No Exit

No Exit
Kehilangan microchip?


__ADS_3

Sementara itu di kamar kos-kosan Arhan, terlihat Arhan tengah duduk termenung sambil menatap kosong ke arah depan. Pikirannya saat ini benar-benar kacau tepat setelah mendapat panggilan dari Ebra barusan. Arhan yang memang dalam posisi sudah kehilangan microchip tersebut, lantas hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut dengan kasar. Arhan bahkan saat ini tidak tahu harus mengatakan kepada Ebra dan juga teman-temannya dengan cara yang bagaimana, tidak mungkin bukan Arhan mengatakan jika microchip tersebut sudah hilang.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan kepada mereka tentang microchip tersebut? Tidak mungkin aku mengatakan jika aku menghilangkannya, bukan?" ucap Arhan dengan nada yang terdengar begitu frustasi sambil terus mengusap rambutnya dengan kasar karena tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.


Sampai kemudian disaat Arhan tengah berada dalam posisi kebingungan sebuah suara ketukan pintu yang berasal dari arah luar, lantas langsung membuyarkan segala lamunan Arhan dengan seketika. Arhan yang mendengar suara ketukan pintu tersebut lantas membuat Arhan kemudian menatap ke arah arlojinya yang saat ini sudah menunjukkan pukul 09.30 malam. Membuat Arhan menjadi bertanya-tanya akan siapa si pengetuk pintu kos-kosannya.


"Tamu? Tapi siapa? Malam-malam begini?" ucap Arhan sambil bertanya-tanya akan siapa tamu tersebut.


Arhan yang tak ingin menyia-nyiakan waktunya lagi kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu utama untuk melihat siapa tamu yang datang mengunjunginya malam ini. Ketika langkah kaki Arhan berhenti tepat di depan pintu ruang tamu kemudian mulai ia buka, Arhan yang melihat seseorang yang tak asing di pandangannya lantas langsung menatap dengan tatapan yang mengernyit ke arahnya. Seakan terkejut sekaligus bertanya-tanya akan kehadiran pria itu saat ini.


"Rian? Tumben, ada apa? Bukankah harusnya kamu balik minggu depan?" ucap Arhan kemudian begitu melihat Rian tengah berdiri tepat dihadapannya saat ini.


"Ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadamu, aku benar-benar kepikiran begitu mendapat laporan bahwa kamu sampai menunggu di depan ruko laundry. Apa benda itu sangat begitu penting bagimu Ar?" ucap Rian kemudian sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mengambil duduk di kursi ruang tamu.


Arhan yang semula todak tahu akan arah pembicaraan dari Rian, begitu mendengar tentang microchip lantas membuat tatapan Arhan berubah dengan seketika. Arhan yang sedari tadi sudah frustasi dan pasrah karena kehilangan microchip tersebut lantas menjadi sumringah dan tentu saja cerah ketika mendengarnya dari Rian barusan yang mengatakan pembahasan tentang microchip tersebut.


"Tentu saja penting, jadi dimana microchip tersebut? Mengapa aku tidak bisa menemukannya dimanapun juga?" ucap Arhan kemudian dengan raut wajah yang penasaran seakan tidak sabar menanti jawaban dari Rian akan keberadaan microchip tersebut.


Mendengarkan perkataan dari Arhan barusan membuat Rian lantas menghela napasnya dengan panjang. Tanpa menjawab pertanyaan dari Arhan terlebih dahulu Rian kemudian terlihat seperti mengambil sesuatu di dalam tasnya, membuat Arhan yang memperhatikan setiap gerak-gerik dari Rian, lantas menatapnya dengan tatapan yang bertanya akan apa yang sebenarnya tengah dilakukan oleh Rian saat ini. Sampai beberapa detik kemudian Rian terlihat mengeluarkan sebuah plastik berukuran kecil dimana di dalamnya terdapat microchip yang tak asing di penglihatan Arhan.

