
Di area lapangan basket
Terlihat Mikaila dan juga Allen tengah melangkahkan kakinya secara perlahan melintasi area lapangan bola basket dengan suasana yang hening, tidak ada pembicaraan apapun yang keluar dari mulut keduanya. Hingga Mikaila yang sudah gatal sekali ingin mengeluarkan kata-kata, lantas terlihat beberapa kali melirik ke arah Allen dengan raut wajah yang penasaran.
Allen yang sadar Mikaila terus menatap ke arahnya, lantas tersenyum dengan tipis kemudian menatap ke arah Mikaila dengan senyum yang mengembang.
"Jika mau berbicara katakan saja, aku akan menjawab semua pertanyaan mu." ucap Allen pada akhirnya membuat Mikaila langsung menunduk karena malu sudah tertangkap basah.
"Aku hanya...."ucap Mikaila sedikit menggantung karena ia ragu akan pertanyaannya.
Allen yang tahu akan apa yang hendak ditanyakan oleh Mikaila, lantas menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah Mikaila dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Prediksi mu memang benar, akulah yang mengajak mereka semua untuk ikut bergabung dalam event ini, aku tidak menyangka bahwa semua ini akan terjadi. Jujur aku juga terkejut ketika melihat satu persatu dari teman-temanku meninggal tepat dihadapan ku, kau kira aku bahagia? Tentu saja tidak karena aku lah orang yang paling menyesal atas kepergian Linda, Fatur, Rama dan juga Emeli." ucap Allen dengan nada yang sendu membuat Mikaila langsung terdiam seketika.
Apa yang dikatakan Fatur mungkinlah berasal dari sudut pandanganya, namun jika kita berbalik dan melihat sudut pandang dari Allen. Semua mulai terbuka dengan lebar, tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi karena semua yang telah dilalui Mikaila, Arhan, Ebra dan juga Allen begitu berat dan juga terjadi secara bertubi-tubi.
"Jika ada yang harus disalahkan itu seharunya adalah aku Al, jika saja aku tidak dengan bodohnya maju begitu saja dan menawarkan diri pasti semua ini tidak akan terjadi." ucap Mikaila sambil mengusap pundak Allen secara perlahan.
Allen yang mendengarkan perkataan dari Mikaila barusan tentu saja terkejut, Allen yang merasa tidak tega kepada Mikaila tanpa sadar mulai melangkahkan kakinya dan membawa Mikaila ke dalam pelukannya, membuat Mikaila yang tidak bersiap lantas sedikit terkejut ketika tubuh Allen memeluknya dengan erat.
"Sebaiknya kita menatap ke arah depan dan memulai semuanya dari awal, kali ini melangkah lah dengan berhati-hati agar kamu tidak menyesal seperti ini." ucap Allen sambil menepuk punggung Mikaila dengan pelan.
__ADS_1
Mikaila yang mendapat perlakuan tersebut tentu saja merasa lebih tenang hingga menempatkan kepalanya lebih masuk lagi ke dalam dada bidang milik Allen.
"Terima kasih banyak" ucap Mikaila dengan lirih.
"Baiklah, sekarang biar aku mengantarmu menuju ke asrama agar kamu bisa segera beristirahat." ucap Allen sambil melepas pelukannya dan menatap ke arah Mikaila dengan tersenyum.
"Sudah tidak perlu, lagipula aku hanya tinggal berjalan menyusuri koridor ini dan sampai, kamu pergilah ke asrama mu kita berpisah sampai disini." ucap Mikaila sambil menunjuk ke arah ujung koridor.
"Apakah tidak sebaiknya..." ucap Allen hendak membantah namun gelengan kepala dari Mikaila lantas mengurungkan niatannya.
"Sampai bertemu besok di sekolah..." ucap Mikaila kemudian sambil melangkahkan kakinya berlalu pergi meninggalkan Allen yang masih menatapnya dengan tatapan yang tak percaya.
***
Kresek... kresek...
