No Exit

No Exit
Menyusun rencana


__ADS_3

"Tunggu!" teriak sebuah suara yang lantas membuat langkah kaki Mikaila dan juga Allen terhenti seketika di tempat.


Mikaila dan juga Allen yang mendengar suara panggilan tersebut lantas langsung menelan salivanya dengan kasar sambil saling menatap satu sama lain. Pikiran mereka bahkan sudah kemana-mana dan menganggap bahwa mereka berdua telah ketahuan. Dengan mengambil nafas yang perlahan Allen mulai berbalik badan mencoba untuk mengecek ke arah sumber suara, sedangkan Mikaila tetap dalam posisinya yang tidak ingin berbalik sama sekali karena takut tertangkap basah.


"Iya Pak ada yang bisa dibantu?" tanya Allen sambil mencoba untuk tersenyum ketika melihat Fahri melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya.


"Bukankah ini milik mu? tadi jatuh dari tas teman mu." ucap Fahri sambil memberikan sebuah pulpen kepada Allen.


Mendengar ucapan Fahri barusan membuat Mikaila dengan spontan menoleh ke arah belakang untuk melihat benda yang dimaksud oleh Fahri barusan.


"Oh iya ini milik saya Pak, terima kasih." ucap Mikaila kemudian dengan nada suara yang di buat-buat.


Mendengar hal tersebut Fahri tersenyum kemudian kembali melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan keduanya. Sambil merangkul bahu Mikaila, Allen mulai mengajak Mikaila untuk kembali melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah kamar Ebra, hanya saja rangkulan tersebut membuat Mikaila sedikit merasa memerah ketika Allen melakukan hal itu kepadanya.


"Aku bisa jalan sendiri Al, berhentilah melakukan hal ini!" ucap Mikaila kemudian sambil melepas rangkulan tangan Allen pada bahunya.


Setelah melakukan hal tersebut Mikaila mempercepat langkah kakinya ke depan meninggalkan Allen karena wajahnya sekarang tengah memerah bak kepiting rebus, sedangkan Allen yang melihat tingkah Mikaila seperti itu, membuatnya sedikit bingung apalagi langkah kaki Mikaila yang kian cepat, membuat Allen lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika melihat kepergian Mikaila dari sana.


"Tunggu aku Kai!" ucap Allen sambil mempercepat langkah kakinya menyusul kepergian Mikaila yang lebih dulu meninggalkannya tadi.


**


Ruang kamar asrama Ebra

__ADS_1


Ebra yang terlihat perlahan-lahan mulai membuka pintunya, lantas langsung menarik tangan Mikaila dan juga Allen ketika melihat keduanya saat ini tengah berdiri di depan kamarnya. Ditutupnya pintu kamarnya dengan cepat lalu menguncinya dengan rapat agar tidak ada orang yang masuk atau mengganggu ketiganya.


Mikaila yang baru saja dibawa masuk ke dalam lantas langsung melihat-lihat kamar Ebra dengan seksama. Sebuah dekorasi hitam putih terlihat jelas di kamar itu, sedangkan di meja belajarnya terdapat beberapa benda yang terlihat asing bagi Mikaila. Yah... Hampir sama dengan gaya khas cowok-cowok pada umumnya, tidak ada yang berbeda sama sekali dengan kebanyakan, selain beberapa barang yang terlihat tersusun rapi pada meja belajar.


Mikaila mendudukkan bokongnya pada ranjang milik Ebra dan meletakkan tas punggungnya di sana, sedangkan Allen dan juga Ebra nampak serius mengeluarkan isi tas yang di berikan Ebra lewat pak Ardi kepada keduanya.


"Sempurna, semua yang kita butuhkan ada di sini. Arhan benar-benar teman yang pengertian." ucap Ebra dengan raut wajah yang bahagia karena semua barang yang ia butuhkan berada di dalam tas yang selempang yang dibawa oleh Allen dan juga Mikaila.


"Btw apa yang mau kau buat dengan alat-alat itu?" tanya Mikaila sambil bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Allen dan juga Ebra berada.


