No Exit

No Exit
Mikaila pergi


__ADS_3

Mikaila yang penasaran lantas mulai menatap dan terus menatap ke dalam mulut gua, hingga kemudian sebuah bayangan putih yang kian terlihat jelas nampak mulai mendekat ke arah Mikaila dan membuatnya terkejut.


"Rini! Mengapa kamu ada di sini? Bagaimana bisa?" ucap Mikaila dengan raut wajah kebingungan ketika mengetahui kehadiran Rini yang tiba-tiba dari mulut gua.


Rini yang mendapat pertanyaan dari Mikaila barusan bukannya menjawab malah terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mikaila, membuat Mikaila semakin menatap bingung ke arah Rini yang terlihat terus menatap ke arahnya.


"Dia masih hidup!" ucap Rini dengan ekspresi wajah yang datar, namun berhasil membuat Mikaila kaget ketika mendengarnya.


Sedangkan Mikaila yang mendengar perkataan aneh dari Rini tentu saja kebingungan, tidak hanya ucapan Rini saja yang membuat Edrea bingung melainkan kedatangan Rini yang secara tiba-tiba, membuat Mikaila semakin penasaran sekaligus menerka-nerka siapa sebenarnya Rini dan apa tujuannya hingga sampai kemari.


"Siapa yang masih hidup Rin? Jangan membuat ku bingung." tanya Mikaila yang tidak mengerti akan ucapan dari Rini barusan.


"Carilah dia di dalam gua ini, aku yakin kamu masih sempat menolongnya jika bergerak sekarang!" ucap Rini lagi yang membuat Mikaila semakin kebingungan akan maksud dari ucapannya.


"Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan Rin?" ucap Mikaila yang tak kunjung mengerti juga, namun Rini bukannya menjawab malah tersenyum ke arah Mikaila, membuat Mikaila semakin kebingungan di buatnya.


**


Sementara itu di Resort Edelweis


Ebra yang tanpa sengaja melihat Mikaila melangkahkan kakinya keluar dari area Resort, lantas terlihat berlarian menuju ke arah kamar Allen berniat untuk mengajaknya menyusul Mikaila. Ebra yang baru sampai di kamar Allen lantas langsung mengetuk pintunya selama berkali-kali agar Allen segera keluar dari dalam kamar.


Hingga tak berapa lama Allen yang kesal karena seseorang terus saja menggedor pintu kamarnya, langsung membuka pintu dengan kasar dan menatap tajam ke arah Ebra.

__ADS_1


"Mengapa kau senang sekali mengganggu ku?" ucap Allen dengan nada yang ketus.


Ebra yang melihat Allen marah sama sekali tidak menggubrisnya namun malah menarik tangan Allen agar mengikuti langkah kakinya pergi dari sana, Allen yang ditarik tanpa penjelasan tentu saja kebingungan dan berusaha melepaskan tarikan tangan Ebra.


"Apa-apaan sih?" ucap Allen yang tidak tahu-menahu akan tingkah Ebra saat ini.


"Mikaila pergi keluar dan tidak kunjung kembali, aku takut dia tersesat." ucap Ebra sambil terus melangkahkan kakinya.


"Jangan terlalu berlebihan, mungkin Mikaila sedang menenangkan dirinya saat ini." ucap Allen sambil menghentikan langkah kakinya yang otomatis membuat langkah kaki Ebra ikut berhenti juga.


Mendengar jawaban dari Allen barusan membuat Ebra bingung harus mengatakan apa lagi kepada Allen agar Allen bergerak menyusul Mikaila. Jujur saja, Ebra benar-benar tidak bisa jika berada ditengah-tengah perang batin yang terjadi diantara keduanya, setidaknya jika Allen pergi menyusul Mikaila sekarang, hubungan keduanya mungkin akan lebih baik dan kembali seperti semula.


"Mengapa kau tidak mengerti juga? Mikaila jalan masuk ke dalam hutan, apa kamu masih tetap berpikir ia hanya mencari udara segar semata?" ucap Ebra kemudian menambahkan bumbu-bumbu agar Allen mulai bergerak.


