No Exit

No Exit
Sifat yang selalu terburu buru


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" ucap Allen dengan raut wajah kebingungan menatap ke arah lawannya yang kini sudah tidak lagi bernafas itu.


Tidak hanya Allen yang terkejut akan jatuhnya salah satu perseta yang baru saja bergabung dalam kelompoknya tapi Mikaila, Linda, Rama, Fatur, dan juga Ebra sama sama terkejut akan pemandangan yang baru saja terjadi di hadapannya itu.


Sebuah langkah kaki yang terdengar ketika langkah kaki itu menginjak rerumputan, lantas membuat mereka berenam dengan spontan menoleh ke arah sumber suara. Dari arah tidak jauh dari posisi mereka, Arhan dan juga Emeli nampak melangkahkan kaki mereka dengan santainya mendekat ke arah yang lain. Sedangkan Allen yang melihat sebuah senjata sumpit di tangah Arhan, langsung paham seketika apa yang terjadi tanpa harus kembali di jelaskan.


"Apa yang kalian lakukan? bukankah perbuatan kalian sama saja dengan mereka? harusnya kau lebih pelan dan bisa mengontrol emosi mu!" ucap Allen sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arhan.


Emeli yang melihat langkah kaki Allen yang kian mendekat lantas berusaha untuk menengahi keduanya atau jika tidak, akan terjadi pertengkaran yang tidak kunjung usai antara Allen dan juga Arhan jika salah satu dari mereka tidak ada yang mengalah.


"Kamu salah paham Al... dengarkan kami dulu, kami bisa menjelaskannya." ucap Emeli sambil menghentikan langkah kaki Allen agar tidak mendekat ke arah Arhan yang terlihat hanya membuang mukanya saja seakan enggan untuk berbicara.


Allen yang mendengar ucapan Emeli barusan, lantas langsung menghentikan langkah kakinya. Di usapnya raut wajah Allen dengan kasar kemudian baru menatap ke arah Emeli menunggunya menjelaskan maksud dari perbuatan Arhan pada peserta tersebut.


"Kami juga tidak berniat untuk membunuhnya, hanya saja ketika kami datang dan hendak melangkahkan kaki kami mendekat ke arah kalian, dia mengeluarkan pisau dan hendak membunuh mu! jika kamu tidak percaya kamu bisa mengeceknya sekarang. Arhan tidaklah segegabah itu Al..." ucap Emeli menjelaskan, membuat Allen dengan spontan langsung menatap ke arah peserta tersebut.


Mikaila yang tahu maksud arah pandang yang lainnya, lantas memberanikan diri mendekat ke arah jasad tersebut dan mencari sesuatu yang di maksud oleh Emeli barusan, ada sedikit perasaan terkejut dalam diri Mikaila ketika ia melihat di tangan peserta itu benar benar ada sebuah pisau lipat, membuat Mikaila langsung dengan spontan mengangkat secara perlahan pisau tersebut dan menunjukkan kepada yang lainnya, bahwa yang di ucapkan Emeli adalah kebenarannya.

__ADS_1


Allen yang melihat di tangan Mikaila ada sebuah pisau lipat kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arhan, Arhan kini bahkan masih membuang mukanya dan memunggungi yang lainnya. Dengan langkah kaki yang perlahan Allen mulai mendekatkan dirinya ke arah Arhan kemudian menghela nafasnya panjang.


"Aku minta maaf, lain kali berikan kami penjelasan terlebih dahulu sebelum bertindak agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini." ucap Allen dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Arhan.


"Jika aku menjelaskannya terlebih dahulu mungkin kau yang akan menjadi mayat bukan dia, sudahlah lagi pula sedari dulu kau tidak pernah percaya pada ku bukan?" ucap Arhan sambil melangkahkan kakinya menjauh dari Allen.


