No Exit

No Exit
Sosok dibalik bebatuan


__ADS_3

Ebra yang melihat Mikaila dan juga Allen jatuh ke dalam mulut gua, lantas mulai mengusap rambutnya dengan kasar. Ebra benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi disaat-saat seperti ini, Ebra bahkan sudah mencoba untuk meneriaki keduanya sedari tadi, namun tak ada jawaban apapun dari keduanya membuat Ebra semakin merasa khawatir akan keadaan keduanya yang tak kunjung terlihat juga.


Ebra yang tidak kunjung mendengar suara keduanya lantas memutuskan untuk masuk ke dalam gua. Ditekannya bagian sudut arloji yang ia kenakan dan tak lama muncul sebuah cahaya yang berasal dari arloji milik Ebra yang sudah ia modifikasi dan desain sendiri. Dengan langkah kaki yang perlahan tapi pasti Ebra mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gua untuk mencari keberadaan Allen dan juga Mikaila di dalam sana.


**


Suasana di bagian dalam gua terasa begitu gelap tanpa penerangan cahaya apapun selain yang berasal dari arloji miliknya. Beberapa kali Ebra bahkan terlihat menelan salivanya dengan kasar ketika Ebra mengarahkan cahaya pada arlojinya ke atas, Ebra mendapati beberapa kelelawar bergigi taring panjang tengah tertidur dengan posisi terbalik.


"Oke, yang perlu aku lakukan hanya cukup melangkah tanpa suara dan segera temukan keberadaan Allen dan juga Mikaila." ucap Ebra pada diri sendiri sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam gua tersebut.


Ebra yang tadinya berpikir bahwa Allen dan juga Mikaila jatuh tidak jauh dari mulut gua nyatanya semua itu salah, mengingat posisi tanah dari mulut gua dan semakin ke dalam merupakan posisi turunan, membuat Ebra yakin bahwa Allen dan juga Mikaila pasti jatuh cukup jauh ke bawah.


Ebra yang terus melangkahkan kakinya ke bagian bawah dalam gua, lantas terlihat berhenti ketika ia sampai pada dua cabang yang langsung membuatnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung harus mengambil cabang yang mana agar ia bisa bertemu dengan Allen dan juga Mikaila.


"Ah sial, mengapa harus ada cabang sih?" ucap Ebra pada diri sendiri sambil menatap ke arah dua cabang tersebut secara bergantian.


Ebra yang pusing harus mengambil arah yang mana, kemudian lantas dikejutkan dengan sebuah bayangan seperti sosok gadis yang tengah berdiri di sudut gua tepat di sebelah kedua cabang tersebut. Ebra yang melihat sosok itu tentu saja langsung jatuh dalam posisi terduduk, ingin rasanya Ebra lari keluar dari gue tersebut ketika ia bertemu dengan sosok gadis itu, namun kakinya yang mendadak kaku membuat Ebra sama sekali tidak bisa bergerak dari tempatnya.

__ADS_1


Ebra pasrah ditempatnya ketika sosok itu menatapnya dengan tatapan yang menelisik, hingga kemudian ketika tangan dari sosok tersebut menunjuk salah satu dari cabang jalan di hadapannya, membuat Ebra langsung tertegun seketika antara percaya dan tidak percaya bahwa ternyata sosok tersebut menunjukkan jalan kepadanya.


Dengan kaki yang masih gemetaran hebat Ebra mulai bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya menuju ke arah cabang jalan yang ditunjuk oleh sosok gadis itu, namun dengan posisi kepala yang menunduk karena ia sama sekali tidak ingin melihat penampakan dari sosok gadis tersebut.


Hihihihi....


Tawa sebuah suara yang lantas membuat Ebra dengan spontan terlihat mempercepat langkah kakinya menjauh dari tempat itu. Dalam hatinya Ebra kini bahkan selalu berdoa agar jangan sampai ia mengambil kesalahan dengan mengikuti petunjuk dari sosok gadis itu.