__ADS_1


"Bukankah ini yang kamu cari?" tanya Rian kemudian yang lantas membuat raut wajah Arhan berubah dengan seketika.


Arhan yang tahu benda apa yang saat ini sedang dipegang oleh Rian, lantas dengan spontan mengambilnya untuk melihat apakah itu benar-benar benda yang ia cari atau bukan.


"Kau dapat dari mana benda ini? Bukankah kau mengatakan jika celana ku waktu itu kau cuci? Lalu bagaimana bisa?" tanya Arhan kemudian dengan raut wajah yang bingung namun malah membuat Rian tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Membuat Arhan yang melihat hal tersebut langsung menatap ke arah Rian dengan tatapan yang bingung sekaligus bertanya-tanya.


"Waktu itu aku sudah ingin mengatakannya kepada mu bahwa aku tak sengaja membawa benda ini bersama ku, namun saat itu kau sudah terlanjur mematikan panggilan mu jadi ya begitu deh..." ucap Rian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan tersenyum seperti orang bodoh.


"Tapi mengapa kau tidak mengabari ku?" tanya Arhan seakan masih merasa aneh dengan jawaban dari Rian barusan.


"Karena aku sedang mengadakan camping di gunung jadi sinyal di sana susah mangkanya aku tidak bisa menghubungi mu balik." ucap Rian kemudian menjelaskan kendalanya.


"Masalah apa?" tanya Rian dengan raut wajah yang penasaran namun hanya dibalas Arhan dengan senyuman, membuat Rian lantas menjadi penasaran akan masalah apa yang baru saja diucapkan oleh Arhan.


***


Kantin


Setelah menyelesaikan kelasnya masing-masing baik Ebra, Allen dan Mikaila memutuskan berkumpul di kantin untuk makan sekaligus berbincang masalah fakta demi fakta yang mereka temukan beberapa hari ke belakang. Sambil memakan pesanan mereka masing-masing Allen nampak sedikit mendekatkan tubuhnya sambil menatap ke arah kanan dan kiri sebelum memulai pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Apa kau sudah melakukan dan merekapnya menjadi sebuah vidio?" tanya Allen kemudian yang lantas membuat Ebra menghentikan gerakan tangannya yang sibuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Sudah 80 persen tinggal menyatukannya dengan vidio yang tersimpan pada microchip yang kita berikan kepada Arhan waktu itu." jawab Ebra dengan nada setengah berbisik.


"Lalu bagaimana dengan Arhan? Apa kau sudah menghubunginya?" tanya Mikaila kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Aku memang sudah menghubunginya tapi aku tidak terlalu yakin karena respon Arhan menurut ku sedikit mencurigakan." ucap Ebra sambil mengingat-ingat tingkah Ebra ketika ia membahas masalah microchip tersebut kemarin.


Mendengar perkataan Ebra barusan membuat Allen dan juga Mikaila lantas saling pandang antara satu sama lain. Mereka bahkan baru mengetahui hal ini dari Ebra, jika sampai firasat Ebra tentang Arhan benar maka rencana mereka tidak akan bisa sempurna jika tanpa vidio tersebut.


"Lalu bagaimana?" tanya Allen kemudian dengan raut wajah yang penasaran begitu pula dengan Mikaila.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu Arhan untuk jujur, lagi pila kita masih punya waktu untuk besok, bukan? Jadi semoga saja Arhan punya solusinya jika memang microchip tersebut tidak ada pada dirinya.


"Apa kau yakin Arhan akan bertanggung jawab akan hal tersebut?" tanya Mikaila kemudian yang seakan tidak percaya begitu saja akan perkataan Ebra barusan yang mengatakan bahwa Arhan pasti akan memberikan solusi yang lain jika memang microchip tersebut tidak ada pada dirinya.


"Kita lihat saja." ucap Ebra dengan raut wajah yang yakin.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2