No Exit

No Exit
Sebuah kebenaran


__ADS_3

"Apa-apaan ini?" pekik Reno ketika melihat ke luar jendela tidak ada siapapun di sana.


Melihat di luar tidak ada siapapun lantas membuat Reno berbalik badan dan menghampiri bawahannya. Sambil menatap ke arahnya dengan tatapan yang tajam Reno terdengar memberikan perintah di sana.


"Berpencar dan bunuh siapapun yang kalian temui, jika hal itu masih kurang aku ingin sebelum kedatangan pihak yang berwajib di tempat ini... Sekolah ini sudah harus rata menjadi tanah!" ucapnya dengan penuh penekanan.


Beberapa bawahan yang berada di kubu Reno mendengar perkataan dari Reno barusan, lantas membuat mereka mengangguk tanda mengerti kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Reno seorang diri di dalam ruangan tersebut.


"Sial!" ucapnya dengan nada yang kesal kemudian tak beberapa lama bergerak pergi meninggalkan ruangan tersebut.


***


Sementara itu Zaki yang sudah mengetahui dengan pasti akhir dari kisah ini, lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang guru membelah begitu banyak siswa yang terlihat berlarian hendak menyelamatkan diri dari kejaran Rahmat dan yang lainnya.


Dengan langkah kaki yang bergegas Zaki memasuki ruang guru dan mencari keberadaan seseorang di sana. Hingga kemudian pandangannya tertuju kepada Manda yang terlihat hanya terduduk diam tanpa melakukan apapun.


"Benar-benar gila dia ya... Disaat semua orang sedang sibuk menyelamatkan diri dia malah duduk dengan tenang di sana?" ucap Zaki sambil berkacak pinggang menatap ke arah dimana Manda berada.


Zaki yang benar-benar tak habis pikir akan kelakuan Manda yang hanya terduduk seperti itu, lantas melangkahkan kakinya dengan bergegas mendekat ke arah Manda dan langsung menarik tangan Manda dengan kuat. Membuat Manda yang sama sekali tidak mengetahui kehadiran Zaki di sana lantas terkejut ketika mendapat tarikan dengan tiba-tiba dari Zaki barusan.


"Apa kau sudah gila?" pekik Manda yang terkejut ketika Zaki menarik tangannya.

__ADS_1


"Kau yang sudah gila! Apa yang kau lakukan di sini seorang diri ketika semua orang sibuk menyelamatkan diri mereka masing-masing?" ucap Zaki tak mau kalah.


Mendengar perkataan Zaki barusan membuat Manda langsung terdiam dengan seketika. Dihempaskan nya tangan Zaki secara perlahan kemudian Manda mengambil posisi membelakangi Zaki sambil bersendekap dada.


"Apa urusannya dengan mu? Lagi pula ini pilihan ku sebaiknya kau pergi sekarang, bukankah kau dan Rahmat sama gilanya? Jadi apa lagi yang kau tunggu di sini sekarang? Pergi dan bunuh semua siswa kalau perlu aku sekalian!" ucap Manda kemudian dengan nada yang menantang membuat Zaki langsung terkejut seketika disaat mendengar perkataan Manda barusan.


Melihat semua kepercayaan Manda kepadanya telah menghilang, membuat Zaki lantas menarik tangan Manda dan membawanya dalam posisi yang berhadapan. Ditatapnya manik mata Manda dengan tatapan yang menelisik membuat Manda yang tidak tahan akan tatapan Zaki kepadanya lantas membuang muka ke arah samping.


"Lihatlah aku, aku melakukan semua ini hanya untuk mu!" ucap Zaki sambil membawa wajah Manda agar menatapnya lebih dekat lagi.


Manda yang mendengar jawaban dari Zaki barusan tentu saja terkejut bukan main, bagaimana bisa Zaki dengan entengnya mengatakan bahwa semua yang terjadi demi dirinya? Membuat manik mata Manda langsung membulat dengan seketika begitu mendengarnya keluar langsung dari mulut Zaki.