"Kau mau kemana?" tanya Ebra dengan raut wajah penasaran.


"Pergi mencari Mikaila lah! menurut mu kemana lagi?" teriak Allen sambil berlarian keluar dari Resort.


"Dasar kampret, tunggu aku..." teriak Ebra kemudian ikut berlari menyusul Allen yang baru saja keluar.


**


Baik Allen maupun Ebra lantas mulai menyusuri area terdekat dari Resort untuk mencari keberadaan Mikaila di sana. Keduanya nampak berteriak menyebut nama Mikaila beberapa kali sambil menatap ke arah sekitar. Allen yang tidak kunjung menemukan Mikaila di manapun lantas mulai terlihat khawatir akan keadaan Mikaila saat ini, mengingat wilayah hutan ini yang begitu luas membuat Allen takut Mikaila akan tersesat di dalamnya.

__ADS_1


Allen yang tidak kunjung menemukan Mikaila terlihat mulai mengusap rambutnya dengan kasar, sambil terus menatap ke arah sekeliling mencoba mencari sosok Mikaila di tengah-tengah rimbunnya semak belukar dan juga dedaunan.


"Apa kamu yakin tadi Mikaila pergi ke arah sini?" tanya Allen kemudian sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Mendengar pertanyaan dari Allen barusan Ebra terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu sambil mengingat-ingah arah kepergian Mikaila terakhir kali.


"Aku tidak terlalu yakin karena begitu melihat Mikaila keluar aku langsung berlarian dan menyusul mu, terakhir kali aku melihatnya ke arah sini namun selanjutnya aku tidak tahu lagi kemana?" ucap Ebra sambil mencoba mengingat-ingat kepergian Mikaila.


"Dasar kau itu ya! seharunya kau kejar dulu Mikaila baru menyusul ku, jika sudah begini kita mau mencari Mikaila di mana ha?" ucap Allen kemudian dengan nada yang kesal karena Ebra sama sekali tidak berpikir lebih dulu sebelum bertindak.


"Mana ku tahu kalau Mikaila jalannya cepat sekali, lagi pula kamu sih buka pintu kamar lama sekali! harusnya kamu membukanya lebih awal, jadi kita tidak sampai kehilangan jejaknya!" ucap Ebra tidak mau kalah karena Allen hanya menyalahkannya saja sedari tadi, padahal kehilangan jejak Mikaila juga ada campur tangan dari Allen yang tidak langsung bergerak meski Ebra sudah menariknya untuk segera keluar.


Allen yang mendengar ucapan Ebra hanya bisa memaki dengan kesal di dalam hati. Apa yang di katakan Ebra barusan adalah benar, sehingga membuat Allen tidak bisa lagi berkelit dan terus menyalakan Ebra atas hal ini.


Allen terdiam sejenak sambil terus menatap ke arah sekitar mencoba mencari tahu apakah ada petunjuk yang ditinggalkan oleh Mikaila. Hingga ketika sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya samar samar terdengar, membuat Allen langsung berusaha untuk mempertajam pendengarannya dan memastikan apakah suara yang ia dengar berasal dari Mikaila atau bukan.


"Dengarkan suara itu!" ucap Allen kemudian sambil memberikan isyarat kepada Ebra untuk diam sejenak.


Ebra yang tadinya sudah kesal karena ucapan Allen barusan, mendengar Allen mengisyaratkannya untuk membuka telinganya, dengan malas mulai menurutinya. Sambil memutar bola matanya dengan jengah Ebra berusaha untuk mendengarkan suara yang di maksud oleh Allen, hingga ketika Ebra yakin siapa pemilik suara tersebut, Ebra dan Allen langsung saling pandang satu sama lain seakan keduanya mempunyai pikiran yang sama akan pemilik dari suara yang mereka dengar barusan.


"Mikaila!" ucap Allen dan juga Ebra secara bersamaan ketika kembali mendengar suara tersebut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2