No Exit

No Exit
Selesai


__ADS_3

"Pak saya sudah menyetel waktu bom tersebut menjadi satu menit, sebentar lagi sekolah ini akan meledak." ucap sebuah suara yang terdengar menggema di telinga keduanya.


"Sialan!" ucap Rahmat dengan kesal.


Mendengar suara tersebut tanpa berpikir panjang membuat Rahmat lantas langsung menendang area bawah milik Zaki, membuat Zaki yang tidak bersiap akan tendangan tersebut lantas langsung terpelanting ke kanan cukup jauh. Zaki berguling selama beberapa kali mencoba menahan sakit di area aset negaranya. Sedangkan Rahmat malah langsung bangkit dari posisinya kemudian mulai bergerak mencari pintu menuju lorong bawah tanah tersebut.


Rahmat terus mencari dan mencari membuatnya beberapa kali terlihat menyibak meja dan kursi yang tidak terpakai di sana.


"Dimana pintu keluar itu? Mengapa sulit sekali menemukannya?" ucap Rahmat dengan nada yang begitu kesal.


Zaki yang melihat Rahmat hampir sampai ke area papan kayu yang menjadi pintu masuk menuju lorong bawah tanah lantas terlihat mulai bangkit secara perlahan. Zaki tidak bisa membiarkan Rahmat pergi dari sini melewati lorong tersebut. Sambil menahan rasa sakit di area aset negaranya, Zaki terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Rahmat berada dan langsung melompat di punggung Rahmat.


Rahmat yang tiba-tiba diloncati begitu saja tentu terkejut dan berusaha untuk membuat Zaki turun dari punggungnya.


"Apa yang kau lakukan ha? Turun sekarang juga!" pekik Rahmat sambil berusaha untuk membuat Zaki turun dari punggungnya.


"Tidak akan aku biarkan kamu pergi dan lolos begitu saja, apa yang telah kita perbuat kita juga lah yang harus bertanggung jawab. Kau harus ikut aku ke neraka untuk menebus segalanya!" ucap Zaki sambil tertawa dengan kencang seakan bahagia akan apa yang baru saja ia lakukan.


Rahmat yang mendengar perkataan dari Zaki barusan tentu saja kesal bukan main dan terus berusaha untuk membuat Zaki turun dari sana. Hanya saja waktu satu menit bukanlah waktu yang lama untuk Rahmat bisa terbebas dari Zaki yang menempel di punggungnya. Sampai kemudian sebuah ledakan yang besar terdengar mulai menggema di telinga keduanya dan detik berikutnya satu persatu mulai meledak dan menghancurkan seisi bangunan Sekolah tersebut beserta para penghuninya.


"Aku bahagia bisa menyelamatkan mu Manda, maafkan aku!" ucap Zaki sebelum pada akhirnya ikut terseret dalam ledakan tersebut dan membuat tubuhnya hancur berkeping-keping.


**


Sementara itu Manda, Ebra, Allen dan juga Mikaila yang baru saja keluar dari mulut gua lantas terkejut ketika mendengar suara ledakan yang begitu dahsyat hingga membuat tanah bergetar dan pada akhirnya menutup akses pintu masuk dan keluar gua tempat mereka baru saja keluar.


Manda yang mendengar suara tersebut langsung lemas seketika dan jatuh dalam posisi terduduk. Sedangkan Allen yang tadi menggantikan posisi Ebra menggendong Mikaila, perlahan-lahan mulai menurunkan tubuh Mikaila ke tanah.


Tatapan sendu dari keempatnya lantas terlihat dengan jelas di wajah mereka. Mikaila yang saat ini berwajah pucat nampak sangat sedih ketika memikirkan Friska dan teman-temannya yang lain ikut terkubur dalam ledakan dahsyat tersebut. Kemampuannya yang terbatas tidak bisa membuatnya menyelamatkan teman-temannya.


"Maafkan aku Fris... Maafkan aku teman-teman..." ucap Mikaila dalam hati sambil mengusap air matanya yang jatuh begitu saja membasahi pipinya.

__ADS_1


.


.


.


.


Setelah hampir satu jaman kesempatannya terdiam dalam posisi mereka masing-masing. Dengan mencoba meneguhkan hati dan pikiran mereka baik Manda, Mikaila, Ebra dan juga Allen memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sambil melangkahkan kakinya dengan tertatih keempatnya terus menyusuri area hutan di tengah suasana yang sudah gelap tanpa penerangan.


Senter yang diberikan oleh Zaki telah rusak tepat ketika ledakan itu terjadi sedangkan Smartwatch mereka bertiga juga sudah kehabisan daya, membuat keempatnya hanya bisa melangkahkan kaki mereka dengan insting dan juga kata hati mereka.


