No Exit

No Exit
Hanya iseng


__ADS_3

Ruang kontrol


Hadi yang kala itu baru kembali dari pantry untuk membuat kopi, terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan kembali ke tempatnya. Pekerjaannya yang hanya menjadi pengawas di depan layar komputer, membuatnya terkadang selalu mengantuk ketika sedang tidak melakukan apa apa.


"Segelas kopi tubruk dengan aroma yang khas mungkin akan terasa nikmat menemani di kala suntuk seperti ini." ucap Hadi sambil mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya.


Dengan raut wajah yang ceria, Hadi terlihat mengaduk aduk kopinya secara berulang kali kemudian menyeruput kopi buatannya sendiri. Di tatapnya layar komputer dengan ogahan ogahan sambil mengawasi situasi.


"Sejauh ini masih aman, lagi pula apa yang akan di perbuat oleh ketiga anak anak itu selain bermain?" ucap Hadi dengan nada yang santai sambil terus menyeruput kopinya.


Sambil menatap ke arah layar komputernya, Hadi terlihat mengklik satu persatu rekaman kamera pengawas yang terpasang pada setiap tempat di Resort Edelweis, hanya saja setelah mengklik hampir setiap sudut yang terpasang rekaman kamera pengawas Hadi sama sekali tidak menemukan keberadaan tiga anak anak tersebut.


Hadi yang mengira ketiganya kabur kemudian mulai memperbaiki posisinya dan kembali mencari keberadaan anak anak tersebut, hingga ketika mouse miliknya mengklik pada rekaman kamera pengawas di salah satu kamar yang di tempati ketiganya, sayangnya ketika di klik seluruh layar berubah menjadi buram seakan tidak ada sinyal yang masuk ke sana. Hadi yang terkejut akan apa yang ia dapatkan, lantas berusaha membuka yang lainnya namun sayangnya hanya rekaman kamera pengawas di kamar tersebut yang tidak bisa di buka.


Merasa ada yang tidak beres dengan kamar tersebut, Hadi kemudian menyalakan speaker yang terhubung pada walkie talky beberapa bawahannya dan memerintahkan mereka untuk segera pergi menuju ke kamar tersebut.


Setelah memberikan pengumuman tersebut, Hadi kemudian bangkit dari posisinya dan berlari menyusul bawahannya menuju ke arah kamar tersebut sesuai dengan arahannya. Dengan langkah yang tergesa gesa Hadi melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar tersebut. Hingga ketika langkah kakinya berhenti tepat di hadapan kamar tersebut, Hadi mulai memberikan perintahnya untuk mendobrak pintu kamar dengan paksa.


Mendengar perintah dari Hadi barusan, beberapa orang pria berjas hitam lantas langsung melaksanakan perintahnya dan mendobrak pintu kamar Ebra dengan sekali hentakan. Hanya saja sayangnya ketika pintu kamar berhasil di buka, yang terlihat di sana hanyalah tiga anak muda yang sedang dalam posisi rebahan dan berbagi cerita.

__ADS_1


Semua orang yang sedari tadi mengira ada sesuatu yang berbahaya lantas hanya berdiri dengan terbengong menatap ke arah kamar, sedangkan Mikaila, Allen dan juga Ebra juga ikut saling pandang satu sama lain akan tingkah dari Hadi dan yang lainnya seakan akan terkesan tengah melakukan penggerebekan di kamar Ebra.


Ebra yang melihat tingkah aneh dari Hadi dan yang lainnya, lantas bangkit dari tempatnya kemudian melangkah kakinya mendekat ke arah Hadi yang masih menatapnya dengan tatapan yang bingung.


"Apa ada sesuatu pak?" tanya Ebra berpura pura tidak tahu, padahal Ebra jelas jelas tahu akan apa yang tengah terjadi saat ini.


