
"Sebuah mobil? Untuk apa?" ucap Ebra dengan raut wajah yang bingung.
Baik Ebra, Allen maupun Mikaila yang melihat sebuah mobil berhenti di sana lantas terlihat sedikit kebingungan. Ketiganya yang tak mengerti akan situasi yang tengah terjadi saat ini, lantas hanya bisa menatap dengan tatapan yang tidak mengerti sambil terus bersembunyi di balik semak belukar yang berada tidak jauh dari sana.
**
Sementara itu Zaki yang melihat mobil tersebut berhenti tak jauh dari posisinya berada, lantas terlihat langsung menurunkan tubuh Salsa di tanah kemudian menyenderkan tubuhnya pada badan mobil tersebut. Zaki nampak mengambil sesuatu dari saku celananya kemudian ia minumkan kepada Salsa, membuat ketiganya yang melihat segala hal yang tengah dilakukan oleh Zaki semakin dibuat kebingungan akan apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini.
"Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan?" ucap Ebra yang sudah tidak tahan lagi ketika melihat hal-hal yang semakin terasa aneh baginya.
"Diam dan jangan berisik, kau kira aku tidak penasaran sedari tadi? Aku pun sama..." ucap Mikaila dengan nada sedikit berbisik membuat Ebra langsung memutar bola matanya dengan jengah begitu mendengar perkataan Mikaila barusan.
"Kalian berdua diam lah!" ucap Allen kemudian yang kesal karena keduanya tidak ada yang mau mengalah sama sekali.
Sampai kemudian beberapa menit menunggu, ketika rasa penasaran dalam dirinya belum sepenuhnya terjawab ketiganya malah dikejutkan dengan Salsa yang tiba-tiba saja membuka matanya secara perlahan tepat setelah beberapa menit Zaki meminumkannya sesuatu. Hal tersebut tentu saja membuat Allen dan juga Mikaila menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat karena Mikaila jelas yakin bahwa Zaki tadi di perpustakaan benar-benar melakukan pembunuhan kepada Salsa, bagaimana mungkin Salsa malah kembali hidup seperti ini?
"Dia tidak mati!" pekik Ebra yang terkejut dengan pemandangan yang baru saja ia lihat barusan, membuat Allen dan juga Mikaila yang mendengar suara Ebra barusan langsung menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Allen yang mendengar teriakan Ebra barusan tentu saja langsung membekap mulut Ebra dengan erat karena terlalu berisik dan takut Zaki mendengar suara Ebra yang menukik tersebut. Ketiganya kemudian menundukkan kepala mereka dan membawanya bersembunyi semakin masuk ke dalam semak belukar, berharap dengan begitu Zaki tidak menyadari kehadiran ketiganya di sana. Karena suara Ebra yang terlalu melengking Allen yakin telah membuat Zaki curiga ada seseorang yang saat ini tengah mengawasinya sedari tadi.
"Kamu cepatlah pergi dan jangan lupakan pesan ku." ucap Zaki kemudian sambil menyuruh Salsa untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Baik pak, terima kasih banyak." ucap Salsa sebelum pada akhirnya masuk ke dalam mobil tersebut.
Sementara itu Zaki yang tahu ada seseorang yang mengintipnya sedari tadi, lantas menyuruh si pengemudi mobil untuk cepat pergi dari sana sebelum keadaan kian menjadi rumit. Ditatapnya salah satu semak belukar yang ia curigai ada seseorang tengah bersembunyi di sana. Sambil terus melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arah semak belukar tersebut Zaki mulai membawa langkah kakinya semakin dekat dan semakin dekat. Hingga kemudian ketika ia sudah berada tepat di depan semak belukar tersebut, Zaki langsung melompat sambil menerjang masuk ke dalam semak belukar tersebut seakan bersiap hendak menangkap seseorang tersebut.
