
Sementara itu Arhan yang baru sampai di sebuah kos-kosan milik kenalannya lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah ruangan dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Arhan benar-benar tidak berani pulang ke rumah dengan keadaan yang seperti ini atau ayahnya akan habis-habisan memukulinya sampai pagi.
Dengan langkah kaki yang di seret Arhan mulai merebahkan tubuhnya di kasur dengan pandangan yang menatap kosong ke arah langit-langit kamar kosan tersebut. Semua hal yang terjadi kepadanya begitu cepat dan juga bertubi-tubi, membuat Arhan semakin merasa bahwa hidupnya tidak pernah mendapat kebahagian sama sekali.
Lahir dari seorang wanita selingkuhan seorang pengusaha kaya tak menjadikan hidupnya terjamin seperti pewaris yang lainnya. Hidupnya bagaikan di neraka, tidak ada kata keluarga lagi dalam hidupnya, yang dipikirkan oleh ayahnya hanya sebuah pendidikan dan kesuksesan, sedangkan ibunya hanya perduli tentang harta dan tahta. Membuat Arhan merasa seperti dijadikan sebuah alat yang dikendalikan sang ibu untuk mengeruk harta ayahnya sendiri.
Helaan nafas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Arhan saat ini. Dalam lamunannya Arhan memikirkan tentang bagaimana cara ia dapat membebaskan teman-temannya di sana.
"Jika aku pulang dan meminta tolong kepada papa, apakah papa akan membantuku?" ucap Arhan dengan nada yang gelisah.
Arhan kembali menatap ke arah langit-langit kamar kosannya. Hingga sebuah ingatan tentang Ardi yang baru saja menolongnya lantas kembali terlintas di benaknya. Sebuah fakta mengejutkan yang di dapatkan oleh Arhan bahwa ternyata Ardi merupakan salah satu anggota yang mentang keras segala hal tentang Sekolahan tersebut. Beberapa alumni Enigmatis high school yang berhasil lolos dari maut sekaligus lulus dari Sekolahan tersebut, memilih melamar pekerjaan kesana dan menyusun rencana untuk mengakhiri kegilaan itu.
"Berarti masih banyak lagi orang-orang seperti pak Ardi di Sekolah, namun sayangnya mereka terlalu berbaur sehingga kami sulit membedakan mana diantara mereka yang mendukung kami atau tidak. Aku rasa ini adalah tugas Allen, Mikaila dan juga Ebra untuk mencari tahu dan menyelesaikan segalanya." ucap Arhan pada diri sendiri sebelum pada akhirnya memejamkan kelopak matanya dan berlayar ke pulau impian.
***
Di gudang sekolah
"Lalu apa yang terjadi dengan chip tersebut? Dimana kamu menyembunyikannya?" ucap Mikaila kemudian bertanya membuat Allen dan juga Ebra langsung saling pandang satu sama lainnya.
"Jadi sewaktu kalian sibuk untuk mengecoh perhatian dari supir bus itu, aku menyelipkan chip tersebut pada saku celana Arhan." ucap Allen kemudian.
Baik Ebra maupun Mikaila lantas terlihat manggut-manggut ketika mendengar ucapan dari Allen barusan. Kini Mikaila mengerti mengapa Allen waktu itu kekeh mengatakan tidak mengetahui apapun tentang chip tersebut dan ternyata inilah alasannya.
__ADS_1
"Kamu sudah memberitahu Arhan untuk menyimpan chip itu dengan baik bukan?" ucap Ebra kemudian yang lantas membuat Mikaila langsung menatap ke arah Allen karena ia juga penasaran akan jawaban dari pertanyaan Ebra barusan.
Sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan senyum seperti orang gila Allen kemudian perlahan mulai menggeleng, membuat Mikaila dan juga Ebra langsung melongo seketika.
"Bagaimana bisa kamu melupakan hal itu? Bagaimana kalau chip itu hilang!" pekik Ebra sambil bangkit berdiri.
"Aku terburu-buru waktu itu dan..." ucap Allen namun terhenti seketika karena sebuah sorot dari cahaya senter yang mengarah ke arah gudang, membuat perkataan Allen langsung terhenti seketika.
