No Exit

No Exit
Smartwatch dengan fitur tambahan


__ADS_3

Setelah menelpon Rian barusan dan menanyakan tentang celananya. Dengan langkah kaki yang terburu-buru Arhan mulai melangkahkan kakinya menyusuri area trotoar menuju ke tempat laundry langganan Rian. Pikiran Arhan sudah benar-benar melayang memikirkan yang tidak-tidak tentang celana tersebut. Sebuah ingatan ketika Allen membantunya masuk ke dalam bagasi Bus saat itu, membuat Arhan begitu frustasi sekaligus merasa menyesal jika memang Allen memang menitipkan sesuatu di saku celananya.


Dengan nafas yang ngos-ngosan Arhan menghentikan langkah kakinya di depan sebuah ruko laundry yang saat ini terlihat sudah tutup karena memang jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Arhan menatap ke arah ruko yang sudah tertutup itu dengan raut wajah yang sendu. Dengan perasaan yang frustasi Arhan mengambil duduk di depan ruko tersebut. Diusapnya rambutnya dengan kasar ke arah belakang kemudian kembali menoleh ke arah ruko tersebut sekilas.


Arhan benar-benar merutuki kebodohannya yang tidak mengecek terlebih dahulu seluruh saku celananya kemarin. Bayangan bagaimana teman-temannya yang memasang raut wajah bahagia perlahan-lahan mulai berubah menjadi raut wajah yang penuh kebencian menatap ke arah Arhan. Membuat Arhan langsung mengusap wajahnya dengan kasar mencoba untuk membuang jauh-jauh pikiran tersebut dari kepalanya.


"Ah benar-benar bodoh kau Ar!" teriak Arhan dengan nada yang frustasi menatap ke arah jalanan malam itu sambil terus merutuki kebodohannya.


***


Kamar Asrama Ebra


Tepat pada pukul tengah malam, Ebra yang baru saja menyelesaikan rakitannya lantas langsung bangkit dari posisinya sambil tersenyum dengan lebarnya. Mikaila yang memang dalam keadaan setengah tertidur saat itu, mendengar teriakan bahagia Ebra lantas membuatnya terkejut akan hal tersebut. Sambil mengelus dadanya yang terasa deg-degan Mikaila mulai bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Ebra berada begitu juga Allen, yang terlihat ikut bangkit untuk melihat hasil rakitan Ebra selama seharian penuh.


"Apa kamu sudah berhasil membuatnya?" tanya Mikaila dengan sesekali menguap karena mengantuk.


Mendengar pertanyaan tersebut Ebra lantas berbalik badan dan menatap ke arah Allen dan juga Mikaila dengan raut wajah yang berbinar. Sambil mengangkat dua arloji dengan model yang hampir mirip dengan yang ia pakai, Ebra mulai memberikan keduanya satu-persatu arloji tersebut. Mikaila dan juga Allen yang sama sekali tidak mengetahui alasan Ebra memberikan keduanya masing-masing satu, lantas hanya melihat arloji tersebut dengan seksama. Hingga kemudian terdengar suara Ebra yang mulai menjelaskan fungsi dari arloji tersebut beserta kelemahan dan juga manfaatnya.

__ADS_1


Jika dilihat secara sekilas, arloji rakitan Ebra hampir sama seperti smartwatch pada umumnya. Hanya saja Ebra menambahkan beberapa komponen lagi yang membuatnya terlihat lebih hebat dan juga lebih canggih dari smartwatch pada umumnya. Selain bisa digunakan untuk berkomunikasi, arloji tersebut juga dapat digunakan untuk mendeteksi posisi masing-masing, tidak hanya sampai di situ saja smartwatch ini bisa digunakan untuk melihat keadaan masing-masing karena memang sifatnya yang paralel, membuat ketiga arloji tersebut bisa terhubung satu sama lainnya.


