No Exit

No Exit
Sebuah notifikasi


__ADS_3

Melihat cairan yang merembes dari balik tembok tersebut membuat Mikaila tertegun seketika. Perlahan-lahan Mikaila yang penasaran akan sumber dari cairan tersebut lantas mendongak menatap ke arah tembok. Betapa terkejutnya Mikaila ketika ia mendongak dan malah mendapati sosok Rini sudah berdiri dengan kaki yang melayang tidak menyentuh tanah. Wajah Rini yang begitu pucat disertai darah yang terus menetes di setiap ujung jari-jari kakinya lantas membuat Mikaila terkejut seketika hingga jatuh dalam posisi terduduk ketika melihat hal tersebut.


"Ri.....rini?" ucap Mikaila dengan nada yang lirih membuat wajah Rini perlahan-lahan mulai menoleh ke arah Mikaila begitu mendengar namanya di sebut oleh Mikaila.


Mikaila terdiam dengan posisi mematung mendongak ke atas melihat raut wajah sendu yang di tunjukkan oleh Rini. Saking fokusnya Mikaila menatap ke arah Rini, sampai Mikaila tidak menyadari bahwa dari pintu yang terletak di sudut ruangan tersebut terlihat Viola tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam sambil membawa beberapa sesajen di atas nampan. Melihat ada seseorang di ruangannya tentu saja membuat Viola terkejut bukan main, sambil menatap dengan tatapan menelisik Viola lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mikaila yang terlihat menatap kosong ke arah atas. Membuat Viola lantas bertanya-tanya apa yang sedang Mikaila lihat sebenarnya di atas sana.


"Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Viola kemudian yang lantas mengejutkan Mikaila.


Mikaila yang melihat Viola tengah melangkahkan kakinya semakin dekat ke arahnya lantas mulai bangkit dari posisinya dan menatap ke arah Viola dengan tatapan yang bingung. Mikaila benar-benar tidak tahu apa yang harus ia jelaskan kepada Viola ketika Viola bertanya tentang apa yang ia lakukan di ruangannya, hingga kemudian Mikaila yang tidak tahu hendak mengatakan apa lagi lantas mulai menunjuk ke arah tembok di bagian belakangnya. Membuat Viola yang tidak mengerti akan maksud dari Mikaila kemudian mulai mengikuti arah tunjuk Mikaila.


"Ada noda darah di sana Bu...." ucap Mikaila kemudian yang tentu saja membuat Viola terkejut seketika.


"Apa jangan-jangan..." ucap Viola dalam hati sambil menatap lurus ke arah depan.


Viola yang mendengar perkataan dari Mikaila barusan lantas meletakkan begitu saja nampan yang ada di tangannya, kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mikaila untuk melihat kebenaran yang Mikaila katakan barusan. Hanya saja ketika langkah kaki Viola sudah dekat dan hanya tinggal beberapa centi saja Viola terlihat menghentikan langkah kakinya ketika ia melihat bahwa di lantai sama sekali tidak ada noda darah seperti yang dibicarakan oleh Mikaila barusan.


"Kamu jangan bercanda ya? Lagi pula apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Viola kemudian dengan nada yang kesal menatap tajam ke arah Mikaila.

__ADS_1


"Saya minta maaf bu, kedatangan saya kemari untuk mengantarkan map tersebut. Saya minta maaf jika tidak menunggu anda datang karena saya pikir akan terlalu lama nantinya, sekali lagi saya minta maaf bu." ucap Mikaila kemudian mencoba untuk mencari simpati Viola.


Mendengar permintaan maaf dari Mikaila barusan membuat Viola lantas menghela napasnya dengan panjang. Ditatapnya Mikaila dari atas hingga bawah membuat Viola baru menyadari jika yang ada dihadapannya adalah seseorang siswi yang lulus dari event tahunan sekolah ini.