"Aku benar-benar gila... benar-benar sudah gila!" ucap Ebra pada diri sendiri sambil terus melangkahkan kakinya menjauh dari jalan persimpangan tadi.


"Allen... Mikaila... aku mencari kalian sedari tadi, apa yang kalian lakukan dengan melangkahkan kaki kalian semakin dalam ke arah gua?" ucap Ebra ketika melihat sumber cahaya tersebut berasal dari Mikaila dan juga Allen.


Mendengar suara cempreng dari Ebra yang datang dengan tiba-tiba lantas membuat Allen dan juga Mikaila menoleh ke arah belakang, namun detik berikutnya Mikaila memberikan isyarat kepada Ebra agar menutup mulutnya dan tidak menimbulkan suara yang berisik. Ebra yang melihat isyarat tersebut tentu saja menatap ke arah Mikaila dengan tatapan yang kebingungan sekaligus tidak mengerti akan maksud dari kode yang diberikan Mikaila kepadanya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Ebra namun kali ini dengan nada yang sedikit lirih mungkin lebih tepatnya berbisik, membuat Allen lantas menghela nafasnya dengan panjang ketika mendengar kembali pertanyaan dari Ebra barusan.


"Diam dan dengarkan, jangan terus bertanya kau mengganggu konsentrasi kita." ucap Allen dengan nada yang kesal ketika melihat Ebra terus-terusan bertanya dan juga berisik.

__ADS_1


Ebra yang mendengar omelan Allen lantas langsung terdiam seketika dan mencoba melakukan perintah Allen untuk mulai membuka pendengarannya sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri area gua. Hingga ketika Ebra yang menganggap bahwa apa yang dilakukan keduanya hanyalah semua bercandaan saja, tepat ketika Ebra seperti tengah mendengar suara rintihan yang semakin dekat, Ebra lantas terkejut seketika.


"Bukankah suara itu?" pekik Ebra yang lantas membuat Mikaila dan juga Allen menatap dengan tajam ke arah Ebra yang langsung membuat Ebra diam seketika dan menutup mulutnya.


"Sudah ku bilang untuk diam! Apa kamu tidak mengerti bahasa isyarat manusia?" ucap Mikaila dengan nada yang kesal.


"Maaf" ucap Ebra dengan nada yang singkat sambil langsung mengunci mulutnya agar tidak mengeluarkan suara lagi.


Ketiganya kemudian lantas melangkahkan kakinya mengikuti suara rintihan tersebut. Hingga ketika suara itu kian terdengar semakin dekat. Ebra mulai mengarahkan cahaya yang berasal dari arloji miliknya menyusuri setiap sudut gua untuk mencari sumber suara barusan. Hingga kemudian cahaya arloji milik Ebra lantas terhenti tepat di daerah bebatuan di mana di bagian bawahnya terdapat dua kaki yang menjulur keluar, membuat ketiganya lantas saling pandang satu sama lain ketika melihat pemandangan tersebut.


Mikaila dan juga Allen yang sudah penasaran akan asal suara rintihan tersebut, melihat ada kaki yang menjulur di balik bebatuan lantas langsung mempercepat langkah kakinya menuju ke arah bebatuan tersebut untuk melihat siapa pemilik kaki tersebut.


Ketika langkah kaki ketiganya berhenti tepat di depan bebatuan tersebut. Ebra perlahan-lahan mulai mengarahkan cahaya pada arloji milik Ebra ke arah bebatuan tersebut. Ketika cahaya dari arloji milik Ebra menyorot tepat di balik bebatuan tersebut, betapa terkejutnya mereka karena sosok yang berada di balik bebatuan adalah sosok yang tak asing bagi mereka.


"Bukankah dia..." ucap Ebra kemudian ketika melihat sosok pemilik kaki yang menjulur di balik bebatuan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2