"Kau jangan bercanda dengan ku? Apa membunuh siswa di sekolah ini juga kau lakukan untukku? Cih kau benar-benar munafik!" ucap Manda dengan nada yang menyindir sambil menatap tajam ke arah Zaki.


"Kau..." ucap Manda namun tercekat karena ia sama sekali tidak tahu hendak mengatakan apa untuk menanggapi perkataan Zaki barusan.


"Iya aku tidak pernah membunuh mereka malah akulah yang menyelamatkan nyawa mereka, aku melakukan semua ini karena Viola mengancam akan membunuh mu jika aku tidak melakukannya. Maka dari itu aku memutar cara dan membuat seolah-olah beberapa siswa yang ku bunuh memang benar-benar telah mati." ucap Zaki menjelaskan.


"Apa itu sungguhan? Kau sedang tidak menipu ku bukan?" ucap Manda kembali bertanya seakan tidak langsung percaya akan ucapan dari Zaki barusan.


"Tentu saja, kau kira aku setega itu untuk membunuh mereka dan menjadikan mereka tumbal untuk anak psiko gila itu?" ucap Zaki dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut membuat Manda tersenyum dengan lega kemudian memeluk tubuh Zaki dengan erat. Manda kini bahkan benar-benar bersyukur ketika mengetahui bahwa perubahan sikap dan perkataan Zaki selama ini hanyalah sebuah kamuflase belakang.


Ketika keduanya tengah asyik menyalurkan perasaan mereka antara satu sama lain sebuah tembakan yang cukup keras terdengar menggema di luar ruang guru, membuat Zaki langsung dengan spontan melepas pelukan Manda yang begitu erat sedari tadi.


"Kita harus mencari tempat bersembunyi teraman atau Rahmat akan menghabisi kita!" ucap Zaki kemudian yang di balas Manda dengan anggukan kepala tanda mengerti.


Setelah keduanya mengetahui perasaan mereka masing-masing yang ternyata masih tetap sama. Baik Zaki dan juga Manda memutuskan untuk mulai bergerak secara perlahan dan mencari tempat bersembunyi yang aman. Sampai kemudian ketika langkah kaki keduanya hendak keluar dari tempat tersebut sebuah suara langkah kaki yang mendekat membuat Zaki langsung memutar haluan dan mengajak Manda bersembunyi di bawah kolong meja.


Tap tap tap


"Sisir area ini, aku yakin Zaki masih ada di sekitaran sini. Cari dia sampai ketemu dan bawa kehadapan ku!" ucap sebuah suara yang keduanya yakini pemilik suara tersebut adalah Rahmat.


Manda yang mendengar suara Rahmat barusan lantas tanpa sadar mencengkram dengan erat kemeja Zaki, membuat Zaki dengan spontan menoleh ke arah Manda kemudian tersenyum seakan mengatakan kepada Manda bahwa semua akan baik-baik saja lewat senyumannya.


"Tak perlu khawatir..." ucap Zaki tanpa suara membuat Manda yang melihat hal tersebut lantas langsung mengangguk.


Beberapa derap langkah kaki mulai terdengar menggema memenuhi ruangan tersebut. Zaki yang mendengar sebuah suara mendekat dari arah kanan lantas terlihat mengkode Manda untuk bergerak ke arah sebaliknya dengan perlahan.


Selama Rahmat masih berada di sana dan menyusuri area ruang guru mencari keberadaannya, Zaki menggunakan instingnya untuk menghindari beberapa orang yang tengah mencarinya. Sampai kemudian ketika ia dan Manda hampir saja bisa keluar dari sana sebuah percakapan yang mengejutkan keduanya lantas langsung menghentikan langkah kaki mereka berdua.


"Pak saya mendapat laporan jika bom sudah berhasil di pasang pada tujuh titik lokasi di Sekolah ini dan siap untuk di ledakkan kapan pun sesuai dengan perintah." ucap sebuah suara yang lantas mengejutkan Zaki dan juga Manda yang masih berada di sana.

__ADS_1


"Apa? Bom?"


Bersambung


__ADS_2