"Em... sepertinya CCTV di sini mati, aku meminta mereka untuk membantu mengeceknya namun ternyata kalian tengah beristirahat, sepertinya nanti saja... kalian boleh melanjutkan istirahat kalian." ucap Hadi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa bapak yakin?" tanya Ebra sekali lagi memastikan.


Mendengar pertanyaan dari Ebra barusan, membuat Hadi langsung dengan sontan mengangguk kemudian memerintahkan yang lainnya untuk keluar dan kembali ke tempat mereka masing masing, setelah itu baru melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kamar Ebra masih dengan raut wajah yang kebingungan, sedangkan Ebra yang melihat tingkah laku dari Hadi hanya tersenyum dengan cengengesan tanpa bisa ia tahan lagi.


"Apa kamu tidak ingin menjelaskan segalanya terlebih dahulu?" ucap Mikaila dengan nada yang menyindir.


Sedangkan Ebra yang mendengarkan pertanyaan tersebut hanya menatap ke arah Allen dan Mikaila secara bergantian dan mulai menjelaskannya secara perlahan. Apa yang terjadi barusan memang ulah dari Ebra, Ebra hanya ingin mengetes seberapa tanggap keamanan di Resort ini ketika sebuah masalah mulai muncul dan Ebra mengetesnya lewat kamera pengawas yang ia rusak sinyalnya dalam beberapa menit atau paling lama sekitar dua jaman. Jika di hitung ketika terjadi hilangnya koneksi hingga kedatangan para petugas keamanan, mereka membutuhkan waktu sekitar 30 sampai 40 menit untuk datang ke tempat di mana terjadinya kejanggalan.


Mikaila dan juga Allen yang mendengarkan ucapan Ebra barusan, hanya saling pandang satu sama lain kemudian menatap ke arah Ebra dengan tatapan yang tidak mengerti.


"Apa kamu ingin kabur dari sini?" ucap Allen kemudian yang lantas membuat Mikaila dan juga Ebra langsung menoleh ke arah Allen dengan seketika.

__ADS_1


"Tentu tidaklah! aku hanya bermain main saja sekaligus ajang pengetesan jika sewaktu waktu terjadi hal buruk." ucap Ebra dengan santainya membuat Mikaila lantas melongo dengan seketika.


"Sialan kau!" pekik Mikaila sambil melempar bantal ke arah Ebra karena kesal begitu juga Allen yang ikut melempar bantal ke arah Ebra.


***


Malam harinya


Suasana Resort malam itu begitu hening dan hanya terdengar beberapa suara hewan malam yang terus terdengar bersahutan malam itu. Mikaila yang memang sedang dalam kondisi yang mengantuk berat, lantas di kejutkan dengan gerakan yang tiba tiba yang terasa pada ranjangnya.


Mikaila yang malas karena rasa kantuk yang ia rasa begitu berat, lantas hanya mengernyit selama beberapa detik kemudian membuka kelopak matanya secara perlahan ketika gerakan di ranjangnya tak kunjung berhenti juga. Dengan gerakan yang malas Mikaila mulai membuka matanya dan menatap ke arah depan. Dalam keadaan yang sadar dan tidak sadar, Mikaila seperti melihat sosok yang tak asing di ingatannya namun yang berbeda adalah pakaian dan juga penampilan sosok itu yang terlihat begitu kumuh dan kotor.


Sosok itu tampak menangis dan terus menangis sambil sesekali melirik ke arah Mikaila namun detik berikutnya memunggungi Mikaila, membuat Mikaila yang masih merasa pandangannya kabur hanya bisa menatap punggung sosok tersebut dengan tatapan yang bertanya tanya.


Mengapa kamu meninggalkan ku Kai....


Mendengar ucapan sosok tersebut membuat Mikaila tentu saja menjadi kebingungan, namun detik berikutnya sesuatu yang tidak di duga duga lantas terjadi kepada Mikaila, di mana sosok tersebut tiba tiba saja melesat dan naik ke tubuhnya secara mendadak membuat mata Mikaila langsung melotot seketika.


"Rini" pekik Mikaila dengan keras.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2