Suara gesekan dari sesuatu yang berada tidak jauh dari dirinya, lantas menghentikan langkah kaki Mikaila yang tengah menyusuri area koridor kelas. Sambil menatap ke arah sekeliling Mikaila mulai mencari sumber suara namun sayangnya ia tidak menemukan apapun di sana. Hingga kemudian Mikaila memutuskan untuk meneruskan langkah kakinya kembali dan mencoba mengacuhkan tentang suara tersebut.
"Mungkin hanya perasaan ku saja?" ucap Mikaila pada diri sendiri kemudian berlalu pergi dan kembali meneruskan langkah kakinya.
Tak tak tak
__ADS_1
Suara derap langkah kaki yang tiba-tiba saja terdengar lantas memudarkan senyuman di wajah Mikaila. Mikaila yang merasa diikuti lantas mulai menghentikan langkah kaki Mikaila dan langsung berbalik badan.
"Aku yakin ada yang mengikuti ku!" ucap Mikaila dalam hati sambil menatap ke arah sekeliling mencoba mencari tahu pemilik langkah kaki tersebut.
Mikaila yang mulai merasa ada yang salah, lantas mulai mempercepat langkah kakinya berharap ia bisa segera tiba di asrama putri dan terbebas dari suara derap langkah kaki yang mengikutinya. Mikaila terus melangkahkan kakinya dengan mengambil langkah setengah berlari berharap suara tersebut akan segera menghilang jika ia bergerak lebih cepat. Namun sayangnya semakin cepat Mikaila mengambil langkah kakinya semakin cepat pula suara langkah kaki yang mengikutinya, membuat Mikaila semakin dihantui rasa ketakutan dan juga khawatir akan suara derap langkah kaki tersebut.
Hingga ketika langkah kakinya sampai tepat di ujung tangga, sebuah tarikan tangan yang berasal dari seseorang lantas langsung menariknya dan membuatnya terjatuh hingga ke bawah tangga. Beruntung tangga tersebut tidaklah terlalu tinggi hanya beberapa pijakan saja sehingga tidak menimbulkan luka yang serius pada Mikaila. Hanya saja berhasil membuat Mikaila terkejut karena tarikan tersebut membuat Mikaila jatuh dari tangga.
"Aw..." pekik Mikaila sambil meringis.
"Jangan berisik Kai atau kamu akan tertangkap!" ucap sebuah suara yang lantas membuat Mikaila dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.
Mikaila yang melihat Rini tengah berada di kolong tangga sebelah kiri, lantas terlihat terkejut karena ternyata yang menariknya barusan adalah Rini. Rini yang tahu saat ini Mikaila sedang terkejut tanpa menjelaskannya terlebih dahulu lantas langsung menarik tangan Mikaila dan membawanya bersembunyi di balik kolong tangga. Sambil memberikan isyarat kepada Mikaila untuk diam, Rini terlihat tengah menatap serius ke arah koridor, membuat Mikaila yang tadinya hendak marah melihat Rini seperti itu, membuatnya lantas mengikuti arah pandangan Rini saat ini.
"Apakah ada sesuatu Rin dan bagaimana bisa kamu tiba-tiba ada di sini? Kamu mengikuti ku?" ucap Mikaila sambil menatap ke arah Rini dengan tatapan yang penasaran menunggu jawaban dari Rini.
"Ku bilang jangan berisik!" ucap Rini sambil melotot ke arah Mikaila karena kesal Mikaila terus saja menyerocos sedari tadi tanpa henti seakan mengacuhkan perintahnya.
"Baiklah... baiklah... aku akan diam." ucap Mikaila pada akhirnya setelah mendapat tatapan tajam dari Rini yang entah mengapa menurutnya terlihat sangat menyeramkan.
Hingga tak berapa lama, seorang pria berjubah hitam nampak melintas dan terlihat muncul pada koridor kelas dan menatap ke arah sekeliling seperti tengah mencari sesuatu, yang lantas membuat Mikaila sedikit tersentak ketika melihat sosok pria misterius itu.
__ADS_1
"Bukankah dia..."
Bersambung