Allen yang mendengar ucapan Arhan barusan hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang, Allen tidak marah sama sekali dengan ucapan Arhan barusan karena memang apa yang di katakan Arhan adalah sebuah kebenaran, sifat Arhan yang terlalu terburu buru dan selalu mengandalkan otot ketimbang otak, membuat Allen sedikit tidak suka karena sikap buruk Arhan tersebut bisa menimbulkan sebuah penyesalan dan masalah baru yang mungkin akan mereka hadapi di kemudian hari.


Sedangkan Ebra yang melihat situasi mulai tidak kondusif, lantas mencoba untuk menenangkan yang lainnya agar apa yang terjadi saat ini tidak memicu perpecahan kelompok.


"Tapi menghilangkan nyawa seseorang bukanlah sebuah masalah kecil, jika kita tertangkap kita nanti akan..." ucap Mikaila yang hendak menyanggah ucapan Ebra namun keburu di bekap oleh Linda agar menghentikan ucapannya sebelum keadaan kembali memanas.


"Sebaiknya kita langsung bergerak saja, bukankah tim kita sekarang sudah lengkap?" ucap Linda kemudian seakan sengaja bermaksud menimpa perkataan Mikaila barusan.


Di saat mereka tengah sibuk membicarakan langkah yang seharusnya mereka ambil, sebuah mini drone terlihat mendekat ke arah mereka dan tampak berputar selama beberapa kali, tepat setelah itu bunyi alarm panjang sebanyak satu kali mendadak berbunyi dan mengejutkan mereka. Di susul dengan suara yang berasal dari drone yang melayang itu tepat setelah bunyi alarm panjang terdengar.


Semua peserta yang tersisa di harapkan untuk berkumpul di area sungai sebelum pukul 11.00 siang, jika kalian tidak tiba pada waktu yang di tentukan maka kalian akan di anggap gugur dalam permainan!

__ADS_1


Ucap sebuah suara yang langsung membuat suasana di hutan tersebut langsung mendadak hening tepat ketika suara tersebut berbunyi. Allen yang mendengar instruksi tersebut dengan spontan melihat ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Jika mengikuti pada waktu yang terlihat di arloji miliknya, waktu saat ini menunjukkan pukul 9 pagi dan itu berarti waktu yang tersisa hanya tinggal dua jam lagi untuk mereka bisa sampai tepat waktu di area yang di tentukan.


Allen yang tidak ingin membuang waktu, lantas meminta Ebra untuk mendekat. Membuat Ebra langsung dengan spontan melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Allen berada saat ini.


"Apa kau sudah memindai area hutan ini?" tanya Allen yang lantas membuat Mikaila langsung mengerutkan keningnya dengan bingung.


Sedangkan Ebra yang mendengar pertanyaan tersebut, langsung tersenyum dengan sumringah seakan mengatakan bahwa ia telah selesai melakukannya. Pertanyaan Allen barusan bukanlah tanpa alasan, Ebra yang memiliki kemampuan lebih tentang IT dan beberapa program buatan, membuat Allen mempercayakan tentang segala hal yang berhubungan dengan teknologi kepada Ebra.


Ebra kemudian lantas menatap ke arah sekeliling dan mencoba untuk mengamankan lokasi di sekitarnya, agar apa yang ia lakukan tidak memancing pihak panitia untuk menandai mereka. Setelah di rasa aman, barulah Ebra meminta untuk yang lainnya mendekat dan sedikit mempererat posisi mereka.


Ebra menekan layar arloji digital pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, tepat setelah itu muncul sebuah layar seperti hologram yang berukuran 30 centi meter dengan gambar sketsa lengkap area perhutanan, yang mereka yakin itu adalah area hutan ini yang telah berhasil Ebra pindai pada arloji digital miliknya.


"Aku sudah memindai secara keseluruhan area perhutanan ini, ada tiga sumber mata air di hutan ini yang terdiri dari...." ucap Ebra terpotong karena suara ranting kayu yang di injak dengan tiba tiba di keheningan, membuat diskusi mereka langsung terhenti seketika.


Krek...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2