
"Apa kau sudah meminum obat yang aku berikan kepadamu?" tanya Zaki kemudian kepada Salsa sebelum memulai aksinya, membuat Ebra dan juga Mikaila langsung saling pandang satu sama lainnya.
Mendengar perkataan Zaki kepada Salsa barusan lantas membuat Ebra dan Mikaila yang semula hendak bangkit dan berusaha untuk menyelamatkan Salsa. Kemudian langsung terdiam di tempat dengan seketika, ada perasaan aneh yang mendadak menyeruak memenuhi hati keduanya ketika mendengar perkataan Zaki yang terdengar sangat ambigu itu. Di dalam kegelapan yang terjadi di ruangan tersebut terlihat Ebra dan juga Mikaila lantas saling pandang satu sama lain sambil terus mencerna perkataan yang keluar dari mulut Zaki kala itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Mikaila dengan nada suara yang berbisik ke arah Ebra saat ini.
Namun Ebra yang mendengar pertanyaan dari Mikaila barusan bukannya menjawab malah hanya menggeleng dengan cepat, membuat Mikaila lantas langsung menghela napasnya dengan panjang karena tidak mendapatkan jawaban akan pertanyaannya barusan. Sampai pada akhirnya ketika keduanya tengah sibuk menerka apa yang telah terjadi tanpa di duga-duga suara teriakan terdengar dengan jelas di telinga keduanya, membuat Ebra dan juga Mikaila langsung menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar teriakan tersebut.
"Aaaaa"
Crash....
Darah segar bermuncratan kemana-mana, walau keadaan begitu gelap namun keduanya yakin bahwa darah itu berasal dari Salsa. Mikaila yang melihat ia tidak bisa menyelamatkan Salsa lantas hendak bangkit dan berlari menuju ke arah keduanya, namun tangannya malah di tahan oleh Ebra. Membuat Mikaila tidak bisa menghampiri dan mendekat ke arah Salsa dan juga Zaki.
"Lepaskan aku!" ucap Mikaila dengan nada penuh penekanan namun setengah berbisik.
"Tidak akan!" ucap Ebra kemudian yang tak mau kalah.
Sampai kemudian sebuah suara pintu yang terbuka dari luar lantas mengejutkan Ebra dan juga Mikaila. Ebra menutup dengan erat mulut Mikaila dan memegangi tangannya agar tidak bisa lari kemana-mana. Tidak hanya Mikaila yang merasa gagal bahkan Ebra pun juga merasakan hal yang sama, namun apalah daya semuanya sudah terjadi dan tidak bisa diulang lagi membuat Mikaila dan juga Ebra hanya bisa terdiam di tempatnya.
__ADS_1
"Apa kau sudah menyelesaikannya?" tanya sebuah suara yang berasal dari Rahmat.
"Sudah, aku akan mengurus jasadnya kamu bersihkanlah tempat ini!" ucap Zaki kemudian dengan nada yang memberikan perintah.
"Baiklah kalau begitu sekarang cepatlah bergerak agar aku bisa segera pulang dan beristirahat." ucap Rahmat kemudian.
"Iya iya dasar cerewet!" ucap Zaki dengan nada yang kesal.
Setelah mengatakan hal tersebut Zaki kemudian langsung menggendong tubuh Salsa keluar dari perpustakaan, membuat Ebra langsung melepas tangannya yang menutup mulut Mikaila dengan erat. Diusapnya rambutnya dengan kasar ke arah belakang kemudian menatap kepada Mikaila. Ebra benar-benar tahu bahwa Mikaila tengah terkejut saat ini, tapi tidak ada yang bisa keduanya lakukan disini selain hanya melihat segalanya terjadi di depan mata kepala mereka.
"Ayo kita pergi dan mengikuti kemana Zaki membawa jasad Salsa sekarang." ajak Ebra kemudian yang lantas membuat Mikaila menoleh ke arah sumber suara.
Mendengar ajakan dari Ebra barusan membuat Mikaila langsung bangkit dengan perlahan dari posisinya tanpa mengatakan sepatah kata apapun kemudian mulai bergerak. Membuat Ebra yang melihat hal tersebut lantas langsung ikut bangkit dan melangkahkan kakinya tepat di belakang Mikaila yang saat ini menuju ke arah pintu belakang berusaha untuk mengejar langkah kaki Zaki yang membawa mayat Salsa.