Dengan gerakan yang spontan Allen lantas menarik tangan Ebra dan juga Mikaila agar mengambil posisi berjongkok dan bersembunyi di balik meja yang sudah tidak terpakai di sana. Allen memberikan isyarat kepada Ebra dan juga Mikaila agar diam sambil sesekali melirik ke arah luar di mana terlihat pak Rahmat tengah berkeliling tepat di area depan gudang.
"Mengapa kau itu berisik sekali sih?" ucap Allen dengan nada yang berbisik, membuat Ebra langsung mendongak ke arahnya.
"Kau yang menyebalkan Al, bagaimana bisa kau melupakan sesuatu yang penting seperti itu!" ucap Ebra dengan nada yang berbisik namun penuh penekanan.
"Sudah hentikan, kalian berdua sebaiknya diam dan jangan berisik!" ucap Mikaila ikut memperingatkan keduanya agar tidak berisik atau Rahmat akan menemukan mereka.
Mikaila dan juga Allen yang melihat Ebra kembali membuat kekacauan lantas langsung menghadiahinya dengan tatapan yang tajam. Hingga ketika sorot senter yang berasal dari senter milik pak Rahmat terlihat kembali mengarah ke mereka bertiga, ketiganya langsung terdiam seketika dan terus membawa tubuh mereka semakin masuk ke dalam tempat persembunyian mereka.
Cklek....
"Siapa di sana?" ucap Rahmat sambil mengarahkan senternya menyusuri area gudang untuk melihat suara barusan.
Mendengar langkah kaki yang kian masuk ke dalam gudang, membuat jantung ketiganya mendadak berdebar dengan kencang di tengah kesunyian yang melanda area gudang tersebut. Hingga ketika langkah kaki Rahmat semakin terdengar mendekat dan berhenti tepat di sebelah Mikaila, sebuah suara deringan ponsel lantas terdengar menggema di ruangan tersebut dan dengan spontan menghentikan langkah kaki Rahmat begitu ia mengetahui bahwa suara deringan ponsel tersebut berasal dari ponsel miliknya.
__ADS_1
"Halo" ucap Rahmat setelah mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Datanglah ke ruangan ku sekarang! ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu." ucap sebuah suara di seberang sana.
"Baik Bu saya akan ke sana sebentar lagi." jawab Rahmat setelah itu panggilan terdengar di tutup secara sepihak oleh si penelpon.
Setelah mendapat telpon tersebut Rahmat terlihat menatap ke arah sekeliling sebentar kemudian beranjak pergi dari sana menuju ke tempat seseorang yang baru saja menelponnya.
Allen, Mikaila dan juga Ebra lantas terlihat melangkahkan kakinya keluar dari tempat persembunyiannya begitu mengetahui Rahmat sudah pergi baru saja. Sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling Mikaila pada akhirnya bisa bernafas dengan lega.
"Sebaiknya kita kembali ke asrama, aku rasa pembahasan kali ini sudah cukup sampai di sini." ucap Allen yang di balas keduanya dengan anggukan kepala.
***
Di area koridor kelas
Terlihat Mikaila tengah tersenyum dengan bahagia setelah mendengar kata-kata manis dari mulut Allen. Mikaila bahkan tidak menyangka bahwa Allen akan mengatakan hal semanis itu dan membuatnya terbang ke langit ketujuh.
Tak tak tak
Suara langkah kaki yang mendadak terdengar lantas langsung membuat senyuman di wajah Mikaila perlahan-lahan mulai pudar dan berganti dengan raut wajah penuh kegelisahan. Mikaila yang mulai mencium ada yang tidak beres terlihat mulai mempercepat langkah kakinya berharap ia segera sampai di asrama putri, namun sayangnya semakin Mikaila mempercepat langkah kakinya suara langkah kaki yang ia dengar ikut mempercepat gerakannya juga seakan mengikuti setiap langkah kaki yang di ambil oleh Mikaila.
Hingga kemudian...
__ADS_1
"Aaaa"
Bersambung