
Kelas
Dari arah pintu masuk terlihat Mikaila tengah berjalan dengan langkah kaki yang perlahan memasuki area ruang kelasnya. Dengan gerakan yang pelan Mikaila lantas mendudukkan bokongnya pada kursi yang telah lama tidak ia tempati karena harus mengikuti event tahunan gila itu. Kembali masuk ke dalam kelas ini, entah mengapa membuat Edrea merasa terharu sekaligus bersyukur karena bisa selamat dari ujian gila yang sama sekali tidak masuk di akal.
Sebuah suara riuh gemuruh beberapa teman-temannya lantas terdengar menggema di kelas tersebut begitu mereka menyadari bahwa Mikaila berhasil selamat dari event tersebut. Melihat Mikaila sudah mengambil duduk pada bangkunya, membuat yang lainnya mulai berkumpul dan mengerubungi Mikaila dengan raut wajah yang penasaran. Seakan hendak bertanya apa yang terjadi ketika event tersebut berlangsung.
Mikaila yang melihat teman-temannya mengerubungi dirinya hanya bisa tersenyum dengan garing sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu dari teman-temannya. Hingga kemudian sebuah tangan terlihat membelah kerumunan tersebut dengan ugal-ugalan, membuat yang lainnya lantas berteriak dengan kesal ketika melihat seseorang hendak maju ke depan dengan kasar.
"Jangan ganggu Mikaila... pergi semua pergi!" teriak pemilik tangan tersebut yang ternyata adalah Friska.
"Kenapa sih kau Fris sewot aja, lagipula kita-kita gak tanya kamu lah!" ucap salah satu teman sekelasnya dengan name tag Roki di dadanya.
"Oh ya? Jika memang seperti itu... kemana aja kalian waktu itu ketika pemilihan siapa yang akan ikut event tahunan itu? Ada gak kalian mengatakan agar Mikaila tidak ikut? Aku yakin kalian masih ingat bahwa hanya aku yang berjuang agar Mikaila tidak ikut waktu itu. Lalu sekarang kalian malah berebut dan juga penasaran akan cerita dari Mikaila? Bukankah kalian terlalu tidak punya malu?" ucap Friska dengan nada yang menggebu-gebu.
Teman-teman sekelasnya yang mendengar ucapan dari Friska barusan tentu saja langsung terdiam seketika. Perlahan satu persatu dari mereka mulai kembali ke kursi mereka masing-masing dengan raut wajah yang tidak enak. Mereka benar-benar merasa tertampar akan kata-kata dari Friska yang membuat mereka sadar sekaligus malu akan apa yang mereka lakukan kepada Mikaila.
Mikaila yang melihat Friska berhasil mengusir yang lainnya, lantas terlihat tersenyum dengan lebar sambil mengacungkan jempol ke arah Friska. Friska yang melihat hal tersebut tentu saja langsung bahagia kemudian berlarian mendekat ke arah Mikaila dan langsung memeluknya dengan gemas.
__ADS_1
"Aku benar-benar merindukan mu Kai..." ucap Friska sambil memeluk dengan erat tubuh Mikaila dan membawanya ke kanan kemudian ke kiri secara berulang kali.
"Aku juga merindukan mu." ucap Mikaila sambil menepuk pundak Friska dengan pelan.
Friska benar-benar bahagia karena Mikaila bisa selamat dan kembali bersekolah. Namun detik berikutnya raut wajah Friska yang semula terlihat bahagia mendadak berubah menjadi tegang ketika ia teringat akan sesuatu yang mungkin sedikit fatal.
"Jika kamu selamat, apakah itu artinya Allen telah tiada Kai? Be... benarkah begitu? Allen yang malang, aku bahkan tidak menyangka dia pergi secepat itu." ucap Friska merepet membuat Mikaila sama sekali tidak bisa menyela ucapannya.
Mikaila yang tadinya hendak menjelaskan, mendengar Friska yang nyerocos seperti itu membuatnya tersenyum dengan simpul. Hingga sebuah jitakan kepala mendadak mendarat pada kepala Friska yang semakin membuat Mikaila tertawa begitu melihat jitakan itu berasal dari Allen.
"Kalau ngomong itu cari tahu dulu kebenarannya, jangan asal nyerocos aja kayak gak ada remnya!" ucap Allen dengan nada yang dingin sambil mendudukkan bokongnya pada tempat duduknya.
"Kau juga selamat Al? Wah benar-benar hebat kalian, jarang sekali ada yang selamat dua orang sekaligus dalam satu kelas, tapi kalian benar-benar membuktikannya." ucap Friska dengan semangat yang menggebu-gebu.
Allen yang mendengar ucapan Friska barusan langsung terdiam, bayangan bagaimana kematian merenggut nyawa Linda, Emeli, Rama, dan juga Fatur masih terekam jelas di ingatannya, membuat Allen sedikit sensitif jika disinggung perihal event tersebut karena rasa bersalah yang masih memenuhi hatinya akan kematian teman-temannya itu.
Mikaila yang mengerti bahwa Allen tengah tidak baik-baik saja ketika Friska membahas kembali tentang event tersebut, lantas berusaha mengalihkan pembicaraan agar Friska tidak tertuju pada event tersebut dan kembali membuat Allen sedih akan hal tersebut.
__ADS_1
"Sudah kita sambung nanti lagi Fris bel sudah berbunyi, sebentar lagi pasti bu Manda datang." ucap Mikaila kemudian mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan Friska kali ini.
"Oh ya? tapi mengapa aku tidak mendengar bel tersebut?" ucap Friska bertanya-tanya akan ucapan Mikaila barusan.
"Sudah barusan, sebaiknya kamu kembali ke tempat mu sekarang, sebelum bu Manda datang sebentar lagi." ucap Mikaila lagi kembali meyakinkan Friska agar percaya kepadanya.
"Baiklah baiklah aku akan pergi, benar-benar menyebalkan kalian berdua." ucap Friska menggerutu sambil melangkahkan kakinya kembali ke kursinya dengan raut wajah yang ditekuk kesal.
Setelah kepergian Friska dari sana Mikaila yang merasa raut wajah Allen berubah lantas terlihat melirik sekilas ke arah Allen sambil menghela nafasnya dengan panjang. Mikaila benar-benar tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Allen saat ini, Mikaila sama sekali tak menampiknya bahwa kehilangan teman-temannya membuat luka tersendiri di dalam hati Mikaila walau ia baru bertemu dengan yang lainnya baru-baru ini.
"Apa kamu baik-baik saja Al?" tanya Mikaila dengan raut wajah yang penasaran.
Sedangkan Allen yang mendengarkan ucapan Mikaila barusan lantas langsung menoleh ke arah Mikaila kemudian tersenyum seakan mengatakan kepada Mikaila bahwa ia baik-baik saja saat ini.
Mikaila yang tidak ingin mengganggu Allen lagi lantas berganti menatap ke arah sebelah di mana di pintu masuk Mikaila melihat beberapa siswa yang masih berlalu lalang di luar kelas. Helaan nafas terdengar jelas pada mulut Mikaila hingga tidak beberapa lama sosok yang tak diinginkan lantas mendadak melintas di kelasnya sambil menatap dengan tajam ke arah Mikaila, membuat Mikaila dengan spontan membuang mukanya seperti enggan untuk menatap ke arah pintu karena takut sosok pria itu akan datang menghampirinya saat ini.
"Apa yang terjadi Kai?" tanya Allen kemudian sambil menatap aneh ke arah Mikaila.
__ADS_1
"Itu..."
Bersambung