Zaki membawa mayat Salsa melintasi lorong-lorong sekolahan diikuti dengan Ebra dan juga Mikaila yang berada di belakangnya sedari tadi dengan raut wajah yang lesu. Keduanya mengikuti langkah kaki Zaki secara perlahan dan juga tanpa pembicaraan sama sekali. Baik Mikaila maupun Ebra keduanya masih sama-sama terlihat terkejut akan kenyataan bahwa keduanya telah gagal menyelamatkan Salsa. Sampai kemudian ketika Zaki membawa tubuh Salsa melipir ke luar lingkungan Sekolah, membuat Mikaila dan juga Ebra langsung mengernyit dengan seketika. Ada perasaan aneh yang menghampiri diri Mikaila dan Ebra begitu mengetahui bahwa Zaki membawa tubuh Salsa keluar.
Bukan tanpa alasan atau apa hanya saja biasanya jika telah terjadi pembunuhan salah satu siswa di sekolah ini maka mayatnya akan di letakkan pada salah satu sudut di ruangan Sekolahan, sehingga seakan-akan memang disengaja untuk diketahui oleh siswa dan siswi sekolahan tersebut, namun mengapa kali ini berbeda?
"Apa yang terjadi? Mau dibawa kemana tubuh Salsa?" ucap Mikaila dalam hati bertanya-tanya.
__ADS_1
"Mungkinkah Zaki akan menguburkan jenasah Salsa di luar lingkungan Sekolahan?" ucap Ebra dalam hati bertanya-tanya ketika ia juga melihat segalanya terjadi di depan matanya.
Ketika keduanya sedang berada dalam posisi kebingungan, tanpa mereka berdua sadari sesosok seseorang yang mereka kenal lantas hampir menabrak keduanya ketika Ebra dan juga Mikaila sedang mengikuti langkah kaki Zaki. Baik Ebra maupun Mikaila yang tidak menyadari akan kehadiran sosok seseorang tersebut, hampir berteriak jika saja sosok tersebut tidak menahan keduanya untuk mengeluarkan suara.
"Ini aku..." ucap sosok tersebut yang ternyata adalah Allen.
"Allen!" ucap Ebra dan juga Mikaila secara bersama di dalam hati mereka.
Melihat Mikaila dan juga Ebra sudah mulai tenang dan sadar bahwa itu adalah dirinya, perlahan-lahan Alen mulai melepaskan kedua tangannya dari mulut Ebra dan juga Mikaila. Keheningan terjadi di antara ketiganya, Allen yang bisa menebak apa yang sedang terjadi saat ini lantas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Tanpa dijelaskan secara detail sekalipun Allen sudah bisa menebak jika Mikaila dan juga Ebra gagal menyelamatkan Salsa.
"Sudahlah tak perlu terlalu dipikirkan, kita juga sudah berusaha semampu kita, bukan? Aku tahu kalian menyesal namun ada hal lain yang harus kita selesaikan secara cepat, jadi aku harap kalian berdua tidak terus-terusan seperti ini." ucap Allen kemudian dengan nada yang lebih rendah karena Allen tahu baik Ebra maupun Mikaila keduanya pasti tengah terkejut saat ini.
"Kau tidak tahu apapun Al, tadi aku bahkan seharusnya bisa menyelamatkan Salsa jika Ebra tidak terus-terusan menghalangi ku!" ucap Mikaila kemudian yang langsung membuat Ebra menatap dengan tajam ke arahnya.
"Menyelamatkan? Yang kau lakukan tadi itu hendak menyerahkan diri bukan melakukan penyelamatan!" ucap Ebra yang tidak terima ketika mendengar perkataan dari Mikaila barusan.
"Tapikan aku..." ucap Mikaila hendak kembali protes namun perkataan mereka terpotong ketika mendengar sebuah suara kendaraan mendekat ke arah mereka.
Melihat sebuah mobil berhenti tidak jauh dari Zaki, lantas membuat ketiganya langsung saling pandang antara satu sama lainnya ketika melihat hal tersebut.
__ADS_1
"Mobil? Untuk apa?"
Bersambung