"Sudahlah sebaiknya kamu kembali ke Asrama mu sebelum petang." ucap Viola kemudian menyuruh Mikaila kembali.


"Baik bu saya permisi." ucap Mikaila kemudian melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan Viola seorang diri di ruangannya.


***


Sementara itu di gudang area belakang terlihat Allen dan juga Ebra tengah duduk sambil menunggu kedatangan Mikaila dengan perasaan yang was-was. Allen yang sudah tidak sabaran lantas bangkit dari posisinya kemudian berganti dengan posisi berdiri, sambil menatap ke arah lorong Allen terus menunggu kedatangan Mikaila dengan perasaan yang khawatir.


"Tenanglah Al mungkin Mikaila masih sedang menuju ke arah sini, sebentar lagi aku yakin Mikaila akan datang." ucap Ebra mencoba menenangkan Allen agar tidak terlalu gelisah. Karena jujur saja ia sedikit pusing melihat Allen yang terus mondar-mandiri seperti itu sedari tadi tanpa henti.


Hingga kemudian tak berapa lama dari arah lorong terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka berdua, membuat Allen dan juga Ebra langsung menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar suara tersebut.


"Bukankah itu Mikaila Al?" ucap Kiera kemudian ketika melihat langkah kaki Mikaila yang semakin mendekat ke arahnya keduanya.

__ADS_1


Mikaila kemudian lantas menghentikan langkah kakinya ketika jarak diantara keduanya hanya berjarak berapa centi meter saja, membuat Allen yang melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Mikaila barusan, lantas langsung menatap ke arah Mikaila seakan menunggu Mikaila membuka mulutnya sebentar lagi.


"Apa terjadi sesuatu Kai?" tanya Allen kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Aku sudah berhasil meletakkan chip tersebut, hanya saja ada sesuatu yang aneh di ruangan bu Viola. Tidak hanya tentang jasad Rini yang ditanam di sana namun juga tingkah Bu Viola yang seakan terkesan aneh bagiku apalagi ketika aku tanpa sengaja malah berpapasan dengan bu Viola yang membawa nampan berisi sesajen di tangannya." ucap Mikaila kemudian yang lantas membuat Allen dan juga Ebra langsung saling pandang antara satu sama lainnya.


Baik Ebra maupun Allen ketika mendengar kata sesajen membuat ketiganya langsung terdiam seketika dalam pikiran mereka masing-masing. Apapun itu baik Allen, Mikaila maupun Ebra sama sekali tidak mengetahui perihal sesajen di ruangan bu Viola. Hingga kemudian sebuah suara yang berasal dari Ebra lantas terdengar membuat Allen dan juga Mikaila langsung menoleh dengan seketika.


"Untuk itulah kita menaruh micro chip tersebut di tiga titik yang mencurigakan, aku berharap lewat chip ini kita bisa mengumpulkan bukti-bukti baru untuk membantu kita menyelesaikan segalanya." ucap Ebra kemudian yang langsung dibalas anggukan kepala oleh keduanya.


"Ya kau benar aku setuju akan hal itu." ucap Allen kemudian.


Diskusi diantara ketiganya kemudian perlahan-lahan lantas terus berlanjut dan semakin dalam lagi. Beberapa hal yang bisa ketiganya tarik dari banyak hal yang mereka temui adalah bahwa semua hal yang terjadi saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Jika mereka bertiga terus berusaha dan berjuang mereka pasti akan berhasil menemukan akar dari permasalahan ini sekaligus menyelesaikan segalanya sampai ke akar-akarnya.


Ketika ketiganya sedang sibuk berdiskusi sebuah notifikasi nampak terdengar berbunyi pada Smartwatch milik Mikaila, membuat pembicaraan ketiganya langsung terhenti seketika begitu mendengarnya.


"Sudah waktunya." ucap Ebra kemudian yang lantas membuat Allen dan juga Mikaila bertanya-tanya dengan tatapan yang penasaran.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2