebra di kamar Asramanya, namun sebelum itu Allen dan Mikaila janjian untuk bertemu di lapangan basket sebelum pada akhirnya menuju ke kamar Asrama Ebra.


Dari arah kejauhan Mikaila melihat Allen yang kini tengah berdiri sambil menunggu dirinya datang. Dengan langkah yang bergegas sambil menoleh ke arah kanan dan kiri Mikaila lantas mempercepat langkah kakinya.


"Al..." panggil Mikaila yang lantas membuat Allen langsung menoleh ke arah sumber suara.


Mendengar panggilan tersebut Allen lantas dengan spontan menoleh ke arah sumber suara. Seulas senyum terbit dari wajah Allen ketika melihat Mikaila datang mengenakan baju olahraga yang dipadu padankan dengan hoodie hitam. Sedangkan Mikaila yang melihat senyuman tersebut terlihat mulai kesal karena Mikaila merasa Allen tengah mengerjainya saat ini karena menyuruhnya dengan berpenampilan seperti ini.


"Jika kamu menyuruh ku mengenakan pakaian ini hanya untuk mengejek ku maka terima kasih aku akan kembali ke asrama saja." ucap Mikaila dengan nada yang kesal.


"Jangan merajuk, aku sama sekali tidak menertawakan mu tapi aku hanya sedang berpikir rambut apa yang cocok digunakan untuk pakaian mu, mangkanya aku tersenyum." ucap Allen kemudian mencoba untuk menjelaskan.


"Sudahlah ikut saja dengan ku!" ucap Allen kemudian.


Setelah mengatakan hal tersebut Allen kemudian menarik tangan Mikaila agar mengikuti arah tarikannya, sedangkan Mikaila yang ditarik dengan tiba-tiba hanya bisa pasrah mengikuti kemanapun Allen membawanya pergi.


***


Kamar mandi


Setelah beberapa menit menunggu, bilik kamar mandi nampak terbuka dengan lebarnya yang kini menampilkan sosok Mikaila dengan rambut pasangan model laki-laki yang terbuat dari bahan rapiah, Allen yang melihat Mikaila keluar lantas berpikir sejenak kemudian langsung menyuruh Mikaila kembali ke kamar mandi dan berganti rambut.


"Tidak cocok ganti!" ucap Allen dengan nada yang santai.

__ADS_1


Mikaila yang melihat kode tersebut tentu saja langsung berdecak dengan kesal sambil kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam bilik kamar mandi lagi.


Satu menit kemudian Mikaila nampak kembali keluar namun kali ini dengan menggunakan rambut pasangan dengan potongan pria model K-Pop yang kali ini berbahan dasar dari benang wol. Seulas senyum lantas terbit dari wajah Allen begitu melihat rambut pasangan ini cocok untuk Mikaila pakai. Dengan langkah kaki yang perlahan Allen lantas mendekat ke arah Mikaila sambil tersenyum dengan cerah.


"Yang satu ini tidak buruk!" ucap Allen kemudian dengan senyum yang mengembang.


"Yang benar saja, lagi pula kamu dapat dari mana wig ini? Benar-benar aneh..." ucap Mikaila sambil memainkan setiap helai rambut pasangan tersebut.


"Aku membuatnya dengan benang wol, tapi.... aku rasa tidak terlalu buruk juga." ucap Allen kemudian sambil tersenyum bangga menatap ke arah Mikaila.


Allen yang terlihat mendadani Mikaila seperti layaknya siswa laki-laki bukan tanpa alasan. Pasalnya Asrama putra dan juga Asrama putri yang sudah di pisah sejak dulu, tidak memperbolehkan ada tamu lawan jenis masuk ke asrama satu sama lainnya. Peraturan yang ketat ketika memasuki asrama, lantas membuat Allen memutar otaknya mencari cara agar bisa membawa Mikaila masuk ke dalam Asrama putra.


****


Gedung asrama putra


Di area depan gedung terlihat Allen dan juga Mikaila tengah berdiri sambil memandangi area depan gedung Asrama putra. Ada sedikit perasaan khawatir yang kini menyelimuti hati Mikaila dan juga Allen ketika keduanya hendak melangkahkan kaki mereka masuk ke dalamnya. Diliriknya sekilas Allen yang terlihat sedang memasang wajah yang tegang, membuat Mikaila langsung menelan salivanya dengan kasar ketika melihat ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Allen saat ini.


"Apa kamu yakin kita akan berhasil Al? tanya Mikaila dengan raut wajah yang penasaran.


"Kita tidak akan tahu jika kita tidak mencobanya." ucap Allen kemudian sambil menatap lurus ke arah depan.


Pada akhirnya keduanya kemudian memutuskan untuk melangkahkan kaki mereka berdua masuk ke dalam gedung asrama. Hingga kemudian suara dari seseorang yang sangat di kenal oleh mereka, lantas menghentikan langkah kaki keduanya.


"Tunggu!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2