Sambil melangkahkan kakinya secara perlahan keempatnya terus mencari jalan keluar dari sana. Sampai kemudian sebuah cahaya yang terlihat dari kejauhan nampak mendekat ke arah mereka dengan kecepatan sedang. Membuat keempatnya lantas saling pandang antara satu sama lain seakan bertanya-tanya akan sumber dari cahaya itu berada.


Niu... niu... niu....


Suara sirine polisi mulai terdengar menggema di telinga mereka, membuat perasaan lega sekaligus haru begitu terlihat jelas pada wajah keempatnya.


Satu persatu mobil polisi mulai terlihat berdatangan dan mendekat ke arah mereka berempat, disaat beberapa mobil polisi nampak berhenti tepat di sebelah mereka seorang polisi yang menaiki mobil patroli paling depan lantas terlihat turun dari mobilnya dan mendekat ke arah mereka.


"Teman-teman kami semuanya tewas dalam ledakan bom pak, hanya kami berempat yang selamat." ucap Allen kemudian memberikan keterangan kepada petugas polisi tersebut.


Di saat mereka tengah sibuk memberikan keterangan kepada pihak kepolisian, seseorang nampak turun dari salah satu mobil di antara jajaran mobil patroli tersebut.


Danu yang tak sabar untuk melihat keadaan Mikaila, lantas langsung berlarian mendekat ke arah sebuah bayangan seseorang yang sangat ia rindukan dan juga khawatirkan selama beberapa hari ini.


"Mikaila..." teriak Danu yang yakin bahwa itu adalah putrinya.


Mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas membuat Mikaila langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Papa..." teriak Mikaila kemudian sambil berlarian mendekat ke arah Danu dan langsung memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Danu mendekap dengan erat tubuh Mikaila dan mencium beberapa kali kening Mikaila membuat tangis Mikaila tak kuasa pecah detik itu juga.


"Papa minta maaf sayang... Papa minta maaf...." ucap Danu secara berulang kali membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan langsung terenyuh akan interaksi ayah dan anak tersebut.


***


Satu tahun kemudian


Setelah kejadian tersebut selesai, semua kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Tepat di hari Mikaila dan yang lainnya di temukan keadaan Sekolahan sudah menyatu dengan tanah, sedangkan beberapa bagian potongan tubuh nampak berserakan dimana-mana. Kasus itu benar-benar menggemparkan seluruh dunia, membuat beberapa wartawan dan juga media asing berlomba-lomba untuk meliputnya dan mencari saksi hidup segala kejadian yang terjadi di lingkungan Sekolah. Hanya saja Danu yang memang seorang pengusaha sukses dan berpengaruh di Ibukota lantas membuat kasus itu tertutup dan terkubur begitu saja. Dengan bantuan orang tua Allen dan juga Ebra, para orang tua itu rela merogoh kocek yang fantastis untuk menutupi identitas putra dan putri mereka agar tidak terseret dalam pemberitaan.


Kini semua sudah kembali berjalan dengan normal baik Mikaila, Allen dan juga Ebra berusaha untuk bangkit dan tidak terpuruk dalam rasa bersalah yang mendalam. Hingga kini ketiganya bahkan masih saling berkomunikasi dan nongkrong bersama. Seperti saat ini Mikaila terlihat tengah mengendarai mobilnya menuju ke sebuah tempat untuk bertemu dengan Allen dan juga Ebra.


Mikaila yang mendapatkan lokasi Ebra dan juga Allen yang tengah berada di bengkel karena mobil Ebra rusak ketika ketiganya janjian untuk ketemu di suatu kafe.


Tin tin...


Mendengar suara bel di tekan beberapa kali membuat Ebra dan juga Allen langsung mendongak menatap ke arah sumber suara. Seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Ebra dan juga Allen begitu melihat Mikaila baru saja tiba untuk menjemput mereka. Sambil melangkahkan kakinya mendekat baik Allen maupun Ebra terlihat mulai masuk ke dalam mobil tersebut.


"Apa kalian berdua sudah menghubungi Arhan untuk ikut bergabung?" ucap Mikaila kemudian bertanya ketika melihat keduanya masuk ke dalam.


"Tentu saja" jawab Ebra dengan semangat.


"Baiklah kalau begitu kita langsung saja ke sana." ucap Mikaila kemudian sambil mulai melajukan mobilnya.


***


Cafe


Setelah memarkirkan mobilnya baik Mikaila, Allen dan juga Ebra terlihat mulai turun dan melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam Cafe tersebut. Dengan sesekali bersenda gurau ketiganya nampak asik terlibat dalam pembicaraan yang ringan. Sampai kemudian seseorang yang tak asing di ingatan mereka lantas mendadak menghentikan langkah kaki ketiganya. Membuat Allen, Mikaila dan Ebra langsung terkejut dengan seketika begitu melihat kehadiran dari orang tersebut.


"Lama tidak bertemu anak-anak..." ucap sebuah suara yang lantas membuat ketiganya terkejut dengan seketika.

__ADS_1


"Bu Viola!"


...The End...


__ADS_2