"Apa yang..." ucap Zaki hendak memergoki seseorang di sana namun ketika Zaki berada tepat diantara semak belukar tersebut Zaki tidak melihat siapapun di sana, membuat Zaki langsung menatap dengan tatapan yang mengernyit ketika mengetahui tidak ada siapapun juga di sana.
"Ah sial! Kemana kalian ha? Ayo cepat keluar selagi aku memintanya dengan baik-baik." ucap Zaki dengan nada yang sedikit meninggi sambil terus mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran.
**
Diantara perasaan berdebar dan juga ketakutan Allen, Mikaila dan juga Ebra pada akhirnya berhasil kabur dari sana setelah mengambil langkah kaki seribu. Sejak ketiganya merasa bahwa Zaki sudah mengetahui keberadaan mereka, membuat Allen langsung mengajak Ebra dan juga Mikaila untuk mulai bergerak pergi dari sana sebelum Zaki mengetahui keberadaan mereka.
Sampai pada akhirnya Allen yang merasa sudah berlarian cukup jauh lantas menghentikan langkah kakinya sejenak, disusul Ebra dan juga Mikaila yang sedari tadi ikut berlarian di belakang Allen. Ketiganya nampak menarik napas dengan perlahan mencoba mengatur pernapasannya setelah berlarian dari luar sampai ke dalam sekolah tepatnya di lapangan basket.
__ADS_1
"Benar-benar gila!" ucap Ebra sambil mendudukkan bokongnya pada tanah karena sudah lelah sedari tadi terus berlarian.
"Ternyata ada banyak rahasia yang tidak kita ketahui selama ini." ucap Mikaila kemudian yang lantas dibalas anggukan kepala oleh Ebra.
"Kau benar, aku bahkan tadi memergoki seorang pengemudi yang ternyata ia adalah penyetok darah bagi Zaki. Tadinya aku sedikit kebingungan dan bertanya-tanya untuk apa Zaki sampai menyetok darah hingga berkantung-kantung. Namun setelah aku melihat alasannya malam ini aku jadi mengetahui sesuatu hal." ucap Allen sambil ikut mendudukkan dirinya di dekat Ebra.
"Kau benar, aku juga sempat mendengar bahwa Zaki menyuruh Salsa untuk meminum suatu obat yang aku sendiri tidak tahu obat apa itu, namun jika melihat semua kejadian yang terjadi sepertinya obat yang diberikan kepada Salsa seperti sebuah obat penghenti jantung sejenak, cara kerjanya seperti ia membuat kita seakan selayaknya orang yang telah meninggal selama batas waktu yang di tentukan." ucap Ebra mulai menerka-nerka dan menyambungnya menjadi satu kesatuan.
"Kau benar, jika Rahmat mengira Salsa mati pasti semua masalah akan beres sedangkan darah tersebut ia gunakan untuk membuat adegan pembunuhan senyata mungkin agar tidak ada orang yang curiga akan sesuatu hal." ucap Allen menambahkan pemikirannya.
"Setidaknya setelah menjelajah selama semalaman, kita jadi mengetahui sebuah fakta yang baru. Sebaiknya sekarang kita kembali ke asrama sebelum ada orang yang melihat kita di sini." ucap Mikaila kemudian yang lantas dibalas keduanya dengan anggukan kepala.
Setelah sepakat untuk kembali ke asrama masing-mading keduanya kemudian mulai melangkahkan kakinya berpencar dan menuju ke arah asrama. Tanpa keduanya sadari di sudut lapangan terlihat sosok hantu Rini nampak menatap ke arah ketiganya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, entah mengapa Rini merasa jika hanya Mikaila dan juga teman-temannya lah yang bisa mengembalikan segalanya. Sosok itu nampak tersenyum sambil menatap ke arah kepergian ketiganya hingga punggung Allen, Mikaila dan juga Ebra tidak lagi terlihat pada pandangannya.
Aku menantikan segalanya... hihihihi
Bersambung
__ADS_1