"Aku akan membuat sebuah alat komunikasi yang cara kerjanya hampir mirip seperti ponsel atau mungkin walkie talkie, kali ya? Yang jelas untuk memudahkan kita berkomunikasi tanpa harus diketahui oleh pihak sekolah, kau tahu sendiri kan di sini todak boleh menggunakan ponsel?" ucap Ebra menjelaskan sambil mulai merakit benda yang ia bicarakan.


"Kau bisa membuat benda yang seperti itu? Gila keren banget!" ucap Mikaila dengan manik mata yang berbinar.


"Sudah jangan terlalu berlebihan, ini memang pekerjaannya. Sebaiknya kita biarkan dia bekerja sedangkan kita fokus memikirkan yang lain!" ucap Allen dengan nada yang datar sambil menundukkan pantatnya ke ranjang milik Ebra.


"Santai aja Al, Mikaila sama sekali tidak mengganggu kok. Oh ya Kai, btw rambut mu lucu tapi kamu cocok sekali kalau memakai wig tersebut." ucap Ebra dengan tersenyum cerah.


Membuat Allen yang mendengar hal itu langsung melempar bantal ke arah Ebra seakan mengisyaratkan untuk berhenti membual dan segera melakukan pekerjaannya. Ebra yang kesal akan lemparan tersebut lantas langsung kembali melempar bantal tersebut kepada Allen yang kini terlihat tengah merebahkan dirinya pada ranjang Ebra.


"Kau juga bekerjalah, jangan hanya tidur saja!" ucap Ebra dengan nada yang kesal kemudian memutar kursinya dan memulai merakit komponen.


Sedangkan Mikaila yang berada di tengah-tengah keduanya hanya bisa menghela nafasnya panjang kemudian mengambil duduk pada kursi kecil di kamar Ebra.

__ADS_1


"Benar-benar tingkah mereka berdua seperti anak kecil saja!" ucap Mikaila dalam hati sambil menatap ke arah Allen dan juga Ebra secara bergantian.


**


Sementara itu malam harinya di kamar kosan teman Arhan, terlihat Arhan tengah mengobrak-abrik lemari pakaian temannya mencoba untuk mencari keberadaan celana yang ia pakai ketika event kala itu. Satu persatu baju temannya ia acak-acak untuk mencari celana tersebut, namun sayangnya walau Arhan sudah mengobrak-abrik segalanya tetap saja celana tersebut sama sekali tidak terlihat oleh Arhan, membuat Arhan langsung merasa lemas dan juga frustasi karena tak kunjung menemukan keberadaan celana tersebut.


Arhan mengusap rambutnya dengan kasar mencoba untuk menghentikan aktifitasnya sejenak dan berpikir, di mana terakhir kalinya Arhan melihat celana tersebut. Hingga setelah beberapa menit mencoba untuk berpikir dengan kepala dingin, sebuah pemikiran mendadak terlintas di kepalanya. Membuat Arhan lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah ponsel miliknya yang ia taruh di atas meja kemudian mendial nomor temannya di sana.


"Halo" ucap sebuah suara diseberang sana.


"Em Rian aku minta maaf kalau mengganggu tidur mu malam ini, hanya saja apa kamu pernah melihat celana panjang yang aku gunakan ketika pertama kali bertemu dengan mu?" tanya Arhan dengan perasaan yang khawatir takut Rian tidak melihatnya.


Hening sesaat diseberang sana seakan Rian tengah mengingat-ingat kembali apakah ia pernah melihatnya atau tidak. Hingga tidak beberapa lama suara Rian kembali terdengar di telinga Arhan.


"Ah celana itu, aku membawanya ke laundry langganan ku waktu itu. Hanya saja aku lupa belum mau mengambilnya, apa kau mau ku berikan alamatnya?" tanya Rian kemudian.


"Kirimkan alamatnya kepadaku sekarang Rian!" ucap Arhan kemudian.


"Tapi Ar..." ucap Rian hendak kembali berbicara namun Arhan keburu memutus panggilan telponnya.


Tut tut tut


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2