Mikaila yang mendengarkan penjelasan Ebra sedari tadi hanya manggut-manggut mencoba untuk mencerna perkataan Ebra satu-persatu. Dan setelah Mikaila pikir-pikir lagi semua keuntungan dan fungsi yang dijelaskan oleh Ebra barusan hampir mirip dengan smartwatch nya di rumah yang merupakan sebuah hadiah dari mamanya tahun lalu.


"Bukankah semua smartwatch memiliki fungsi tersebut, lalu apa gunanya kau membuang-buang waktu mu untuk ini jika kamu masih mampu membelinya?" ucap Mikaila yang lantas membuat Ebra langsung menatap ke arahnya.


Mendengar perkataan Mikaila barusan membuat Ebra merasa tersindir. Sambil menghela nafasnya dengan panjang Ebra mulai mendekatkan arloji tersebut ke arah mulutnya.


"Mini pindai area sekitaran sekarang!" ucap Ebra kemudian yang langsung membuat Allen dan juga Mikola menatap dengan tatapan yang bingung akan maksud dari panggilan tersebut.


"Baik tuan, dalam jarak 500 meter seorang pria dengan pakaian satpam terlihat tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah kamar ini, saya sarankan agar anda secepatnya pura-pura tidur untuk mengecoh pak Fahri dan juga Rahmat agar tidak mencurigai tuan dan teman-teman tuan."


"Bukankah keren? Aku tahu kalian pasti ingin memuji ku bukan? Tak perlu sungkan aku siap mendengarkannya." ucap Ebra dengan senyum yang mengembang.


Allen yang mendengar ucapan bangga Ebra pada dirinya sendiri, lantas langsung dengan spontan menoyor kepala Ebra agar menyadarkannya dari kenyataan yang ada dan tidak terus menghayal.


"Itu tidaklah penting, yang terpenting sekarang di mana kita berdua harus menyembunyikan Mikaila sekarang oon!" ucap Aalen dengan nada yang gemas.

__ADS_1


"Ngapain Mikaila bersembunyi? lagi pula ia kan sudah menyamar, tinggal pura-pura tidur maka semuanya beres." ucap Ebra dengan nada yang santai, namun berhasil membuat Mikaila dan Allen kesal karenanya.


"Apa kau lupa peraturan Asrama yang mengatakan jika satu ranjang hanya bisa ditiduri oleh dua orang. Di kamar ini hanya ada satu ranjang sedangkan kita tiga orang, cobalah untuk berpikir Ebra!" ucap Allen dengan nada yang menahan kesal karena Ebra tak kunjung mengerti juga.


Tak tak tak


"Saya akan periksa sebelah sini pak!" ucap sebuah suara dari luar kamar membuat Ebra, Mikaila dan juga Allen semakin bingung harus bagaimana.


Ketiganya nampak berhamburan memutari area kamar Ebra, mencoba mencari tempat untuk Mikaila bersembunyi. Baik Mikaila, Allen dan juga Ebra terlihat sibuk sendiri mencari tempat yang pas dan tentu saja muat untuk Mikaila masuki karena memang kamar Ebra yang tidak memiliki tempat luas untuk Mikaila bersembunyi.


Mikaila yang malah semakin bingung karena melihat Allen dan juga Ebra terus berputar-putar fan membuatnya risih. Pada akhirnya Mikaila langsung menarik baju Allen dan juga Ebra agar keduanya berhenti bergerak ke sana ke mari tanpa menemukan jalan keluar apapun selain hanya membuatnya bingung.


"Kalian berdua berhenti... Biar aku sendiri yang mencari tempat bersembunyi, dengan kalian berdua seperti ini sama sekali tidak membantu, jadi sebaiknya kalian berdua segera naik ke kasur dan bersiap untuk berakting biar aku sendiri yang mencari tempat untuk bersembunyi!" ucap Mikaila dengan nada yang penuh penekanan, membuat Allen dan juga Ebra langsung terdiam seketika.


Hingga sebuah suara handel pintu yang di putar dari luar lantas membuat ketiganya terkejut dan diam seketika.


Ceklek

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2